Kamis, 27 April 2017

Peran Penting Guru di Sekolah Muhammadiyah

 

Guru menurut bahasa Arab disebut ustadzun,  kata ustadzun bila dirunut sampai kepada tugas yang sangat mulia. Karena  ia sebagai penyampai atau disebut juga dengan muballigh, walaupun dalam istilah bahasa arab yang lain kadang juga disebut mudarris, yang artinya penyampai pelajaran. Dan sudah familier di masyarakat luas ulama yang biasa memberikan kajian pun disebut ustadz. Disinilah letak peran pentingnya seorang guru.

Guru adalah pekerjaan mulia dan termuliakan, sampai dalam sebuah riwayat kalau prioritas bagi seorang yang masuk ke dalam komunitas yang mendapat penghargaan tersendiri di hadapan sang Kholiq Allah di padang mahsyar kelak adalah  guru. Pantas saja seorang guru bukan sekedar lihai dalam menyampaikan materi, mentransfer knowledge tapi juga menjadi pendamping, pembimbing dan penyampai kebaikan sampai murid-muridnya menjadi berkarakter mulia yang akhirnya kelak dari sekolah itu lahir generasi hebat dan menjadi bagian dari peradaban mulia. Demikianlah tugas mulia seorang guru.  

Namun pekerjaan yang sangat mulia itu masih belum disadari oleh seorang guru. Tugas yang masih dijalankan belum meningkat sampai pada tahap bernilai ibadah plus. Masih datar-datar saja, monoton irama pekerjaannya. Pergi dan pulang mendapatkan imbalan sesuai sesuai jam mengajarnya, sesuai dengan pekerjaannya. Jadi impas tidak ada nilai lebih. Bila seorang guru mengajar dengan orientasi pas-pasan atau cukupan seperti itu, hampir bisa dipastikan hasilnya hanya apa yang ia terima. Ia tidak akan mendapatkan lebih dari itu, kebahagiaan, keberkahan, ketenangan dan kecukupan. Nah, agar seorang guru mendapatkan nilai lebih selain yang ia terima secara materi yaitu berupa non material maka mengajarlah dengan niat beribadah. Bukan cuma itu tetapi dengan beribadah plus.    

Beribadah plus maksudnya adalah niat mengajarnya ia niatkan dengan tulus mendapatkan keridhoan dari Allah sehingga ia memberi lebih dari yang ia terima atau ia dapatkan. Kalau  seorang guru sebatas menjalankan tugas sesuai dengan petunjuk, itu standar minimal dan biasa-biasa saja. Setelah itu tidak ada nilai tambah. Nilai tambah itu yang saya maksudkan dengan ketulusan ibadah. Ketika seorang guru mampu memberikan plus ia akan merasakan kebahagiaan tersendiri, sebagaimana seseorang yang sudah merasakan kebiasaan bersedekah ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan karena memberi sedekah.

Maka sungguh sangat berat sebenarnya tugas seorang guru, tidak sekedar mempunyai multi kecerdasan atau mempunyai kemampuan ekstraordinary yaitu kemampuan manusia di luar kebiasaan. Namun lebih dari itu, motivasinya, inovasinya, akselerasinya sangat nampak terlihat dalam kehidupan sehari-hari bersama-sama dengan anak didiknya dan hasilnya sangat bisa dirasakan atmosper karakter yang dibangun oleh guru. Guru pun sangat dekat dengan murid-muridnya, sampai persoalan pribadinya ia sampaikan kepada gurunya. Karena gurunya juga berperan sebagai orang tuanya di sekolah.        

Kondisi generasi muda yang didominasi dengan sifat negative seperti cenderung destruktif, menerabas, glamour, kurang sabar adalah kondisi yang sangat riskan. Sebenarnya bisa terselesaikan persoalan-persoalan ini lewat sekolah. Karena sekolahlah lembaga formal yang dapat secara mudah menemukan persoalan kecil sampai besar yang dialami oleh anak-anak didik. Anak didik cenderung mengikuti apa yang menjadi aturan positif di sekolahnya.    

 Di dalam  membangun negeri ini sungguh membutuhkan energi besar khususnya diawali dari generasi  emasnya. Demoralisasi generasi muda disinyalir disebabkan oleh karakter seorang guru yang salah orientasi, salah arah, salah tujuan. Persoalan guru saat ini menjadi permasalahan serius bangsa.

Karakter bangsa bisa dilihat dari bagaimana karakter guru-gurunya. Bagaimana karakter guru-guru di negeri kita ini? Mulai dari dikejar target materi dan administrasi sampai padatnya kegiatan belajar murid karena begitu banyaknya materi pelajaran yang harus dikuasainya. Menjadi salah satu sebab masih jauhnya ketercapaian menjadikannya manusia berperadaban mulia.

Menjadi guru di sekolah Muhammadiyah adalah guru yang ideal, ia mempunyai multi peran, suatu saat guru Muhammadiyah harus mampu berperan menjadi orang tua yang pintar memberikan support dan sisi lain harus mampu menasehati, di saat yang bersamaan guru Muhammadiyah pun siap menjadi pendamping dalam setiap keadaan, teman diskusi dan bermain dan ustadz yang selalu memberikan bimbingan dalam urusan agama.

Seakan kita merasa cukup manakala generasi emas Indonesia ditangani secara serius oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah dan pemangku amanahnya adalah sosok-sosok guru yang berperan ideal. Walluhul musta’an.

 

------------------------

*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan sebagai Kepala SD Muhammadiyah Kriyan Jepara dan menjadi Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *