Jum'at, 24 Januari 2020

Geliat Muhammadiyah di Australia

Geliat Muhammadiyah di Australia

oleh Munawwar Khalil

Wakil Ketua MPK PP Muhammadiyah

 

Bulan Ramadhan yang lewat merespon surat undangan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia-New Zealand, PP Muhammadiyah mengutus penulis untuk melakukan Safari Dakwah Ramadhan di Australia. Selain dakwah Islam, tujuan dari kegiatan selama sebulan ini adalah untuk konsolidasi dan silaturahim antar kader Muhammadiyah yang ada di Australia juga untuk sosialiasi eksistensi dakwah Muhammadiyah di komunitas muslim Indonesia maupun umat Islam umumnya yang ada di Australia.

Kegiatan safari dakwah ini mengunjungi 4 kota di Australia yang telah mendirikan Pimpinan Cabang dan Ranting Istimewa Muhammadiyah di Australia, yakni ; Melbourne, Sydney, Adelaide dan Perth.  Berikut ini adalah reportase perjalanan safari tersebut yang menunjukkan adanya hawa segar ekspansi dakwah Muhammadiyah di luar negeri.

Melbourne

Disambut hawa dingin yang mencapai 4’ C, Melbourne menjadi destinasi pertama kegiatan safari dakwah karena di kota inilah yang menjadi pusat dakwah Muhammadiyah di Australia yaitu berdirinya PCIM Austarlia-New Zealand. Di Bandara Melbourne, penulis dijemput langsung oleh ketua PCIM, Dipa Nugraha, beliau adalah dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang saat ini menempuh studi s3 di Monash University atas sponsor beasiswa LPDP. Penulis diinapkan di rumah seorang simpatisan Muhammadiyah, Pak Fery, seorang aktivis masjid asli Palembang namun saat ini telah menjadi permanent resident (PR). Adalah hal yang membahagiakan selain terdiri dari mahasiswa yang sedang misi studi, warga dan aktivis Muhammadiyah di Melbourne banyak yang telah menjadi PR di sana. PR di Australia adalah status dimana seseorang akan mendapatkan  previlege yang sama  dengan penduduk Australia asli. Mereka bisa mendapatkan visa permanen, pinjaman dana untuk pendidikan, bekerja di manapun, mendapat jaminan sosial  centrelink, asuransi kesehatan, berhak bekerja di pemerintahan dan jika memiliki anak yang lahir di Australia bisa menjadi citizen (warga negara Australia). Sebagai kader, tentu kita berharap para warga Muhammadiyah yang telah berketetapan hati untuk tinggal di Australia dapat mewariskan estafet Muhammadiyah ke generasi selanjutnya yang akan semakin mengokohkan eksistensi Muhammadiyah di Australia.

Selama seminggu penulis melakukan dakwah berupa ceramah dan kajian Islam di 3 masjid milik komunitas muslim Indonesia di Victoria, yaitu : Westall Mosque, Baitul Makmur dan Surau Kita. Selain rutin menjalankan konsolidasi internal, aktivitas PCIM di Melbourne juga melebur dengan aktivitas komunitas muslim Indonesia yang ada di Victoria yang tergabung dalam wadah organisasi bernama Indonesian Muslim Community of Victoria (ICMV). Kegiatan penulis banyak dipusatkan di Westall Mosque. Meskipun adzan tidak dikumandangkan melalui speaker eksternal sebagaimana di Indonesia tapi jamaah di masjid ini sangat disiplin dalam hal ketepatan waktu menegakkan shalat 5 waktu secara berjamaah. Tak kurang 50 orang saat shalat dhuhur-ashar, jika maghrib, isya dan shubuh bahkan bisa mencapai 100-150 orang jamaah apalagi jika weekend jamaah bisa mencapai 300 orang. Selain warga Indonesia, banyak jamaah asal Saudi Arabia, Pakistan, Bangladesh dan Malaysia yang ikut memakmurkan masjid ini.

Tingginya ghirah keislaman warga Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia di Melbourne pada umumnya membuat PCIM Australia-New Zealand yang ada di Melbourne ini memiliki obsesi untuk mendirikan sekolah Islam di Australia yang dikelola oleh Muhammadiyah. Mereka telah membuat business plan tentang pendidikan sekolah ini beserta rasionalisasinya menyangkut kesiapan SDM, lahan yang memadai, animo pasar pendidikan yang tinggi namun hal ini masih terbentur modal awal finansial yang masih minim. Mereka berharap,  melalui Pimpinan Pusat Muhammadiyah, keluarga besar Muhammadiyah yang ada di Indonesia bisa membantu cita-cita mulia dan strategis ini sekalipun hanya dalam bentuk pinjaman modal. Ustadz Edward, tokoh Muhammadiyah yang telah puluhan tahun menjadi PNS Guru-Dosen di Australia bahkan menyebutkan sudah 2 warga yang siap menjadikan rumahnya sebagai jaminan pinjaman demi untuk pendirian sekolah tersebut. 

Sydney

Warga Muhammadiyah yang ada di Sydney kebanyakan adalah PR yang telah hidup mapan dan membangun keluarga di Australia. Menyangkut aktifitas organisasi, Muhammadiyah di Sydney lebih banyak membaurkan diri dalam kegiatan bersama dengan komunitas muslim Indonesia di Sydney yang diwadahi dalam organisasi bernama Centre for Islamic Dakwah & Education (CIDE) New South Wales Australia. Oleh pak Iwan (Muhamad Fauzi Irawan), ketua PRIM Sydney, penulis sempat dibawa mengisi pengajian keluarga mahasiswa muslim Indonesia di Macquarie University. Selebihnya penulis mengisi kultum, kajian Islam dan kajian Dhuha Ibu-Ibu di Al-Hijrah Mosque yang merupakan pusat kegiatan CIDE yang berlokasi di Tempe, New South Wales Sydney sebelum mengisi pengajian keluarga besar Muhammadiyah Sydney di kediaman pak Iwan di Cumberland Road Ingleburn NSW. Semangat keagamaan muslim Indonesia di Sydney terbilang cukup tinggi. Meskipun untuk jamaah dhuhur-ashar hanya 20an jamaah yang hadir karena faktor jam kerja dan letak masjid Al-Hijrah sangat jauh dari kediaman mayoritas umat Islam Indonesia di Sydney (+_30 km), namun setiap tarwih dan kegiatan kajian Islam yang hadir bisa mencapai 150-200 jamaah, sesi tanya jawab agama menjadi sesi yang selalu hangat dengan antusiasme pertanyaan dari peserta, khususnya jamaah ibu-ibu.Ketua CIDE NSW, Ichsan, menyambut baik program PP Muhammadiyah yang mengirimkan dai di Sydney. Beliau bahkan berharap Muhammadiyah tidak hanya mengirim dai saat bulan Ramadhan semata, tetapi juga pada bulan-bulan lainnya untuk mendampingi pembinaan agama umat muslim di Sydney.

Ada hal yang menarik juga, selama di Sydney penulis diinapkan di mess Al-Hijrah Mosque. Mess yang menyatu dengan masjid ini memliki 4 kamar yang diperuntukkan sebagai akomodasi para tamu, khususnya para mubaligh yang bertugas di Sydney. Pada waktu itu, selain penulis ada 3 orang ustadz lainnya yang menginap di mess, yaitu Ust. Saifurrahman,MA., Ust. Emil/Abdul Aziz, LC.,M.Si., dan Ust. Faris Jihadi, Lc. Ketiga ustadz tersebut adalah da’i dari Indonesia yang tugas dakwah di Australia atas sponsor lembaga amil zakat, Dompet Dhuafa. Setiap tahun Dompet Dhuafa mengirim tak kurang dari 5-10 orang ustadz/da’i berdakwah di Australia.  Teringat dengan lembaga amil zakat milik Persyarikatan yang saat ini tengah tumbuh dan berkembang Lazismu, tentu kita berharap suatu saat Lazismu pun bisa melakukan hal yang sama atau bahkan melampauinya yaitu mensponsori dakwah Muhammadiyah dengan mengirim dai bukan hanya di seluruh pelosok nusantara tapi juga di seluruh penjuru dunia. Amien.

Adelaide

Berbeda halnya dengan kondisi warga Muhammadiyah di Melbourne dan Sydney yang banyak permanent residentnya, mayoritas warga Muhammadiyah di Adelaide ini adalah para mahasiswa yang lagi menempuh studi S2 dan S3 di Adelaide. Hal ini dapat dimaklumi karena PRIM Adelaide adalah PRIM yang baru saja berdiri pada bulan Mei 2016 yang lalu sehingga konsolidasi dan pendataan kewargaan/keanggotaan Muhammadiyah belum dilakukan secara optimal. Meskipun baru berdiri, aktivitas PRIM ini cukup dinamis. Mereka giat melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti diskusi, kajian dan pengajian. Hal yang unik aktivitas PRIM di Adelaide juga banyak didukung oleh para aktivis Nahdatul Ulama (NU) yang ada disana. Aktivis Muhammadiyah dan NU di Adelaide memang berkolaborasi dalam sebuah komunitas yang mereka dirikan bernama Kajian Islam Adelaide (KIA). Mereka giat mensyiarkan aktivitasnya melalui akun facebook dan Youtube. Setiap akhir pekan dilakukan Kajian Ihya Ulumuddin yang diampu oleh ust. Sukendar Sodik, tokoh Muhammadiyah dan dosen UIN Semarang yang lagi studi S3 di Flinders University. Bersatunya aktivis Muhammadiyah dan NU ini sedikit tidaknya dipengaruhi oleh wadah organisasi pelajar-mahasiswa muslim Indonesia yang ada di Adelaide telah terkontaminasi oleh aktivitas dan agenda partai politik tertentu yang membuat mahasiswa muslim Indonesia yang non partisan partai gerah dan tidak ad home di organisasi tersebut sehingga lahirlah KIA.

Selama di Adelaide penulis mengisi pengajian, wawancara tentang Islam di Indonesia di radio lokal (103.1 FM Radio 5EBI), serta diskusi publik tentang Islam Berkemajuan di The University of Adelaide. Hal yang sangat mengharukan ketika penulis diminta mengisi pengajian dalam rangka peresmian berdirinya PRIM Adelaide di rumah Ibu Prof. Elvia Shauki, Ph.D. , beliau adalah dosen Universitas Indonesia yang telah menjadi permanent resident di Australia, sedang tugas mengajar di Adelaide dan ternyata berasal dari ‘darah’ keluarga besar Muhammadiyah yang tumbuh di Wirobrajan Yogyakarta sebelum pindah ke Jakarta. Pengajian dan peresmian PRIM tersebut diakhiri dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Ketua PRIM Adelaide, Berry Devanda, sebagai simbolik kesyukuran terbitnya Sang Surya di Adelaide yang terkenal sebagai kota seribu gereja.

Perth

Kota terakhir yang menjadi destinasi safari dakwah Ramadhan Muhammadiyah ini adalah Perth. Sama halnya dengan Adelaide, geliat aktivitas Muhammadiyah di Perth banyak ditopang oleh para mahasiswa yang menempuh studi program master dan doktor  di Perth, meskipun ada juga warga yang telah menjadi PR di sana. Ketua PRIM Perth, Joni Safaat Adiansyah, menuturkan bahwa regenerasi PRIM di Perth dilakukan secara cepat karena warga Muhammadiyah di Perth datang dan pergi sehingga memerlukan estafeta yang berkesinambungan. Meskipun demikian gerak Muhammadiyah di Perth cukup memberi warna dalam aktivitas komunitas muslim Indonesia di Perth. Atas nama utusan Muhammadiyah penulis diminta mengisi sejumlah acara komunitas muslim diantaranya ceramah menjelang ifthar bersama, kultum, Ceramah tarwih, Kajian Islam Pagi tentang Mengantisipasi Paham Islam Radikal di gedung IUC Cannington. Salah satu hal yang sampai saat ini masih dicita-citakan dan diupayakan oleh komunitas muslim Indonesia yang ada di Perth maupun Adelaide adalah hadirnya masjid yang bisa menjadi pusat kegiatan mereka dalam mendalami dan menjalani agama. Tanpa masjid mereka pun beraktifitas dakwah keagamaan dari rumah ke rumah atau menyewa tempat khusus sekedar untuk berkumpul atau menyelenggarakan kegiatan.

Akhir dari rangkaian safari penulis di Australia adalah menyampaikan Khutbah Idul Fitri di Sevenoaks Senior College Cannington West Australia. Dalam moment lebaran Ied yang terselenggara atas kerjasama Panitia Ramadhan 2016 dengan KJRI Perth di hadapan jamaah yang berjumlah 600an orang penulis menyampaikan khutbah Ied dengan tema, “ Membangun Kebersamaan Komunitas Muslim di Barat”. Diantara inti pesan khutbah yang disampaikan adalah ada berbagai langkah yang dapat ditempuh untuk membangun komunitas muslim di Barat, diantaranya menumbuhkan ukhuwwah, mengintensifkan dakwah Islam , mendirikan masjid, dan memanfaatkan jaringan teknologi informasi.

Demikianlah perjalanan safari dakwah Ramadhan di Australia yang penulis jalani. Banyak hikmah dan ibrah yang didapatkan, banyak manfaat yang ditebarkan, saling menguatkan dalam iman sesama muslim di negeri Barat dan tentu safari ini hanyalah bagian kecil dari upaya Muhammadiyah, yang misinya, tidak hanya tiada henti menyinari negeri namun juga perlu lebih maju merengsek menjadi tiada henti menyinari dunia dengan cahaya Islam. Nashrun minallah wa fathun qoriib wa basysyiril mukminiin.

 

                                                             

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *