Senin, 20 November 2017

(Masih dalam) Nuansa Milad Nasyiatul ‘Aisyiyah

 

Oleh: Nafisah Rahimi (Departemen Kader Pmpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta)

 

Nasyiatul Aisyiyah (NA) sebagai Gerakan Perempuan Muda Muhammadiyah. Mengenal dan memahaminya dari masa ke masa sungguh membutuhkan pengalaman empiris yang kuat. Pasalnya, usia remaja, dewasa hingga paruh baya adalah keberagaman yang menggembirakan bagi para Nasyiah. Belum lagi anak-anak menjadi sahabat dari ruang geraknya Nasyiatul Aisyiyah.

Ber-Nasyiah memang harus sepenuh hati. Membutuhkan kelembutan yang hangat meski dalam geraknya mendapat perlawanan dari berbagai pihak. Sikap tangguh dalam jiwa para perempuan muda Muhammadiyah menjadi bekal utama dalam mengedepankan dedikasinya. Menjaga perilaku yang santun, namun tetap menjaga kecerdasan dalam berperangai adalah sebuah tradisi.  Dalam rembugnya Nasyiah, sungguh begitu luasnya. Tidak hanya soal perjodohan dan rumah tangga saja. Kami tidak selemah ini. Aktivitas peranan publik sembari menimang putra kecilnya sudah menjadi pemandangan biasa.

Kalam Allah SWT pada surat At – Taubah ayat 7 yang artinya : “Dan orang – orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Ayat di atas, menjadi landasan atas perjuangan Nasyiatul Aisyiyah yang juga telah mencita-citakan dirinya sebagai "Perempuan Muda Berkemajuan". Label ini berjalan secara integratif sebagaimana Nasyiatul Aisyiyah adalah pelopor, pelangsung dan penyempurna bagi perjuangan Muhammadiyah seiring dengan perlawanan tantangan zaman.

Pada label "Perempuan Muda Berkemajuan" tentu merupakan hal yang dikonversikan menjadi berbagai tujuan beserta langkah. Yakni kemajuan pendidikan, kemandirian ekonomi, menumbuhkan kesadaran akhlak dan moral sesuai pesan luhur Al Quran dan Sunnah, tradisi nalar dan ilmiah, pengoptimalan pemberdayaan, dan lain sebagainya sehingga terbentuklah puteri islam yang berakhlak mulia dan dapat dijadikan sebagai uswatun khasanah bagi masyarakat sekitar.

Meski situasi dan kondisi telah menjadi musuh bagi kami, namun segala hal yang mencederai hak-hak perempuan dan anak di titik manapun justru menambah ghirah kami dalam meneguhkan peran sebagai kader Nasyiatul Aisyiyah.

Maka, cinta dan dedikasi itu terlahir dari seorang Nasyiah yang berjiwa kuat. Sehingga peranan ganda menjadi kerabat dekat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *