Kamis, 09 Juli 2020

Konsekuensi La Ilaha illa Allah (1)

“Mengamalkan ajaran Islam, mengamalkan Al-Quran dan Sunnah sebagai makna dan konsekwensi syahadat La ilaha illa Allah dan syahadat Muhammad Rasulullah wajib merujuk kepada generasi pendahulu yang shalih”

 

Tamhīd

Inti dari keyakinan (aqidah) Islam adalah aqidah tauhid, keimanan dan keyakinan kepada satu-satunya Ilah yang haq, yakni Allah ta’ala. Tauhid meliputi tawÍīd al-rubūbiyah, yakni keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang menciptakan, menjaga dan mengatur alam semesta ini, yang berkonsekwensi pada tawÍīd al-asmā wa al-Îifāt, yakni keyakinan bahwa Allah adalah Zat yang nama-nama yang maha baik dan sifat-sifat yang maha sempurna, yang berbeda dengan selain-Nya, dan tidak satu pun yang menyamaiNya.

Begitu pentingnya aqidah tauhid ini, Allah menetapkan satu surat khusus yang dikenal dengan nama “al-Ikhlas”, yang artinya bersih, suci, tulus. Yakni bersih dari sekutu dan penuhanan selain Allah. Surat ini secara redaksional sangat singkat tetapi padat. Begitu padatnya surat al-Ikhlas ini, Rasulullah saw. dalam hadits shahih Bukhari-Muslim menyatakan bahwa al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Quran.

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ. (رواه البخارى ومسلم ولفظ للبخارى

Dari Abu Said al-Khudry radhiyallah anhu, berkata: Rasulullah bersabda kepada para sahabat, “apakah ada di antara kalian yang dapat membaca sepertiga alquran dalam satu malam? Makah al itu berat bagi mereka, dan mereka pun berkata,”Bagaimana kami mampu melakukannya, ya Rasulullah? Nabi menjawab, “membaca qul huwallahu ahad, Allahu Shamat adalah sepertiga Quran. (HR. Bukhari-Muslim)

 

Dalam rangka penguatan tauhidullah, Rasulullah menegaskan membaca surat al-Ikhlash sebab mendapatkan kecintaan Allah. 

Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan bahwa Rasulullah saw. mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan “QUL HUWALLAHU AHAD.” Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda:

سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ

Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” Lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab,

 

لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا

Karena didalamnya terdapat sifat Ar–Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.” Mendengar itu Rasulullah saw. bersabda:

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

Ibnu Daqiq al-‘Ied menjelaskan perkataan Nabi saw. ”Kabarkan padanya bahwa Allah mencintainya”. Beliau mengatakan, ”Maksudnya adalah bahwa sebab kecintaan Allah pada orang tersebut adalah karena kecintaan orang tadi pada surat Al Ikhlash ini. Boleh jadi dapat kitakan dari perkataan orang tadi, karena dia menyukai sifat Rabbnya, ini menunjukkan benarnya i’tiqadnya (keyakinannya terhadap Rabbnya).” (Fathul Bari, 20/443)

 

Qaidah Memahami La ilaha illa Allah (لاإله إلا الله)

‘La’  yang terdapat dalam kalimat “La Ilaha Illa Allah” adalah huruf  “la” naafiyata li al-jinsi (huruf yang menafikan segala macam jenis).   Dalam kalimat di atas, yang dinafikan adalah kata “ilah” (sesembahan).  Kata “ilah’ berbentuk isim nakirah dan isim al-jins. Kata “illa” adalah huruf istisna’ (pengecualian) yang mengecualikan Allah dari segala macam jenis “Ilah”.  Bentuk kalimat semacam ini adalah kalimat nafyun (negatif) lawan dari kalimat itsbat (positif).  Kata “Illa” berfungsi mengitsbatkan kalimat manfiy (negatif).

Dalam kaedah bahasa Arab, itsbat sesudah manfiy bermakna al-hasr (membatasi) dan al-ta’kid (menguatkan).  Oleh karena itu, makna kalimat “La ilaha illa al-Allah” adalah tiada ilah (sesembahan) yang benar-benar berhak disebut ilah (sesembahan) kecuali Allah swt. Jadi kalimat la ilaha illa Allah maknanya la ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah. Kalaupun ada sesembahan di luar Allah adalah tuhan palsu dan tuhan batil.

 

Konsekuensi La Ilaha Illa Allah

Beberapa ayat al-Quran telah mendukung pengertian la ma’buda bihaqq illa Allah di atas.  Allah swt berfirman,  “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia, yang menguasai manusia, sesembahan manusia….(Qs.114:1-3).  “Ataukah mereka mempunyai ilah (sesembahan) selain Allah? (Qs. at-Thur:43) “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan  (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”[Qs. al-Maidah:73]Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa sesembahan yang hakiki hanyalah Allah swt.

Kita diperintahkan untuk mengingkari semua sesembahan (ilah) selain Allah.  Ini ditunjukkan dengan sangat jelas pada ayat lain, yakni tatkala Nabi Ibrahim as. mengingkari semua sesembahan yang telah disembah oleh kaumnya.  Allah swt. berfirman,   “Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya, “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukkiku (kepada jalan kebenaran).” [Q.s. al-Zukhruf: 26-27]

Di ayat lain, Allah swt juga menjelaskan dengan sangat jelas, tentang sesembahan-sesembahan selain Allah swt.  Setelah itu, manusia diperintahkan untuk mengingkari sesembahan tersebut.  Allah swt berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.[Q.s. at-Taubah:31] “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).’[Q.s. al-Baqarah:165]

Surat at-Taubah : 31 ini menunjukkan dengan gamblang, bahwa  ahli Kitab telah menjadikan rahib-rahib dan pendeta (orang alim) mereka sebagai sesembahan.  Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada Ilah Yang Satu (Allah swt).  Maksud dari ‘menyembah rahib-rahib dan pendeta-pendeta di sini’ adalah, mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah swt. Meskipun, secara dzahir kaum ahlu al-kitab tidaklah menyembah alim-ulama mereka.

Berdasarkan ayat tersebut, pengertian La ilaha illa al-Allah dan tauhid adalah pemurnian ketaatan kepada Allah dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah.  Yakni, hanya mengakui bahwa Allah swt. semata yang berhak menetapkan hukum, bukan manusia.  Allah swt. berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (Al– Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. [Q.s. al-An’am:57]

Rasulullah s.a.w. bersabda, artinya, “Barangsiapa mengucapkan La Ilaha Illa al-Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedangkan hisab (perhitungannya) adalah terserah kepada Allah”.   Hadits ini juga menjelaskan dengan sangat tegas bahwa yang menjadi pelindung atas harta dan darah seseorang, bukan sekedar ia mengucapkan La ilaha Illa al-Allah, bukan pula mengerti makna dan lafadznya, juga bukan sekedar tidak meminta kepada selain Allah, akan tetapi ia harus menambahkan “pengingkaran kepada sesembahan-sesembahan (ilah)” selain Allah swt dengan tiada keraguan.  Jika masih ada keraguan, harta dan darahnya belum terpelihara.

Tauhid yang murni sebagaimana ditegaskan oleh kalimat tauhid La Ilaha Illa Allah adalah merupakan misi utama perjuangan Muhammadiyah, serta prinsip utama dan pertama bagi warga Muhammadiyah sebagaimana ditegaskan dalam MKCH dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah.

 

Penulis             : Syamsul Hidayat

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

Halaman Selanjutnya: Konsekuensi La Ilaha illa Allah (2).......

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *