Jum'at, 07 Agustus 2020

Obat Pun Bisa Kalah

 

Oleh : Irvan Shaifullah

Mahasiswa Ners Stikes Muh Lamongan, Alumnus dan pengajar di Panti dan Ponpes Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

 

 

Dalam pandangan Al Qur’an, manusia dibentuk dengan tiga unsur. Ketiga unsur tersebut meliputi, badan (jasad), nyawa (nafs) dan roh (ruh). Manusia belum bisa dikatakan sempurna, apabila hanya terdiri  dari jasad dan nyawa. Ketika berumur 120 hari, roh sebagai unsur ketiga (khalqan akhar) “diinstal” ke dalam diri manusia. Unsur ketiga ini yang membuat manusia disebut sebagai makhluk final, sehingga manusia menjadi makhluk biologis sekaligus spiritual. Dengannya, manusia mempunyai akses dua dunia yang berbeda, fisika dan metafisika, lahir dan batin.

Selama ini, pembinaan kesehatan manusia dan masyarakat sering kali mengarah hanya pada pemenuhan kebutuhan fisik saja dan hampir mengabaikan kebutuhan spiritualnya.  Indikator dan kriteria kesehatan masyarakat banyak mengadopsi dari negara negara Barat, yang secara latar belakang sangat jauh nilainya dengan budaya Ketimuran.  Pendidikan kesehatan ala barat ‘merajai ‘semua konsep kesehatan masyarakat, sebaliknya konsep kesehatan masyarakat yang ditawarkan oleh agama dan budaya lokal tersisih dan cenderung tidak diakui.

Andai saja, keseluruhan ajaran agama islam diterapkan secara konsisten di masyarakat, secara berkala dan alamiah kesehatan masyarakat akan membaik. Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA menulis dalam bukunya Islam Fungsional (2014), nilai ajaran yang terkandung di dalam rukun iman dan rukun islam, jika dipegang secara konsisten, maka sesungguhnya bukan hanya menjadikan seseorang menjadi sholeh, tetapi juga akan melahirkan apa yang disebut Al Qur’an dengan umat ideal (khaira ummah). Konsep khaira ummah dalam Al Qur’an sesungguhnya adalah masyarakat sehat itu sendiri. Kriteria khaira ummah antara lain adanya suatu masyarakat yang senantiasa menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Umat ideal tentu tak terlepas dari adanya kesehatan holistik di dalam masyarakat. Tumbuhnya generasi yang cerdas dan bergizi, senantiasa memperhatikan secara khusus aspek kebersihan yang dikatakan dalam hadis sebagai separuh dari iman ( Al – thaharatu nishfu al-iman). Hampir bisa kita pastikan, dalam setiap kitab kitab standar keilmuan islam, bab pertamanya adalah bab kebersihan. Secara otomatis bahwa memang agama sejalan dengan visi misi kesehatan bahwa kebersihan pangkal kesehatan.

Diantara persepsi masyarakat kita, banyak yang menganggap bahwa memang obat menjadi jalan satu satunya untuk menuju sehat. Padahal agama datang menjadi bagian terpenting dalam menjaga dan mengontrol kesehatan pemeluknya. Kemudian ada pertanyaan, bagaimana kiat supaya  tetap sehat tanpa perlu mengkonsumsi obat? Dr. Handrawan Nadesul dalam bukunya Obat Bisa Salah (2014) menjawab bahwa penyakit apapun yang kita derita pada dasarnya dapat disikapi dengan baik tanpa intervensi obat. Menyikapi penyakit  dengan non pharmaca seperti ini dianggap bijak karena sejatinya tubuh kita punya mekanisme otomatis untuk menyeimbangkan kembali setiap kali ada yang menjadikannya tidak seimbang. Hal itu dalam dunia kesehatan disebut dengan homeostasis.

Terlepas dari jawaban bahwa agama seharusnya menjadi “obat yang baik” untuk pemeluknya tanpa mengesampingkan peran medis. Keseimbangan dalam mengkolaborasikan agama dan tindakan medis sebagai obat dicontohkan oleh Baroreceptor  yang berada di pembuluh darah batang leher yang senantiasa mengatur tensi darah kita. Apabila suatu saat tensi darah kita sedang menurun, disinilah peran baroreceptor untuk membuatnya tinggi, menjadikannya tetap normal dan diterima oleh tubuh kita. Begitu juga sebaliknya, saat tensi darah sedang meninggi, baroreceptor akan membuatnya seimbang dengan menurunkannya.

Muntah dan diare juga salah satu mekanisme tubuh dalam menyeimbangkan tubuh. Muntah dan diare adalah mekanisme penolakan saluran pencernaan terhadap makanan dan minuman yang tak cocok, rusak, atau mengandung bakteri dan penyakit. Batuk juga bagian dari mekanisme tubuh untuk menghalau sesuatu yang bersifat menggangu, merangsang atau memasuki saluran pernapasan, agar paru paru kita bebas dari pencemaran bahaya yang dapat merusaknya. Ginjal dengan tiga peran pentingnya salah satunya juga untuk menyeimbangkan jumlah cairan yang masuk dengan yang perlu dibuang melalui urine, agar cairan tubuh menjadi seimbang. Rasa kantuk yang menyerang sebelum atau sesudah terkena flu atau penyakit yang lain juga bagian dari mekanisme tubuh kita untuk mengingkatkan daya tahan tubuh. Dengan cara itu, tubuh menyelamatkan diri dari berbagai macam serangan penyakit.

Hikmahnya, keseimbangan dalam tubuh juga harus kita terapkan ketika sakit. Bukan hanya sisi medis yang harus diobati, tetapi juga mungkin kita harus instrospeksi bahwa ada sebagian atau seluruhnya perintah agama yang kita tinggalkan dan membuat tubuh kita merasakan sesuatu yang kita sebut dengan “sakit”. Dalam mengobati penyakit, baik penderita maupun tenaga medis sudah selayaknya harus mampu menyeimbangkan peran agama dan obat.Obat pun bisa kalah, jika kita menjalankan agama dengan baik sebagai penyeimbangnya. Semoga kita semakin bijak dalam bersikap.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *