Kamis, 02 April 2020

Eksistensi Muhammadiyah: Satu untuk Semua

Eksistensi Muhammadiyah: Satu untuk Semua

Oleh: Muhammad Hanif 

Mendengar nama Muhammadiyah, sebagian orang mungkin akan langsung mendefinisikannya sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di negeri ini. Sebagian lainnya menghubungkan dengan sekolah-sekolah dan rumah sakit bersimbol matahari. Anggapan-anggapan itu tidak sepenuhnya salah, karena dua pernyataan di atas memang bisa menggambarkan bagaimana Muhammadiyah bekerja.

Sayangnya, definisi tersebut terlalu sempit untuk menjelaskan kontribusi organisasi yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Sebagai organisasi Islam tertua yang masih eksis hingga kini, kontribusi Muhammadiyah sangat bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia, mulai dari ujung barat sampai timur.

Pernyataan di atas buka isapan jempol belaka. Pada 2017, Alvara Research Center mengumumkan hasil risetnya: Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi Islam dengan sebaran anggota yang merata. Artinya, persebaran warga Muhammadiyah tidak hanya terpusat di Jawa. Hasil survey Alvara menunjukkan, proporsi warga Muhammadiyah di Jawa berada pada angka 59,8%. Sisanya, berada di pulau-pulau lain[1]. Ini berbanding lurus dengan data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, hampir 60% penduduk Indonesia berada di pulau Jawa. Dengan persebaran yang rata, sudah tentu aset-aset Muhammadiyah juga bisa dijumpai di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam perjalanannya mengikuti dinamika kehidupan bangsa, organisasi Islam yang telah berusia satu abad ini memilih caranya sendiri. Tidak melulu soal ngaji dan ngaji,  Muhammadiyah memantapkan diri dalam pengembangan bidang pendidikan, sosial, kesehatan.

Pada 2019, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merilis data, ada puluhan ribu aset (yang kemudian disebut Amal Usaha Muhammadiyah) yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Muhammadiyah memiliki 20 ribu sekolah –mulai tingkat PAUD hingga SMA/SMK, 384 panti asuhan, 583 rumah sakit dan klinik, serta 165 Perguruan Tinggi[2]. Banyaknya Amal Usaha tersebut tidak hanya dirasakan warga Muhammadiyah, tetapi juga seluruh elemen bangsa.

Muhammadiyah dengan Nahdliyin

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merupakan dua organisasi Islam dengan jamaah terbanyak di Indonesia. Sinergi keduanya telah lama terjalin baik. Salah satu bukti kemesraan antara dua organisasi Islam ini dapat dijumpai di Jepara, Jawa Tengah. Tiap tahun, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama setempat rutin menggelar Halalbihalal bersama[3].

Tidak hanya sekadar urusan agama, hubungan antara keduanya juga terjadi di beberapa bidang. Salah satunya adalah pendidikan. Sebagai saudara sesama Muslim, sekat-sekat kultural tak lagi menjadi halangan untuk saling bersinergi. Ini yang dapat dilihat di beberapa kampus Muhammadiyah. Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan badan otonom NU untuk kemahasiswaan contohnya, bisa ditemui di beberapa unit pendidikan tinggi Muhammadiyah. Diantaranya, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo[4], Universitas Muhammadiyah Malang[5], dan Universitas Muhammadiyah Jember[6].

Tentu, fenonema PMII di kampus Muhammadiyah adalah salah satu bukti bahwa dua organisasi terbesar di Indonesia ini tetap bisa berjalan beriringan.

Muhammadiyah dengan Umat Kristiani

Muhammadiyah juga membuka pintu selebar-lebarnya untuk non-Muslim. Kehadiran organisasi besutan Kiai Haji Ahmad Dahlan ini ikut dirasakan masyarakat Indonesia Timur, yang sebagian besar adalah Kristiani. Bahkan, muncul satu istilah Kristen Muhammadiyah untuk mendefinisikan fenomena ini[7].

Di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur yang hanya memiliki populasi Muslim sebesar 9%, Muhammadiyah hadir dengan satu lembaga pendidikan tinggi-nya bernama Universitas Muhammadiyah Kupang. Tidak perlu heran jika banyak mahasiswi yang tidak mengenakan hijab di kampus yang didirikan pada 1979 ini.

Hal ini juga bisa dijumpai di kabupaten Ende. Sebagian besar siswa di SMA Muhammadiyah adalah non-Muslim. Menariknya, pihak sekolah memfasilitasi siswa-siswi non-Muslim dengan menyediakan guru matapelajaran agama Katolik. Setali tiga uang dengan SMA Muhammadiyah Putussibau Kalimantan Barat dan SMP Muhammadiyah Serui Teluk Cenderawasih Papua, siswi non-Muslim juga tidak diwajibkan untuk mengenakan jilbab, sebagaimana regulasi di sebuah sekolah Islam pada umumnya.

Banyaknya umat Kristiani yang lebih memilih lembaga pendidikan Muhammadiyah bukan tanpa asakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah mutu pendidikan. Misalnya, STKIP Muhammadiyah Sorong Papua Barat yang kini berganti Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, ditetapkan Kementrian Riset-DIKTI sebagai Perguruan Tinggi terbaik non Politeknik se-provinsi Papua dan Papua Barat pada 2017[8]. Kampus dengan julukan UNIMUDA itu mengungguli Universitas Papua dan Universitas Cenderawasih yang merupakan Perguruan Tinggi Negeri.

Kontribusi tanpa Basa-basi

Keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah yang bisa dijumpai di seluruh pelosok Tanah Air menunjukkan kontribusi nyata organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan ini. Siapa sangka, sebuah gerakan yang lahir di desa kecil bernama Kauman di Yogyakarta, bisa tetap bertahan hingga lebih dari seabad dan mampu menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan bangsa. Termasuk, berjalan beriringan dengan semua elemen bangsa.

Agaknya, pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berbanding lurus dengan fakta di lapangan: “Begitulah etos yang baik itu, sedikit bicara, banyak berpikir dan banyak bekerja[9].

[1]Alvara Reseacrh Center, Survei: Peta Citra Ormas Islam di Indonesia, 2017.

[2]Laporan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Milad Muhammadiyah ke-107.

[3]Mustaqim, “NU-Muhammadiyah Jepara Gagas Gelar Halal bi Halal Bersama hingga ke Desa”,diakses dari https://www.nu.or.id/post/read/108346/-numuhammadiyah-jepara-gagas-gelar-halal-bi-halal-bersama-hingga-ke-desa, pada 7 Maret 2020.

[4]Moh Kholidun, “PMII Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Kembali Gelar Mapaba Mandiri”, diakses dari http://nu.or.id/post/read/63987/pmii-universitas-muhammadiyah-sidoarjo-kembali-gelar-mapaba-mandiri, pada 10 Oktober 2019.

[5]Muhammad Syukron Anshori, “Sejarah Berdirinya PMII di Universitas Muhammadiyah Malang”, diakses dari http://nu.or.id/post/read/51746/sejarah-berdirinya-pmii-di-universitas-muhammadiyah-malang, diakses pada 10 Oktober 2019.

[6]Aryudi R., ‘Geliat PMII di Universitas Muhammadiyah Jember’, diakses dari http://nu.or.id/ post/read/geliat-pmii-di-universitas-muhammadiyah-jember, pada 10 Oktober 2019

[7]Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ul Haq. Kristen Muhammadiyah Konvergensi Muslim dan Kristen dalam Pendidikan. Jakarta,. 2009.

[8]Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia Tahun 2017 Provinsi Papua dan Papua Barat, diakses dari https://lldikti12.risetdikti.go.id/2017/11/18/peringkat-perguruan-tinggi-indonesia-tahun-2017-provinsi-papua-dan-papua-barat.html, pada 10 Oktober 2019.

[9]Milad Muhammadiyah 104, Haedar Nashir: Muhammadiyah Sedikit Bicara Banyak Kerja, diakses dari http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/11/18/milad-muhammadiyah-104-haedar-nashir-muhammadiyah-sedikit-bicara-banyak-berpikir-dan-bekerja, pada 10 Oktober 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *