Rabu, 05 Agustus 2020

Adab Etika Bergurau (2)

5. Jangan Memperbanyak Gurauan

Beberapa orang bergurau terlalu banyak dan hal itu menjadi kebiasaan. Keadaan ini bertolak belakang dengan keseriusan yang menjadi watak dan sifat orang-orang mu’min. Bergurau adalah selingan, suatu istirahat dari keseriusan dan kerja keras yang sedang berjalan. Hal itu adalah relaksasi (pengendoran saraf) bagi jiwa. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata:

 اتقوا المزاح فإنها حمقة تولد ضغينة
وقال:  إن المزاح سباب إلا أن صاحبه يضحك

Hati-hatilah bercanda (bergurau) karena canda itu sesuatu hal yang remeh dan kurang masuk akal dan bisa menimbulkan rasa tidak suka.

Dia juga berkata: Sesungguhnya canda itu (banyak berupa) celaan  atau pelecehan kecuali yang terkena itu tertawa.

Sedangkan kita mengetahui bahwa mencela itu perbuatan fasik (melanggar aturan agama). Hadis-hadis semisal ini adalah sahih, lumayan banyak dan juga populer (masyhur).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا وَائِلٍ عَنْ الْمُرْجِئَةِ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ar’arah,…, dari Zubaid berkata: Aku bertanya kepada Abu Wa’il tentang Murji`ah, maka dia menjawab: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bahwa Nabi SAW bersabda: “mencerca orang muslim adalah fasiq dan memeranginya adalah kufur”. [HR Bukhari]

Imam An-Nawawi, yang mashur dengan Kitab Arba’ain-nya yang mengumpulkan 42 hadits penting untuk keperluan hidup sehari-hari itu, menyatakan:  “Bentuk gurauan yang dilarang adalah yang berlebihan dan menjadi kebiasaan (terus dilakukan), karena hal itu membawa kepada banyak tertawa dan mengeraskan hati dan menyebabkan orang lalai dari berdzikir mengingat Allah”.

Gurauan sering menyebabkan perasaan orang terluka, menghasilkan kebencian dan menjadikan orang kehilangan rasa hormat dan martabat. Meskipun demikian, siapa yang bisa menghindar dari bahaya semacam itu yakni sebatas seperti apa yang Rasulullah perbuat maka gurauan itu diperbolehkan.  Gurauan Rasulullah itu jarang dilakukan dan itupun untuk kemaslahatan dan kebaikan jiwa orang yang diajak berbicara serta untuk mengakrabkan. Bergurau yang semacam ini adalah sunnah yang mustahabbah (disukai). Lihat Tuhfatul Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri (تحفة الأحوذي  المباركفوري م /10 – (ج 6 / ص 106))

 

6. Dalam Bergurau Perlu Mengenal Kedudukan Orang

Beberapa orang bergurau dengan orang lain tanpa memilah siapa yang diajak bergurau. Orang alim mempunyai hak tersendiri, orang besar harus ditempatkan sesuai dengan kedudukannya  dan seorang Syaikh juga memiliki martabat khusus. Oleh karena itu, wajib bagi seseorang untuk mengetahui dengan siapa dia berhadapan dan bagaimana memperlakukannya. Kita tidak boleh sembarangan bergurau dengan orang  bodoh dan dengan orang yang tidak kita kenal.

Dalam hal ini ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz diriwayatkan mengatakan: Awas dan berhati-hatilah dalam bergurau, karena hal itu bisa menghilangkan kehormatan diri. Sementara itu Sa’ad bin Abi Waqqas mengatakan: Batasilah dalam kamu bergurau. Berlebihan dalam bergurau membuat kamu kehilangan rasa hormat dan orang-orang bodoh bisa menyakiti hatimu.

 

7. Misal Gurauan itu Ukurannya adalah Garam bagi Makanan
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf, …, dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” HR Ibnu Majah  4183

وقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : ( من كثر ضحكه قلت هيبته ، ومن مزح استُخف به ، ومن أكثر من شيء عُرف به ) . – فيض القدر لزيد المناوي 17/ 165

Umar bin Al-Khattab RA (radhiya Allahu ‘anhu) mengatakan: “Barangsiapa yang terlalu banyak tertawa atau terlalu banyak bergurau akan kehilangan rasa hormat, dan siapa yang biasa berbuat sesuatu akan dikenal sebagai orang yang seperti itu.”

Umar bin al-Khattab RA menyatakan: Siapa yang banyak tertawanya akan berkuranglah kehilangan rasa hormat. Siapa yang suka bergurau dia akan dinilai rendah karenanya. Barangsiapa yang biasa berbuat sesuatu akan dikenal sebagai orang yang seperti itu.”. Lihat (فيض القدر لزيد المناوي 17/ 165)

Oleh karena itu, jauhilah bergurau, karena bergurau itu bisa menyebabkan anak kecil dan orang-orang kotor dan rendah menjadi berani kurang ajar kepadamu dan menyebabkan seseorang kehilangan muka (hilang kehormatan). Sebelumnya dia dianggap sebagai orang terhormat, dan gurauan menjadikan dia terhina setelah sebelumnya dihormati.

 

8. Didalam Bergurau Tidak Boleh Ada Ghibah

Ghibah adalah membicarakan seseorang mengenai sesuatu yang tidak ia sukai. Ghibah adalah penyakit yang menjijikkan. Beberapa orang mengira bahwa mereka boleh membicarakan kekurangan orang lain dan mengatakannya dengan cara bergurau, tetapi cara begini ini termasuk dari Hadits yang berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr, …, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘Rasulullah SAW berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’ (HR Muslim; 4690)

 

9. Memilih Waktu yang Tepat untuk Bergurau

Waktu bergurau yang tepat adalah seperti dalam perjalanan darat yang panjang atau dalam sebuah pesta atau perayaan di sore hari atau ketika bertemu kawan bergembira ria bersamanya dengan cerita atau anekdot ringan dan lembut, atau cerita aneh, atau bergurau ringan untuk menimbulkan rasa senang di hatinya dan kegembiraan di dalam jiwanya. Atau mengajak berhumor ria atau atau bergurau ketika terjadi persoalan yang sulit dan genting dalam keluarga dan pasangannya (apakah suami atau istrinya) lagi marah maka gurauan yang ringan bisa menghilangkan kesedihan dan mengembalikan keceriaannya.

وقيل لسفيان بن عيينة : المزاح هجنة ؟ قال : بل سنةٌ ، ولكن الشأن فيمن يحسنه ويضعه مواضعه. – شرح السنة ـ للإمام البغوى متنا وشرحا 13/ 184

Seseorang berkata kepada Sufyan bin ’Uyainah: ‘Bergurau itu dipandang rendah atau dianggap munkar (tidak ma’ruf).’Dia menjawab: ‘Bukan begitu, bergurau itu sunnah, tapi keadaannya hanya bagi orang yang dengan gurauan itu menjadi bagus dan meletakkan gurauan itu pada tempatnya (sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat yang tepat).

Sekarang ini, meskipun masyarakat membutuhkan tambahan rasa cinta dan sayang antar anggotanya dan butuh menghilangkan kecapaian dan kebosanan di dalam hidupnya, namun kondisinya sudah terlalu jauh tenggelam dalam hiburan, tertawa dan bergurau. Keadaan seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang mengisi tempat-tempat atau majelis-majelis pertemuan dan juga waktu-waktu sore mereka. Mereka membuang-buang waktu mereka dan lembaran-lembaran koran mereka penuh dengan lelucon dan hal-hal yang remeh tidak berharga.

Padahal dalam soal ini Rasulullah SAW telah memberikan peringatan sebagaimana tertulis di dalam hadits:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair,…, dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Musayyab, bahwasnya Abu Hurairah RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Kalaulah kalian tahu yang kutahu, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” HR Bukhari 6004.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani di dalam Syarahnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “ilmu” di sini adalah hal-hal yang berkaitan dengan keagungan Allah dan pembalasan-Nya bagi orang yang tidak taat dan hal-hal yang mengerikan yang terjadi ketika nyawa dicabut, kematian, di dalam kubur, dan Hari Kiamat dan hubungannya dengan banyak menangis dan sedikit tertawa. (فتح الباري  ابن حجر – ج 11 / ص 319  ).

Oleh karena itu, orang Islam baik laki-laki maupun wanita harus punya kecenderungan untuk memilih teman-teman yang salih dan serius di kehidupan mereka. Teman-teman itu akan membantunya untuk menggunakan waktunya dengan baik dan berjuang untuk Allah ta’ala dengan serius dan terus menerus. Keteladanan mereka bisa dijadikan contoh dalam kehidupannya.

Bilal bin Sa’d berkata mengenai para sahabat Nabi SAW: “Engkau mendapati mereka itu bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan,  mereka tertawa satu sama lain, dan ketika malam tiba mereka seperti rahib (pendeta). Lihat di dalam (حلية الأولياء  أبو نعيم الأصبهاني م دار الكتاب العربي/10 – ج 5 / ص 224).

Ibnu Umar RA ditanya: “Apakah para shahabat Nabi SAW tertawa?” Dia menjwab: “Ya, dan iman di hati mereka seperti gunung.”

Oleh karena itu kita wajib meniru mereka. Mereka itu ksatria di waktu siang hari dan pendeta di malam hari.

 

Penulis                        : M. Yusron Asrofie

Sumber Artikel           : tuntunanislam.id

 

Halaman Sebelumnya  : Adab Etika Bergurau (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *