Rabu, 05 Agustus 2020

Beberapa Ketentuan Puasa (3)

Orang-orang yang Berat Menjalankan

Kelompok ketiga dari orang-orang yang diberi dispensasi (rukhsah) untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan adalah al-lażīna yutiqūnahu (orang-orang yang berat menjalankannya). Di atas telah dijelaskan makna harfiah dari kata yutiqūnahu. Yang dimaksud dengan al-lażīna yutiqūnahu adalah orang-orang yang mampu mengerjakan puasa tetapi dengan susah payah atau dengan amat berat. Mereka ini adalah orang tua lanjut usia, wanita hamil dan wanita menyusui, orang sakit menahun yang sulit diharapkan sembuh, serta orang-orang lain yang menjalani pekerjaan mereka yang amat berat seperti kuli (porter) pelabuhan, pekerja konstruksi jalan, atau buruh tambang.[18]

Mereka ini diperbolehkan tidak berpuasa dan sebagai gantinya mereka membayar fidyah berupa memberi makan satu orang miskin satu kali makan untuk satu hari tidak berpuasa. Apabila mereka juga tidak mampu membayar fidyah karena fakir, maka mereka tidak diwajibkan membayar fidyah karena “Allah tidak membebani seseorang kecuali sejauh yang mampu dilakukannya” (Qs [2]: 286) dan “Allah tidak membebani seseorang kecuali sejauh apa yang diberikan Allah kepadanya” (Qs [65]: 7).

 

Membayar Fidyah

Mengenai cara membayar fidyah, telah dijelaskan secara cukup detail dalam fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid. Di sini dikutip berapa hal pokok dari fatwa tersebut. Tidak ada ketentuan bahwa fidyah wajib dibayar secara diecer setiap hari tidak puasa. Oleh karena itu, boleh dilakukan pembayaran fidyah secara sekaligus baik sejak saat mulai tidak puasa di bulan Ramadhan maupun setelah selesai seluruh bulan Ramadhan karena itu lebih memudahkan.

Demikian pula, sesuai zahir ayat 184 al-Baqarah di atas, boleh seluruh fidyah itu diberikan kepada satu orang miskin saja atau, bilamana fidyah berupa memberikan makanan, boleh diberikan dalam satu hari saja kepada sejumlah orang miskin sesuai jumlah hari tidak berpuasa (memberi makanan satu hari saja untuk 30 orang miskin karena membayar fidyah puasa 30 hari). Ini merupakan pandangan yang dianut oleh kebanyakan ulama Syafiiah, Hanabilah, dan sejumlah ulama Malikiah. Ibn Muflih (w 763/1362) dan Ibn al-Mardawi (w 885/1480), keduanya dari mazhab Hanbali, menegaskan, “Boleh menyalurkan pemberian makan kepada satu orang miskin secara sekaligus.”[19] Artinya seluruh fidyah boleh diberikan kepada satu orang miskin saja. Penegasan yang sama juga dikemukakan oleh Imam an-Nawawi (w 676/1277), seorang ulama Syafi’iah, dalam kitab Raudat at-Talibin.[20]

Al-Bahuti (w 1046/1636) dalam Kasysyaful-Qina’ mendasarkan kebolehan tersebut kepada zahir ayat fidyah 184 al-Baqarah di atas.[21]

Seperti halnya memberikan seluruh fidyah boleh kepada satu orang, maka boleh pula memberikan fidyah, bila dalam bentuk makanan siap santap, kepada tiga puluh orang miskin dalam satu hari saja, sesuai dengan zahir ayat fidyah di atas, juga sesuai dengan yang dipraktikkan oleh Sahabat Anas Ibn Malik ra, salah seorang Sahabat Nabi saw yang ketika di usia tua tidak mampu lagi berpuasa, lalu beliau mengundang makan 30 orang miskin untuk satu hari saja.[22]

Adapun mendahulukan fidyah sebelum masuknya bulan Ramadhan tidak dapat dibenarkan karena fidyah itu adalah pengganti dari suatu kewajiban yang tidak dapat dilaksanakan karena uzur tetap. Sementara puasa Ramadhan sendiri, sebelum masuknya bulan Ramadhan, belum wajib dilaksanakan, jadi belum ada kewajiban sehingga karenanya tidak mungkin ada fidyah pengganti kewajiban.

Mengenai wujud fidyah yang dikeluarkan dapat berupa (1) makanan siap santap seperti dilakukan oleh Anas Ibn Malik ra dalam riwayat Ibn Mallas di atas, (2) bahan pangan seperti gandum, cantel, tamar, atau, di Indonesia, beras. Hal ini dipahami dari keumuman kata ta’am (makanan) di dalam ayat fidyah (Q. 2: 184) di atas. Dalam Hadis-Hadis Nabi saw kata ta’am dipakai dalam dua makna, yaitu makanan siap santap sebagaimana dalam Hadits Jābir yang menjelaskan sabda Rasulullah SAW bahwa apabila seseorang diundang makan (du‘iya ila ta‘am) hendaklah ia memenuhinya.[23] Dalam Hadis ini kata ta’am berarti makanan siap santap. Sementara itu dalam Hadis lain kata ta’am berarti bahan pangan, misalnya dalam Hadis Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW suatu ketika lewat dekat seorang lelaki yang menjual bahan pangan (ta’am).[24] Dalam Hadis ini dan banyak Hadis lainnya kata ta’am berarti bahan pangan. Jadi oleh karena itu fidyah dapat diberikan dalam bentuk makanan jadi atau dalam bentuk bahan pangan. Yang dimaksud dengan bahan pangan di sini adalah bahan pangan yang berupa makanan pokok seperti gandum, cantel atau tamar. Di Indonesia bahan pangan pokok adalah beras, yang dibayarkan sebanyak 6 ons untuk satu hari meninggalkan puasa karena tidak mampu berpuasa.

Fidyah dapat dibayarkan dalam bentuk uang senilai makanan atau bahan pangan yang diberikan kepada orang miskin. Mengenai pembayaran fidyah dengan uang ini memang terdapat perbedaan pendapat ulama. Ada fatwa-fatwa yang tidak membenarkannya, sementara fatwa-fatwa lain membolehkannya. Apabila dilihat dari segi sifat likuid dari uang sehingga lebih luwes dan dapat digunakan untuk kebutuhan yang diprioritaskan oleh orang miskin, maka pendapat yang membolehkan pembayaran fidyah dengan uang adalah lebih rajih. Ulama-ulama Hanafi ketika membolehkan memberikan zakat fitrah kepada orang miskin dalam bentuk uang beralasan bahwa uang lebih likuid sifatnya dan lebih luwes penggunaannya. Selain itu juga karena alasan bahwa zakat fitrah dan juga fidyah adalah kewajiban yang terletak dalam zimmah, bukan kewajiban kehartaan yang dikaitkan kepada jenis harta tertentu. Atas dasar itu dapat ditegaskan bahwa pembayaran fidyah dalam bentuk uang adalah sah dan memenuhi ketentuan perintah fidyah.

 

Mengerjakan Kebajikan dengan Suka Rela

Penggalan akhir ayat 184 berbunyi: Barang siapa mengerjakan kebajikan dengan suka rela, maka itu lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kata tatawwa‘a (تطوع , yang dalam tafsir ini diterjemahkan ‘mengerjakan kebajikan dengan suka rela’) berasal dari kata ‘taat’ sehingga berarti menjalankan secara suka rela perbuatan kebajikan yang tidak diwajibkan guna menunjukkan ketaatan. Dengan demikian bagian pertama dari penggalan akhir ayat di atas bermakna ‘barang siapa dengan suka rela menjalankan kebajikan lebih dari yang diwajibkan, maka itu lebih baik baginya.’

Terkait dengan bagian pertama dari penggalan akhir ini umumnya para mufasir menghubungkannya kepada pernyataan sebelumnya Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya (sehingga tidak berpuasa) diwajibkan membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Bagian pertama dari penggalan akhir tersebut dipandang menjelaskan masalah pembayaran fidyah dalam statemen ini. Atas dasar itu, menurut tafsir-tafsir tersebut, ada tiga kemungkinan kebajikan suka rela terkait fidyah, yaitu:
1)    memberi makan lebih dari satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa,
2)    memberi makan satu orang miskin lebih dari satu porsi untuk satu hari tidak berpuasa, atau
3)    melakukan puasa, meskipun tidak wajib, disamping membayar fidyah yang diwajibkan, artinya menggabungkan fidyah dan puasa.[25]

Muhammad Rasyid Rida tidak menyetujui penafsiran ini dan menganggap tidak tepat menghubungkan frasa tersebut kepada soal pembayaran fidyah saja karena, menurut beliau, tidak masuk akal orang yang sudah digugurkan kewajibannya dan diganti dengan fidyah didorong lagi untuk mengerjakan kebajikan tambahan di luar kewajiban. Menurut beliau, frasa itu berkaitan dengan kewajiban puasa yang disebutkan pada permulaan ayat 184 dan menjelaskan bahwa orang diseyogiakan tidak hanya mengerjakan kewajiban puasa Ramadhan saja melainkan juga mengerjakan puasa-puasa lain yang tidak diwajibkan sebagai ibadah yang bersifat suka rela.[26] Abu Hayyan, sebelumnya, juga mencatat adanya penafsiran seperti ini dan beliau menilainya terlalu jauh.[27] Memang penafsiran ini kelihatannya meloncati tiga kelompok orang yang diberi keringanan dalam menjalankan puasa. Barangkali lebih tepat bagian penutup ayat 184 ini dipandang sebagai penjelasan mengenai ketiga kelompok orang tersebut.

Dari tafsir bagian ayat mengenai ketiga kelompok orang tersebut terlihat bahwa tidak ada ukuran yang pasti dan kategoris mengenai sakit, perjalanan, atau keadaan memberatkan yang menjadi alasan tidak berpuasa Ramadhan. Hal itu sangat kondisional, artinya tergantung kepada keadaan masing-masing orang bersangkutan. Bagian penutup ayat ini memberikan pegangan kepada masing-masing orang tersebut dalam menilai keadaan diri mereka bahwa asas yang menjadi patokan bagi mereka adalah bahwa sedapat-dapatnya mereka melaksanakan puasa Ramadhan, sepanjang pelaksanaan puasa itu tidak menimbulkan mudarat atau tidak membuat mereka menderita secara berlebihan, karena pelaksanaan puasa tersebut –meskipun boleh tidak dijalankan atas alasan sakit, dalam perjalanan atau keadaan memberatkan– adalah suatu kebajikan yang akan memberikan kebaikan kepada mereka sendiri.

Terdahulu telah dikemukakan bahwa sakit atau perjalanan itu –dan keadaan memberatkan dapat pula dianalogkan dengan ini– ada tiga macam, yaitu (1) sakit atau perjalanan yang sama sekali tidak memungkinkan untuk melakukan puasa dan kondisi ini mengharuskan iftar, (2) sakit atau perjalanan yang masih memungkinkan melaksanakan puasa tetapi sangat membuat orang menderita dan dalam kondisi ini orang lebih afdal tidak berpuasa karena syariah tidak bertujuan untuk menderitakan penganutnya, dan (3) sakit atau perjalanan yang sangat memungkinkan melaksanakan puasa dengan tanpa banyak kesukaran sehingga puasa dalam kondisi ini menjadi lebih afdal dilaksanakan.

Terkait kondisi ketiga yang disebutkan di atas, bagi penggandrung ibadah, penutup ayat ini dengan kedua penggalannya merupakan kabar gembira dan sekaligus pemberi kemantapan hati bahwa puasa yang dilakukannya, meskipun saat itu tidak wajib ia laksanakan dan boleh ia tunda, merupakan suatu kebajikan yang akan membawa kebaikan yang lebih besar kepada dirinya. Bagi orang yang melaksanakan ibadah sekedar memenuhi kewajiban, maka penutup ayat ini dengan kedua penggalannya secara tidak terpisah merupakan peringatan agar sedapatnya dan diseyogiakan ia melaksanakan puasa, meskipun ada alasan baginya untuk menunda pelaksanaannya di hari lain, karena hal itu merupakan suatu kebajikan yang lebih baik baginya dan karena pelaksanaan puasa itu menjadi tujuan utama dalam pesan ayat-ayat pada pase ini.

Begitu pula orang yang mengalami kesukaran (masyaqqah), seperti orang lanjut usia, wanita hamil dan atau menyusui, pekerja berat dan semacam itu, sedapatnya dan diseyogiakan berpuasa sepanjang tidak membuat mereka terlalu menderita. Memang tidak ada ukuran yang eksak tentang masyaqqah itu dan penentuannya diserahkan kepada yang bersangkutan untuk mengukur kemampuan diri mereka dengan patokan bahwa sedapatnya orang harus berpuasa karena hal itu akan lebih baik jika hikmah dan makna spiritual dari puasa itu benar-benar dipahami.

Jadi, penutup ayat tersebut hendak mengantisipasi kemungkinan orang bermudah-mudah untuk menentukan tidak berpuasa ketika menghadapi salah satu keadaan di atas. Pada sisi lain penutup ayat itu juga hendak menegaskan nilai spiritualitas dan makna simbolik yang mendalam yang terdapat pada puasa sehingga karenanya sedapat mungkin dilaksanakan. Wallahu a’lam.

 

Penulis             : Prof Dr. H. Syamsul Anwar

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

 

Halaman Sebelumnya: Beberapa Ketentuan Puasa (2)……

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *