Selasa, 25 Juni 2019

Hisab Ru’yah dalam Penentuan Awal Bulan Qamariyah

 

OlehSuyono, M. Ag

(Kandidat Doktor Hukum Islam UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kepulauan Riau)

Sejatinya urgensi ru`yah al-hilal tidak hanya terkait dengan awal Ramadhan, Syawal, dan Dhulhijjah, akan tetapi ru`yah al-hilal  sangat berkaitan dengan semua bulan-bulan hijriyah. Banyak sekali hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan membaca doa ketika melihat ru`yah al-hilal dan puasa sunah pada tanggal-tanggal dan bulan-bulan  tertentu,  misalnya: anjuran nabi untuk berdoa ketika melihat hilal, puasa sunah pada awal-awal Dzulhijjah,  puasa sunah hari `Arafah, puasa sunah tanggal sembilan dan sepuluh `Asyura, dan puasa sunah pada setiap tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas bulan-bulan hijriyah.(An-Nawawi: Riyadhush Shalihin). Pada kenyataannya umat Islam sering berselisih paham ketika memasuki Bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.  Perbedaan  ini muncul disebabkan oleh adanya perbedaan cara memahami hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan tradisi ru`yah, di mana sebagian ulama memahaminya secara tekstual, yakni ru`yah al-hilal harus dipertahankan, dan apabila terjadi mendung  ditempuh istikmal sebagai bentuk ittiba` dan ta`abbudi sebagaimana dicontohkan pada zaman nabi dan generasi Islam awal (B.J. Habibi, DKK, 1991) Sementara sebagian ulama memahaminya secara kontekstual, yakni tidak harus dengan rsu`yah, tetapi bisa dengan menggunakan hisab, karena  tradisi ru`yah adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh umat Islam waktu itu, karena kemajuan ilmu astronomi belum seakurat dan secanggih seperti saat sekarang (M. Syuhudi Ismail; 2009).  Atas dasar argumen ini dan diperkuat dengan dalil-dalil ayat-ayat al-Quran mengenai perhitungan waktu, apabila sudah ditemukan metodologi yang lebih akurat, seperti hisab astronomi,  maka metode ini lebih diutamakan dari pada metode ru`yah (Asymuni Abdurrahman:2007).

Metode hisab – astronomi dan ru`yah al-hilal sejatinya berpangkal dari dalil yang sama yakni hadis Rasulullah SAW di antaranya; pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari `Abullah ibnu Umar RA. Artinya: “Menceritakan kepada kami `Abdullah bin Maslamah  dari Malik dari Nafi` dari `Abdillah bin Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengingatkan Ramadhan dan bersabda: janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal, dan berbukalah sehingga kalian melihat hilal, dan bila terjadi mendung yang menutupi pandangan kalian, maka estimasikanlah” (HR Bukhari).  Kedua, Hadis Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA: artinya:“telah menceritakan kepada kami Adam, menceritakan kepada kami Syu`bah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, telah berkata; saya telah mendengar Abu Hurairah RA mengatakan, telah bersabda Nabi SAW atau telah bersabda Abu Qasim SAW: berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihat hilal, jika terjadi mendung yang menghalangi pandangan kalian, maka genapkankanlah jumlah bilangan bulan Sya`ban menjadi tiga puluh hari”.  (HR Bukhari).

Pendapat yang mengharuskan  metode ru`yah.

Mazhab  ini menghendaki bahwa ru`yah tetap harus dilakukan walaupun sekarang telah ditemukan metode hisab- astronomi yang lebih canggih. Pendapat ini didasarkan pada dalil-dalil hadis Nabi Muhammad SAW yang secara sharih, seperti hadis pada yang telah dinukil di atas. Atas dasar ini, syara` sama sekali tidak menempatkan hisab- astronomi secara sendirian, akan tetapi hisab- astronomi sebagai pendukung ru`yah.(Syamsul Anwar: Interkoneksi Studi Hadis dan Astronomi,2011).Menurut Ibnu Hajar Al-`Asqalani, bahwa Abdul Aziz Ibnu Bazizah (w.662/1264) menyatakan bahwa pandangan ulama yang menyatakan  membolehkan penggunaan ilmu hisab itu adalah mazhab yang batil dan syari`ah melarang melibatkan diri dalam ilmu perbintangan karena masih bersifat spekulatif dan kira-kira, serta tidak mengandung kepastian dan probabilitas yang kuat. Pendapat serupa juga dikemukakan Imam Ibnu Taimiyyah dalam salah satu fatwanya bahwa barang siapa menulis atau melakukan hisab tidak termasuk umat ini dalam masalah ini, tetapi ia telah memilih dan mengikuti jalan lain yang bukan jalan orang-orang beriman. (Ibid) Al-Qarafi (w.684/1285) seorang fukaha pendukung ru`yah menjelaskan bahwa mengapa untuk puasa Ramadhan dan Idul Fithri ru`yah tidak dapat diganti dengan hisab sebagaimana untuk menentukan waktu shalat, ru`yah dapat diganti dengan hisab. Menurutnya, puasa berbeda dengan shalat. Sebab syar`i mulai wajibnya mengerjakan shalat adalah telah masuknya waktu shalat, sedangkan sebab syar`i mulai wajibnya berpuasa Ramadhan adalah terjadinya ru`yah al-hilal  itu sendiri. Oleh karenanya, puasa dan Idul Fithri tidak boleh dilaksanakan sebelum terjadi ru`yah dan bila mendung maka denganistikma (ibid). Menurut ulama Malikiyah, sebagaimana dikutip oleh Wahbah Az-Zuhaili, tidak diperbolehkan umat Islam menggunakan metode hisab- astronomi dalam menentukan awal Ramadhan, Syawwal , Dhulhijjah. Wahbah Az-Zuhaili mengutip pendapat ulama Malikiyah sebagai berikut:’tidaklah diperbolehkan menetapkan hilal baru dengan pendapat ahli hisab, karena menurut syari`ah, menetapkan puasa, idul fithri, dan haji adalah dengan ru`ya hal-hilal (Wahbah Az-Zuhaili, TTP)

Senada dengan pendapat di atas, Sayyid Sabiq menuturkan bahwa ‘menetapkan awal bulan hijriyah adalah dengan ru`yah hal-hilal meskipun hanya dengan persaksian satu orang yang adil atau dengan istikmal (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 2000) Begitu juga dengan Ibnul Qayyim al-Jauziyah, ia menyatakan bahwa ‘menentukan awal Ramadhan adalah dengan ru`yah muhaqqiqah,  atau persaksian satu orang yang adil atau dengan jalan istikmal’ (Ibnul Qayyim Al-jauziyah, 1998).Para pendukung ru`yah hanya berbeda dalam hal apakah ru`yah cukup hanya dengan persaksian satu orang saja, atau harus  dua orang, atau harus mencapai jumlah tertentu sehingga kecil kemungkinan berbohong. Apakah boleh kesaksian seorang wanita?, apakah harus adil?, apakah harus orang merdeka?. Pendukungru`yah juga berbeda pendapat mengenaiMathla`, apakah apabila telah terlihat hilal pada satu mathla` secara otomatisberlaku ke seluruh dunia atau tidak? (Wahbah az-Zuhaili, TTP).

Di Indonesia, dalam hal ini Badan Hisab Ru`yah (BHR), yang merupakan  lembaga thing-thang-nya Kementerian Agama  cenderung memilih metode ru`yah. Sejatinya BHR mengakomodasimetode hisab-astronomi, namun  hanya sebatas pendukung ru`yahitu sendiri. Hal ini maksudnya, walaupun hasil perhitungan hisab-astronomi menyatakan hilal sudah wujud (wujudul hilal), yakni 0 derajat,  BHR tetap tidak menerimanya, karena BHR menyepakati hisab imakanur ru`yah, yakni ketinggian 2 derajat di atas ufuk. Sebaliknya, BHR juga menolak kesaksian  ru`yah, mana-kala menurut hitungan hisab-astronomis masih di bawah standar imakanur ru`yah, yakni masih di bawah 2 derajat di atas ufuk. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu, kesaksianru`yah di Cakung, Jakarta Timur ditolak oleh BHR. Salah satu ulama yang ikut dalam sidang itsbat berkomentar bahwa hasil pengamatan ru`yah di Cakung tidak bisa diterima karena tidak sesuai dengan kaidah ilmuastronomi.

Pendapat Yang Membolehkan Metode Hisab- astronomi.

Proses pemahaman Hukum Islam yang tekstual dan kontekstual sudah muncul sejak zaman Sahabat Nabi. Sebagian ada yang memahami teks-teks keagamaan yang tertuang dalam Al-Qur`an dan Hadis dengan tekstual, dan sebagian lagi memahaminya secara kontekstual. Zaman itu sudah dikenal Ahlul Hadis yang dipelopori oleh Abdullah bin Mas`ud dan Ahlur Ra`yu yang dipelopori oleh Umar bin Khattab. Kelompok pertama lebih mendasarkan kepada dhahir ayat dan hadis. Ahlur Ra`yu dalam berijtihad lebih longgar dari Ahlul Hadis. Dalam hal ini, Ahlur Ra`yu memahami teks-teks keagamaan secara kontekstual, mencari Illah sebab lahirnya Keputusan hukum yang terkandung dalam nas-nash Al-Qur`an dan Hadis Nabi SAW. Dengan metode pendekatan ini, maka diperlukan usaha mencari pendorong atau motivasi terhadap adanya ketentuan suatu hukum (Asymuni Abdurrahman, 2008). 

Berkaitan dengan hadis-hadis tentang ru`yah, maka dengan pendekatan Ta`lil  al-Ahkam sebagaimana dijelaskan di atas, hadis-hadis tersebut tidak dipahami secara tekstual sebagaimana bunyi dhahir nash. Motivasi perintah Nabi untuk melakukan ru`yah pada waktu itu disertai dengan `Illah (kausa hukum). Dalam masalah ini dapat dipahami dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar misalnya yang menyatakan bahwa keadaan umat pada waktu itu masih dalam keadaanUmmi, belum memahami membaca dan menulis  secara lebih sempurna, lebih-lebih dalam ilmu astronomi (MTT, 2009). Atas dasar ini,  apabila ilmu pengetahuan telah maju, ilmu astronomi mengalami keakuratan dan kepraktisannya seperti saat sekarang, sudah saatnya menggunakan metode hisab- astronomi untuk menentukan awal Bulan Qamariyah. Di samping itu, dalam memahami nash diperlukan pemahaman yang terpadu, komprehensif dan tidak sepotong-sepotong (istiqra` ma`nawi), sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. Semua ayat-ayat Al-Qur`an dan Hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dikumpulkan (Asymuni Abdurrahman, 2008) . Dalam memahami ru`yah sebenarnya banyak sekali ayat-ayat Al-Qur`an yang berbicara tentang waktu dan peredaran benda-benda langit yang seharusnya dijadikan pedoman untuk menentukan bulan-bulan Qamariyah. Di antaranya adalah QS Yasin ayat 39-40.:  ‘Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Dalam perkembangannya, ilmu astronomi mendapatkan apresiasi oleh para ulama. Di antara ulama yang mendukung penggunaan metode hisab- astronomi adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Musthafa Az-Zarqa, dan Yusuf Al-Qardhawi. Muhammad Rasyid Ridha, sebagaimana dikutip oleh Syamsul Anwar menyatakan: ‘Tujuan pembuat Syari`ah....bukan menjadikan ru`yah hilal sebagai ibadah itu sendiri. Pengaitan penetapan awal bulan dengan ru`yah hilal atau menggenapkan bilangannya 30 hari apabila hilal tidak terlihat, `Illahnya  adalah karena keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi’ (Syamsul Anwar, 2009).  Senada dengan Muhammad Rasyid Ridha, Musthafa Az-Zarqa berpendapat: ‘Saya yakin benar bahwa para ulama Salaf kita itu, yang menolak penggunaan hisab, seandainya mereka hidup di zaman sekarang dan menyaksikan kemajuan spektakuler yang dicapai astronomi (ilmu falak) pastilah mereka akan mengubah pendapatnya’ (Ibid). Masih berkaitan dengan hisab-astronomi, Yusuf Al-Qardhawi berkomentar sebagai berikut: ‘Apabila terdapat sarana lain yang lebih mampu mewujudkan tujuan hadis dan lebih terhindar dari kemungkinan kekeliruan, kesalahan dan kebohongan mengenai masuknya bulan baru,.....yakni setelah di kalangan mereka terdapat sarjana-sarjana dan ahli astronomi,.... maka mengapa kita masih tetap jumud dalam soal sarana yang tidak menjadi tujuan pada dirinya (Ibid)?. Sulaiman Rasyid, seorang ulama Indonesia kenamaan juga sangat mendukung metode hisab- astronomi untuk menentukan awal Bulan Qamariyah seperti halnya pemanfaatan ilmu hisab-astronomi untuk menetukan waktu-waktu shalat. Menurutnya, ketentuan waktu-waktu shalat adalah sama dengan ketentuan waktu memulai puasa, Idul Fithri dan haji, hanya saja kalau shalat berdasarkan peredaran matahari, sementara puasa dengan bulan (Sulaiman Rasyid, 2003). Secara lebih nyata,  Muhammadiyah sebagai ormas Islam yang sangat signifikan di Indonesia, tidak hanya sekedar berfatwa atau mendukung, tapi lebih dari itu, ormas ini menerapkan metode hisab- astronomi dalam menentukan awal bulan Qamariyah (MTT, 2007).

Berangkat dari pemahaman sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa ru`yah adalah satu-satunya  sarana yang paling mungkin diterapkan pada masa Islam awal untuk mengetahui masuknya bulan baru, mengingat ilmu astronomi belum dikuasai secara memadai, maka saat sekarang perhatian ulama kontemporer terhadap penggunaan metode hisab- astronomi semakin gencar, dan bahkan tidak hanya sebatas untuk menentukan waktu-waktu ibadah saja, tetapi lebih dari itu, usaha perumusan sistem kalender Islam Internasional pun sudah dimulai. Nama Muhammad Ilyas, seorang penggagas Kalender Islam Internasional asal Malaysia cukup memberikan kontribusi bagi perkembangan Kalender Islam Internasional. Dalam hal ini Muhammadiyah berperan aktif untuk mewujudkan cita-cita ini dengan mengikuti pertemuan-pertemuan Internasional, seperti pertemuan ISSESCO, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan Organisasi Konferensi Islam (OKI), di Sinegal pada tahun 2008 yang lalu, di mana Muhammadiyah mengirimkan Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA sekaligus mewakili Indonesia.

Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan pertama,  pada zaman nabi, keadaan umat Islam masih ummi, yakni tidak bisa membaca dan menulis. Sekalipun ada yang memahami membaca dan menulis, jumlahnya relatif sedikit dan belum secara maksimal memanfaatkan tulis- baca. Ilmu perbintangan pada periode nabi masih  sangat terpengaruh takhayyul- khurafat yang mengarah kepada kemusyrikan. Peristiwa astronomis, yang dalam hal ini adalah gerhana matahari yang seharusnya dipahami sebagai gejala alam biasa yang bisa dijadikan pedoman dalam menghitung perjalanan waktu, justru dikait-kaitkan dengan Kematian Ibrahim bin Muhammad, adalah bukti otentik kondisi ilmu astronomi pada saat itu yang masih tradisional.

Kedua, para ulama pendukung hisab astronomi, termasuk Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia, memiliki dasar yang kuat sesuai dengan kaidah-kaidah syari`ah sebagaimana dijelaskan di atas. Dengan demikian tertolaklah opini yang selalu saja muncul   menyudutkan bahwa Muhammadiyah telah keluar dari kaidah-kaidah syari`ah dalam penentuan awal bulan Qamariyah.

Nashrum minallah wa fathun qarib, fastabiqul khairat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *