Minggu, 27 Mei 2018

Pendidikan Berkemajuan: Konsep Pemikiran KH Ahmad Dahlan dalam Menghadapi Era Multidigital

Oleh:

Nuur Wachid Abdul Majid

(Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron)

Muhammadiyah menjadi organisasi dengan amal usaha terbesar di Indonesia. Pilar gerakan Muhammadiyah adalah pendidikan dan kesehatan, sehingga kedua area tersebut menjadi titik utama pembangunan dan media dakwah Persyarikatan. Tidak heran apabila Muhamadiyah memiliki ribuan sekolah, rumah sakit, dan ratusan perguruan tinggi. Walaupun pada hakikatnya, Muhammadiyah juga tetap mengamalkan gerakan Al-Ma’un yang di gagas oleh K.H Ahmad Dahlan dengan mendirikan ribuan Panti Asuhan untuk membantu kaum mustad’afin dan ribuan Pondok pesantren, baik yang bercorak tradisional maupun boarding sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai keagamaan.

Gerakan Muhammadiyah semakin berkembang seiring berkembangnya waktu dan telah melahirkan tokoh-tokoh hebat yang turut andil dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh hasil didikan Persyarikatan juga berperan dalam mempertahankan falsafah pemikiran K.H Ahmad Dahlan dalam konsep dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang bercorak pembaharuan atau tajdid. Gerakan Tajdid menjadi bagian dari semangat dakwah para aktivis Muhammadiyah, pembaharu dalam hal pemikiran, fleksibel dalam perubahan, namun tetap kritis untuk kembali pada ajaran Islam yang murni.

Konsep dakwah K.H Ahmad Dahlan lebih bersifat praktis, yaitu lebih banyak menghasilkan karya nyata daripada gagasan berupa tulisan. Hal ini terbukti jejak karya K.H Ahmad Dahlan yang bersifat kitab jauh lebih sedikit daripada karya berupa amal usaha. Jejak karya tersebut membuat para peneliti untuk menilai bahwa K.H Ahmad Dahlan sebagai seorang pragmatis. K.H Ahmad Dahlan bukan lah seorang teoritikus dalam bidang agama, lebih bersifat pragmatikus yang sering menekankan semboyan pada murid-muridnya untuk sedikit bicara  banyak bekerja (Steenbrink, 1994). Semboyan inilah yang melahirkan berbagai karya nyata di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan mustad’afin¸ dan pesantren.

K.H Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah sebagai wadah untuk mencurahkan segala pemikiran dan mengimplementasikannya. Hoofd Bestuur Muhammadiyah sebagai wadah gerakan yang legal di mata pemerintahan saat itu (Kolonial Belanda) agar segala gerakan yang di lakukan dapat diakui dan di bawah organisasi resmi. K.H Ahmad Dahlan juga membentuk beberapa bidang dan melantik pengurusnnya sebagai upaya untuk mendukung pergerakan Persyarikatan. Pada tanggal 18 Juni 1920, K.H Ahmad Dahlan melantik beberapa pengurus, yaitu: (1) Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Sekolahan, ketua: H.M. Hisyam; (2) Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Tabligh, ketua: H.M. Fakhrudin; (3) Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem, ketua; H.M. Sjoedja’; dan (4) Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Taman Pustaka, ketua: H.M. Mokhtar (Majelis Pustaka Informasi, 2015).

Telaah konsep pemikiran pendidikan K.H. Ahmad Dahlan memerlukan kaitan dari berbagai sumber referensi. Pendidikan berkemajuan menjadi semboyan utama dalam menjalankan roda pengkaderan dan pentransferan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Setidaknya K.H Ahmad Dahlan telah mewariskan gerakan berkemajuan untuk disebar luaskan kepada masyarakat di Nusantara ini.

Proses adopsi pendidikan oleh K.H Ahmad Dahlan yang bercorak modern, namun tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan merupakan hal yang sangat penting. Tujuan pendidikan yang di terapkan oleh Kiyai Dahlan adalah agar masyarakat pribumi mendapatkan pendidikan yang layak seperti kaum bangsawan pada umumnya. Masyarakat harus mendapatkan ilmu-ilmu pengetahuan umum agar dapat membaca dunia secara kaffah atau seutuhnya. Selain itu, masyarakat tetap mengamalkan nilai Islam di kehidupan sehari-hari. KH Dahlan juga memiliki kemampuan untuk mengetahui arah kiblat, sehingga pada suatu saat beliau mengemukakan pendapat untuk meluruskan arah kiblat di Masjid Gedhe Kauman, walaupun pada kenyataannya mendapatkan pertentangan oleh para pemuka agama. Gerakan ini yang juga disebut sebagai pembaharuan atau tajdid sebagai bagian dari meluruskan hal-hal yang berkaitan dengan segala aspek.

Konsep dakwah K.H Ahmad Dahlan adalah pembaharu dalam segala hal, khususnya pada sudut pandang masyarakat tentang pendidikan, sosial, dan agama. Pada ranah agama, K.H Ahmad Dahlan mencoba mengaplikasikan pemikiran Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rosyid Ridha saat berada di Arab Saudi. Muhammad Darwis, nama kecil dari Ahmad Dahlan, mengenal ajaran salaf dari buah karangan Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Ibnu Taimiyah, Majalah Al Urwatul Wutsqo yang dipimpin oleh Syaikh Jamaluddin Al Afghani, dan Tafsir Al Mannar yang dibukukan oleh Syaikh Rosyid Ridho, salah satu murid Syaikh Muhammad Abduh (Majid, 2017). K.H Ahmad Dahlan mencoba melakukan gerakan untuk memgembalikan kepada ajaran Islam yang murni, yang disebut sebagai gerakan purifikasi atau puritanisme. Gerakan puritanisme merupakan bagian dari kebangkitan Islam yang bertujuan untuk memperbaharui cara berfikir dan cara hidup umat Islam (Stoddard, 1922).

K.H Ahmad Dahlan mewariskan metode dakwah sebagai pembaharu atau tajdidiyah dan tetap berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah. Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah Salafiyah dan Tajdidiyah dengan berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak terikat dengan aliran teologis, madzhab fiqh dan tariqah shufiyah mana pun (Ilyas, 2017). Muhammadiyah berusaha menyelesaikannya melalui proses triadik/hermeneutis (hubungan kritis/komunikatif-dialogis) antara normativitas din (al-ruju’ ila al-Qur'an wa as-Sunnah al-Maqbullah), historisitas berbagai penafsiran atas din, realitas kekinian dan prediksi masa depan (Majelis Tarjih dan Tajdid, 2000). Dengan demikian konsep Tajdid yaitu memperbaharui konsep pemikiran agama yang sudah jauh dari Al-Qur’an dan Assunah, serta pembaharuan dalam bidang di luar keagamaan.

Konsep pemikiran K.H Dahlan yang berkaitan dengan muammalah tetap mengedepankan fleksibilitas untuk berkembang. Pada bidang pendidikan, K.H Ahmad Dahlan lebih menitikberatkan pada nilai progresif dan tidak terlalu kaku dalam memberikan pengajaran. Konsep progresif yang dibawakan oleh K.H Ahmad Dahlan berbeda dengan konsep John Dewey, walaupun terdapat kesamaan pada keduanya. Kesamaan pemikiran tersebut tercermin pada ketiga kunci pendidikan versi Ahmad Dahlan dan John Dewey, yaitu: pengamalan, akal, dan berkemajuan. Berikut adalah tabel perbandingana ketiga konsep pemikiran pendidikan kedua tokoh tersebut.

Tabel 1. Konsep kunci pendidikan Ahmad Dahlan dan John Dewey

No

K.H Ahmad Dahlan

John Dewey

1

Akal

Intelligence

2

Pengamalan

Experience

3

Berkemajuan

Progress

 

Sumber: (Ali et al., 2016)

Dengan demikian, konsep pendidikan berkemajuan yang digagas oleh K.H Ahmad Dahlan merupakan bagian dari fleksibilitas terhadap perubahan zaman, mampu menghadapi persaingan global, dan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari konsep pendidikan. Progresivisme dan religious menjadi paduan yang menarik dan konsep tepat untuk menghadapi era multidigital. Progresivisme berarti mampu bersaing dan menerima segala macam ilmu untuk kemajuan, serta religious berarti mempertahankan nilai-nilai agama dan kebudayaan pada diri seseorang. Sehingga tidak heran apabila orang-orang yang berkemajuan berarti mampu menjadi creator pada berbagai aspek, namun tetap memilikiki karakter dan keimanan pada dirinya.

Referensi:

Ali, M., Kuntoro, S. A., & Sutrisno. (2016). Pendidikan Berkemajuan: Refleksi Praksis Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi, 4(1), 43–58. Retrieved from http://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa

Ilyas, Y. (2017). Paham Agama dalam Muhammadiyah: Salaf dan tajdid. Pengajian Ramadhan 1438 H Pimpinan pusat Muhammadiyah.

Majelis Tarjih dan Tajdid. (2000). Keputusan Musyawarah Nasional XXV Tarjih Muhammadiyah, Tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. In A. Abdullah & O. Fathurrohman (Eds.). Jakarta. Retrieved from http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-fatwa-putusan-wacana-tarjih-25.html

Majid, N. W. A. (2017). Kebangkitan Islam untuk Indonesia Berkemajuan: Perspektif Historis dan Reaktualisasi Gerakan Islam yang Berkemajuan. Majalah Ta’aruf Angkatan Muda Muhammadiyah Mantrijeron, Yogyakarta, 10–16.

Steenbrink, K. A. (1994). Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES.

Stoddard, L. (1922). The New World of Islam. (A. Abdullah & O. Fathurohman, Eds.). London: Chapman and Hall, Ltd. Retrieved from http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-fatwa-putusan-wacana-tarjih-25.html

 

**Nuur Wachid Abdul Majid

Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Ketua Bidang Riset dan Advokasi, Angakatan Muda Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia

** Tulisan di atas sebagian besar di ambil dari makalah yang dipresentasikan pada Seminar Nasional di Universitas Muhammadiyah Cirebon, sabtu 21 April 2018.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *