Kamis, 09 Juli 2020

Adab Bertamu (1)

ADAB MENJADI TAMU

Bertamu adalah bagian dari cara bersillaturrahim, merupakan amalan utama yang dicontohkan Rasululah SAW. Dia memberikan contoh dan bantuan bagaimana kita bisa bertamu. Diantara adab bertamu adalah sebagai berikut:

1 . Bertamu Untuk Memenuhi Undangan

Salah satu yang menerima undangan muslim yang diundang, yang ditunjuk sabda Rasulullah SAW:

كتي ةلو منا جنئاجنجنونو ونوا ةنجا منراجنون نو جنجن نإ  dawadahan '' '' '' '' '. ل delanjahan '' '' ''.

Abu Hurairah RA berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; jawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi  undangan  dan mendoakan orang yang bersin ”.

Orang mengundang kita untuk berbagai kepentingan. Ada undangan untuk mengulas undangan  walimatul 'Ursy, aqiqah, lamaran Jamuan Makan biasa, bermusyawarah, ATAU untuk ulasan minat lainnya. Semua yang diundang adalah undangan khusus untuk kami, atau yang diketahui tentang kemungkaran yang disediakan, atau diketahui jamuan tuan rumah berumupa makanan / minuman haram atau yang dibeli dari yang haram.

Menghadiri undangan adalah bentuk penghormatan bagi pengundang yang memberikan perasaan senang dan bahagia. Mengundang, Mengundang undangan, Mengundang Kekecewaan untuk Pengundang. Menyenangkan orang lain merupakan bagian dari amal shaleh.

2 . Bertamu atas persetujuan itu sendiri

Bertamu dapat dilakukan atas inisitif sendiri untuk menyambung dan dilakukan sillaturrahim dengan para sahabat. Sillaturrahim memperluas rejeki dan memanjangkan diangkat, minta sabda rasulullah SAW sbb:

عن ابن شهاب قال أخبرني أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من أحب أن يبسط لهم

Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Bukhari)

Bertamu bagus dilakukan kepada sahabat yang telah lama tidak berjumpa maupun untuk menunaikan hajat lainnya seperti memberikan hadiah, oleh-oleh atau sedekah; menjenguk anggota keluarga tuan rumah yang sakit; saling bertukar informasi atau pengetahuan; mengembangkan usaha; sekedar kangen-kangenan, atau kepentingan lainnya. Apapun kepentingannya hendaklah semuanya diniatkan karena Allah semata-mata, Insya Allah membawa berkah bagi yang berkunjung maupun bagi tuan rumah.

Sebaiknya sebelum datang bertamu meminta ijin terlebih dahulu kepada tuan rumah, dan meminta saran kapan sebaiknya waktu kunjungan. Hal ini penting mengingat bahwa saat ini kesibukan seseorang semakin tinggi. Langsung datang ke rumah memang tidak ada larangan, tetapi tanpa janjian terlebih dahulu ada kemungkinan tidak ketemu atau mungkin mengganggu kesibukan utama tuan rumah. Dengan teknologi informasi yang telah berkembang saat ini, kita bisa meminta ijin melalui telepon atau sms.

Hindari pula waktu-waktu nanggung seperti waktu shalat, waktu yang dibiasakan tuan rumah untuk kegiatan penting sehari-hari seperti waktu-waktu tadarrus bakda maghrib, waktu istirahat, tengah malam dll, kecuali atas seijin tuan rumah.

3. Saat Datang Bertamu

Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat (QS An-Nur ayat 27)

Setelah dibukakan pintu, disambut tuan rumah dan dipersilahkan duduk, duduklah dengan sikap yang sopan di tempat yang ditunjukkan buat Anda. Hindarilah terlalu banyak mengamati isi rumah apalagi memata-matai penghuni rumah.

Setelah saling menanyakan kabar dan berbasa basi sejenak, segeralah sampaikan maksud kunjungan Anda.

4. Menikmati Jamuan

Kewajiban tuan rumah menghidangkan jamuan bagi tetamunya, dan tetamu hendaknya menikmati hidangan yang disajikan. Hindari mencela hidangan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan bila tidak suka, maka beliau meninggalkannya (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Makanlah dengan adab yang diajarkan Rasulullah SAW: membaca basmalah ketika hendak makan atau minum, mengambil dan menyuap makanan dengan tangan kanan, mengambil yang posisinya terdekat, dianjurkan tetap bercakap-cakap ketika makan, makan secukupnya dan tidak berlebihan, menghabiskan makanan yang diambil, dan membaca hamdalah setelah selesai (Insya Allah tentang adab makan akan dijelaskan dalam edisi tersendiri).

5.  Berterima Kasih dan Berdoa Kepada Tuan Rumah

Ucapkan terima kasih atas sambutan dan hidangan yang diberikan kepada Anda, dan berikan apresiasi yang tinggi atas kepada tuan rumah. Pandai berterima kasih adalah adalah salah satu ciri orang berakhlak mulia yang akan melipatgandakan nikmat Allah  kepadanya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS al-Baqarah ayat 172)

Kita memperoleh rejeki Allah tidak semata-mata atas jerih payah diri sendiri, tetapi selalu ada keterlibatan orang lain yang menjadi perantara datangnya rejeki tersebut. Hidangan yang berikan saat bertamu merupakan rejeki Allah  melalui perantara tuan rumah. Berterima kasih kepada tuan rumah merupakan syarat kesyukuran kepada Allah SWT.  Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ

“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”. (HR Tirmidzi)

Apa yang dilakukan tuan hendaknya kita apresiasi dengan baik dengan memberikan komentar atau pujian yang tulus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dari Dari Anas bin Malik, ia berkata:

“Bahwasanya Nabi SAW apabila berbuka puasa di suatu rumah, beliau bersabda: “Telah berbuka puasa di rumah kalian orang yang sedang berpuasa, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian dan malaikat telah turun di tengah-tengah kalian.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)

Hendaklah berdoa untuk tuan rumah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendoakan Abdullah bin Busr setelah ia menghidangkan makanan utuk beliau:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي فَقَرَّبْنَا إِلَيْهِ طَعَامًا فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ أُتِيَ بِتَمْرٍ فَكَانَ يَأْكُلُ وَيُلْقِي النَّوَى بِإِصْبَعَيْهِ جَمَعَ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى قَالَ شُعْبَةُ وَهُوَ ظَنِّي فِيهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَأَلْقَى النَّوَى بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ ثُمَّ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الَّذِي عَنْ يَمِينِهِ قَالَ فَقَالَ أَبِي وَأَخَذَ بِلِجَامِ دَابَّتِهِ ادْعُ لَنَا فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

Dari Abdullah bin Busr ia berkata; Rasulullah SAW mengunjungi ayahku, kemudian kami menyuguhkan makanan untuk beliau. Beliau pun makan sebagian darinya, kemudian beliau diberi kurma, dan beliau makan serta membuang bijinya menggunakan dua jari beliau. Abdullah bin Busr menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah. Syu’bah berkata; dan itu yang aku yakini insya Allah. Dan beliau membuang biji kurma diantara kedua jarinya. Kemudian beliau diberi minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan kepada orang yang ada di samping kanannya. Abdullah bin Busr berkata; ayahku dalam keadaan memegang kendali hewan kendaraannya berkata; doakan untuk kami! Kemudian beliau berdoa: “Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum waghfir lahum warhamhum.” (Ya Allah, berkahilah mereka pada rizki yang telah diberikan kepada mereka, dan ampunilah dosa mereka, serta terima kasih merekah. ”(HR Tirmidzi)

 

Penulis: Agus Sukaca

Sumber: http://tuntunanislam.id/adab-bertamu/

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *