Selasa, 27 Oktober 2020

Falsafah, Makna dan Prinsip Ibadah 1

A. Falsafah Ibadah: Kenapa kita (harus) beribadah?

Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini dicipta dan dipelihara (rububiyyatullâh), dimiliki dan dikuasai secara mutlak oleh Allah SWT (mulkiyyatullâh).

Tentang penciptaan dan pemeliharaan tersebut, Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 21)

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhan (Pencipta & Pemelihara)-mu, maka sembahlah Aku.”(QS. Al-Anbiyâ’/21: 92)

Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya.

Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imrân/3: 109)

Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka—semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Sengaja Allah SWT memilih kalimat pasif: dikembalikan karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik & Sang Penguasa (al-Malik). Atas dasar inilah sehingga tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT. Dan atas dasar ini pula, manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah SWT:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

Selain itu, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Tîn/95: 4) dan paling dimuliakan Allah dengan memberinya berbagai kelebihan dibanding makhluk yang lain (QS. Al-Isra’/17: 70). Penciptaan dan pemuliaan Allah terhadap manusia dengan memberikan fasilitas yang lebih berupa akal dan nurani, tentunya bukan tanpa tujuan. Karena itu Allah SWT memberikan pertanyaan reflektif kepada manusia:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُوْنَ

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian hanya sia-sia dan mengira bahwa kalian tidak kembali kepada Kami?!” (QS. Al-Mu’minûn/23: 115)

Sengaja Allah merangkai dua pertanyaan dalam satu ayat tentang tujuan penciptaan manusia secara sempurna oleh Allah SWT, dan tentang kemana tempat kembali terakhir kita kalau bukan kepada Allah SWT, dengan maksud mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang tujuan penciptaan manusia. Tentu ada tujuan Allah untuk semua itu.

Allah menciptakan manusia lengkap dengan berbagai kelebihan dimaksudkan karena Allah akan memberikan tugas mulia kepada manusia yakni menjadi khalifah Allah di bumi (QS. Al-Baqarah/2: 30) yang bertugas memakmurkan bumi ini (QS. Hûd/11: 61). Untuk melaksanakan tugas kekhalifahan dengan baik maka tidak bisa tidak kecuali harus didasarkan pada semangat pengabdian (ibadah) yang murni hanya karena Allah SWT semata. Untuk itulah Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat/51: 56; Lihat juga QS. Al-Bayyinah/98: 5).

Dengan beribadah kepada Allah SWT maka manusia bisa menjadi manusia yang bertaqwa. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Hai manusia, sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 21).

Hanya dengan bekal taqwa, seseorang akan mampu memfungsikan dirinya sebagai hamba Allah (‘abdu-llâh) dan khalifah Allah (khâlifatu-llâh) di muka bumi sehingga ia mampu menyelesaikan tugas kekhalifahannya dengan baik ketika di dunia untuk kemudian dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat kelak.

  

Penulis             : Syakir Jamaluddin

Sumber Artikel : http://tuntunanislam.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *