Jum'at, 27 April 2018

Muhammadiyah dalam Misi Dakwah dan Tajdid Abad Kedua

 

Oleh : Irvan Shaifullah

(Pengasuh di PA PP Al Mizan Lamongan dan Pimred Darul Aitam)

Kata Pengantar Haedar Nashir dalam bukunya memahami ideologi Muhammadiyah (2017) terbitan Suara Muhammadiyah menuliskan gejala gejala yang masih tumbuh di lingkungan Muhammadiyah. Sebagian anggota, kader, dan pimpinan ketika menjelaskan Muhammadiyah hanya sebagai gerakan dakwah dan jarang  menyebut gerakan tajdid, padahal  terang benderang dalam pasal Anggaran Dasar tentang identitas disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid.

Bahkan disebutkan Haedar, banyak sebagian kalangan yang hanya menekankan misi pemurnian (purifikasi, tandhif) dari Muhammadiyah, dengan melupakan atau mengabaikan misi pembaruan (tajdid, dinamisasi).

Pilar Tajdid Muhammadiyah Abad Kedua

Haedar Nashir (2010) menyebut, Muhammadiyah pada abad kedua menghadapi tantangan yang tidak ringan. Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa berada pada pusaran dinamika globalisasi yang membawa ideologi kapitalisme dan neoliberalisme global. Oleh karena itu, Muhammadiyah perlu mengukuhkan diri sebagai gerakan tajdid sebagai ruh persyarikatan sejak pertama berdiri.

Dalam penyataan pikiran Muhammadiyah Abad Kedua terkandung pikiran pikiran mendasar tentang refleksi perjuangan gerakan islam ini selama satu abad sejak kelahiranya, pandangan keislaman, wawasan kebangsaan dan kemanusiaan serta agenda gerakan Muhammadiyah.

Pada penyataan pikiran tersebut secara resmi dirumuskan Pandangan Keislaman Muhammadiyah yaitu islam yang berkemajuan, yang sangat mendasar dan berwawasan luas dan harus menjadi alam pikiran setiap anggota Muhammadiyah, lebih lebih aktivis, kader dan pimpinan Muhammadiyah.

Pada pandangan lainnya tentang wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengandung isi tentang pandangan kebangsaan Muhammadiyah menegaskan komitmen tentang NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1995 serta konsisten dalam mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan. Wawasan kemanusiaan, Muhammadiyah mengambil peran dalam menegaskan pandangannya akan Kosmopolitanisme Islam, penyampaian pesan islam sebagai rahmatan Lil Alamin.

Agenda Muhammadiyah pada abad kedua adalah menegaskan tekad dan usaha untuk terus menerus menjadikan gerakannya sebagai Gerakan Pencerahan dengan misi membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan.

Tajdid (pembaruan) yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak sekadar dalam konteks pemikiran. Namun, selayaknya mewujud dalam sebuah laku (action) yang menjadi habitus bagi semua.

Tajdid abad kedua ini seakan selaras dengan hadis Rasulullah., s.a.w. “Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun, Allah akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbarui agama mereka (H.R. Abu Dawud no. 3740).

Pilar 1 : Pandangan Keislaman Muhammadiyah

Dalam pandangan keislaman Muhammadiyah abad kedua, Muhammadiyah meyakini bahwa Islam merupakan fondasi dan pusat inspirasi yang menyatu dalam urat nadi pergerakan. Islam adalah risalah yang dibawa para Nabi hingga Nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Islam mengandung ajaran ajaran berupa perintah perintah dan larangan juga petunjuk untuk keselamatan hidup. Islam merupakan agama yang mengandung nilai nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan islam adalah kebaikan yang serba utama, yang melahirkan keunggulan hidup lahiriyah dan ruhaniah.

Muhammadiyah adalah Gerakan islam yang membawa misi dakwah dan tajdid dalam rangka mewujudkan masyarakat islam yang sebena benarnya. Dakwah dan tajdid yang dipahami Muhammadiyah adalah jalan perubahan untuk mewujudkan islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman.

Islam yang berkemajuan memancarkan pencerahan bagi kehidupan. Islam berkemajuan menyemai benih benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia.

Pandangan islam berkemajuan bermuara pada pencerahan bagi kehidupan. Pencerahan sebagai wujud dari islam yang berkemajuan adalah jalan islam yang membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan dari segala  bentuk keterbelakangan, ketertindasan, kejumudan dan ketidakadilan hidup umat manusia.

Islam berkemajuan dan pencerahan adalah peneguhan dan pengayaan Muhammadiyah pada urusan akidah, ibadah, dan akhlak serta mu’amalat duniawiyah yang membawa perkembangan hidup. Islam dalam pergumulan dengan kehidupan sepanjang zaman harus diwujudkan dalam amal. Islam sangat menjunjung tinggi amal sejajar dengan iman dan ilmu, sehingga islam hadir dalam paham keseimbangan sekaligus membumi dalam kehidupan.

Pilar 2 : Wawasan Kebangsaan dan Kemanusiaan

Bangsa Indonesia dan dunia kemanusiaan universal merupakan ranah sosio-historis bagi Muhammadiyah dalam menyebarkan misi dakwah dan tajdid. Misi dakwah dan tajdid dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan merupakan aktualisasi dari fungsi kerisalahan da kerahmatan Islam untuk pencerahan peradaban.

Muhammadiyah sejak awal berperan sebagai pengintegrasian keislaman dan keindonesiaan. Bahwa Muhammadiyah dan umat islam merupakan bagian integral dari bangsa dan berkiprah membangun pondasi dasar kebangsaan. Nasionalisme bukanlah doktrin mati sebatas slogan cinta tanah air tetapi harus dimaknai dan difungsikan sebagai energi positif untuk membangun indonesia secara dinamis dan transformatif dalam mewujudkan cita cita nasional.

Dalam menghadapi perkembangan kemanusiaan universal Muhammadiyah mengembangkan wawasan keislaman yang bersifat kosmopolitan. Kosmopolitanisme merupakan kesadaran tentang kesatuan masyarakat seluruh dunia dan umat manusia yang melampaui sekat sekat etnik, golongan, kebangsaan, dan agama. Kosmpolitanisme secara moral mengimplikasikan adanya solidaritas kemanusian universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional.

Kosmopolitanisme Islam yang dikembangkan Muhammadiyah dapat menjadi jembatan bagi kepentingan pengembangan dialog islam dan barat serta dialog antar peradaban. Tatanan dunia baru memerlukan dialog, kerjasama, aliansi dan koeksistensi antar peradaban. Muhammadiyah memandang bahwa perdaban global dituntut untuk terus berdialog dengan kebudayaan kebudayaan setempat agar perdaban tidak terjebak dalam kolonialisme.

Pilar 3 : Agenda Abad Kedua

Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan merupakan praksis islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan merupakan jawaban atas problem kemanusiaan, berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan persoalan persoalan lain.

Gerakan pencerahan menampilkan islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme konflik, korupsi, kerusakan ekologis dan bentuk kejahatan kemanusiaan.

Gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam mengemban misi dakwah dan tajdid untuk menghadirkan islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat, mencerdaskan kehidupan berbangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia.

Gerakan pencerahan Muhammadiyah mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkut civil society.

Dalam gerakan pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasi jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukan perjuangan dengan kekerasan, konflik dan permusuhan.

Pada abad kedua, Muhammadiyah menghadapi perkembangan dunia yang semakin kosmopolit dan Muhammadiyah harus berperan sebagai integral dari warga semesta dan dituntut komitmennya dalam menyebarluaskan gerakan pencerahan. Demi terwujudnya wawasan kemanusiaan yang universal dan menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, kemajemukan, kebajikan, peradaban, dan nilai nilai utama. **

** Tulisan banyak disarikan dari buku “Memahami Ideologi Muhammadiyah” Karya Dr H. Haedar Nashir, M. SI terbitan Suara Muhammadiyah (cet 4, 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *