cool hit counter
gambar

I. Muqaddimah

2.    Kehidupan Global

Dalam beberapa dekade mendatang umat manusia dan realitas kehidupan global masih akan menghadapi dunia yang ditandai oleh lima realitas besar (great reality), yakni pertama, hegemoni Amerika Serikat (AS); kedua, berlanjutnya dominasi peradaban Barat; ketiga, kekuasaan pasar (market forces) dan globalisasi; keempat, pergeseran teknologi industri ke teknologi digital, berikut kesenjangan digital (digital divide), dan kelima, terhimpitnya peradaban Islam di tengah dinamika peradaban global yang bercorak post-modern. Globalisasi yang menjadi kekuatan dominan dalam dunia abad ke-21 di satu pihak membuka ruang dunia baru yang semakin bebas dari sekat-sekat negara dan primordialisme lama, tetapi pada saat yang sama membawa hegemoni ekonomi dan politik negara-negara maju yang tidak bebas dari kepentingan ekonomi-politik sepihak serta membawa muatan infiltrasi kebudayaan globalisme yang berbasis neoliberalisme dan neokapitalisme.
 
     Perkembangan global tersebut diwarnai beberapa paradoks. Bahwa proses modernisasi dan industrialisasi tingkat lanjut telah menghadirkan realitas-realitas baru, namun pada saat yang sama mengikis kearifan-kearifan lama yang sesungguhnya dibutuhkan oleh manusia, seperti keberagamaan atau relijiusitas, kebersamaan atau komunalitas, dan kearifan budaya lokal. Globalisasi informasi di satu sisi telah mampu meleburkan sekat-sekat geografis antarnegara karena kita dapat mengikuti perkembangan mengenai apa yang terjadi di belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat. Akan tetapi di sisi lain sekat-sekat budaya terasa semakin mengkristal dengan semakin meluasnya konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan keyakinan serta kepentingan politik dan ekonomi.

Sementara itu, dampak buruk dari globalisme atau globalisasi ekonomi yang didesakkan dari atas, dari pusat ke pinggiran (periferi), mulai memperlihatkan sosoknya sebagai ancaman baru bagi perkembangan masyarakat, khususnya di negara-negara Dunia Ketiga. Paling sedikit dapat ditemukan sembilan ancaman globalisasi yang menghantui dunia saat ini dan di masa-masa yang akan datang. Pertama, pengaburan batas-batas kultural dan geografis/ekologis sehingga kemampuan menyesuaikan diri dan daya tahan menurun, terutama bagi masyarakat atau bangsa yang lemah. Kedua, terbaginya ekonomi dunia menjadi dua bagian, yaitu negara-negara yang kaya tenaga otot serta negara-negara yang kaya tenaga otak. Ketiga, gaya pikir dipengaruhi oleh produsen informasi dan penyebarnya yang dominan, sehingga menimbulkan gangguan yang tidak dapat diadaptasi di belahan Selatan. Keempat, sepintas lalu uang dipikat dan mengalir dengan gegap-gempita ke Selatan, tetapi kenyataannya uang diam-diam lebih banyak mengalir ke Utara. Sedang arus barang  dan tenaga kerja juga tidak seimbang. Kelima, hak-hak manusia yang dipropagandakan adalah versi Barat dengan bersandar pada individualisme. Hak-hak kelompok banyak terlanggar dan diabaikan, serta hak-hak manusia dikalahkan oleh hak-hak modal. Keenam, terancamnya demokrasi oleh globalisme. Demokrasi berarti banyak pilihan, multiopsional, tiap-tiap manusia dan negara bebas memilih yang terbaik untuk dirinya. Sedangkan globalisme mengurangi penganekaragaman di dunia yang sangat bervariasi. Ketujuh, konsumsi dirangsang oleh iklan dapat dilihat setiap waktu dalam media massa, kebutuhan didikte oleh nagara ekonomi kuat sesuai dengan gagasan mereka dan internasionalisasi pertanian dan pangan menentukan pemenang dan pekalah dalam persaingan yang disanjung-sanjung melebihi kerjasama. Kedelapan, globalisasi sistem pangan menambah kesenjangan negara kaya dan miskin, serta merangsang konsumerisme yang hampir tak terbatas. Kesembilan, kontak budaya terjadi dalam skala besar, cepat, multidimensional dan serempak, sehingga tidak dapat dielakkan terjadinya peniadaan budaya, kesalahan adaptasi, dan kegoncangan budaya. Pengaruh mencolok terlihat dalam kultur pop, baik dalam musik, informasi, bahasan, film, makanan, pakaian, gaya hidup, administrasi publik dan usaha, mode dan kegemaran, arsitektur, rekreasi, sikap mental, pertanian, maupun pendidikan. Hal yang harus diwaspadai adalah lunturnya identitas dan kesalahan asimilasi, yang mengancam masa depan peradaban.
Meluasnya peradaban global dalam konteks dunia Islam juga memunculkan beragam pemikiran Islam dan paham keagamaan seperti konservatisme, fundamentalisme, radikalisme, dan tradisionalisme, yang berhadapan dengan kecenderungan liberalisme dan sekularisme yang serba ekstrem; yang masing-masing cenderung melakukan klaim kebenaran sepihak dan menafikan pihak lain. Selain tidak produktif bagi kemajuan dunia Islam, kecenderungan demikian tidak menyelesaikan problem kemiskinan, keterbelakangan, dan rendahnya mutu pendidikan dan kualitas hidup umat yang dihadapi Dunia Islam. Pada saat yang sama paradoks besar juga terjadi dalam kehidupan umat Islam ketika umat Islam saat ini sedang mendapat sorotan negatif dengan label teroris dan lekat dengan citra keterbelakangan, sedangkan populasi umat Islam dan kegairahan untuk mengenal Islam di negara-negara Barat semakin meningkat. Kecenderungan global tersebut menjadi sebuah tantangan besar bagi umat Islam, khususnya Muhammadiyah, untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil-alamin dan mampu menjadi bagian dari pemecahan atas berbagai problematika masyarakat modern.
 
Perkembangan global yang mutakhir menunjukkan perkembangan dunia internasional yang menarik. Pertama disahkannya ASEAN Charter oleh sepuluh negara anggota ASEAN yang berkomitmen untuk menjadi satu komunitas ekonomi, satu komunitas keamanan, dan satu komunitas sosial-budaya. Kedua, bergesernya pusat titik berat gravitasi geo-politik, geo-ekonomi, dan geo-sosial-budaya dari Eropa dan Amerika Utara ke Asia dengan pusat utamanya China. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam mau tidak mau harus menghadapi dan beradaptasi dengan perkembangan global tersebut.

 
3.  Kehidupan Umat Islam

Umat Islam di Indonesia merupakan penduduk terbesar, sedangkan pada tingkat dunia menunjukkan kecenderungan yang terus menaik sehingga total jumlah muslim di dunia saat ini sekitar 1,5 miliar orang. Jumlah umat Islam yang cukup besar itu merupakan potensi yang dapat menjadi kekuatan baik dalam kehidupan nasional maupun internasional. Kesadaran umat Islam sejak tumbuhnya era kebangkitan pada era tahun 1980-an telah memacu kemajuan negara-negara muslim maupun komunitas umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, sehingga memberikan harapan positif bagi perkembangan ke depan. Namun diakui bahwa masalah dan tantangan umat Islam sangatlah berat seperti masalah kemiskinan, ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, marjinalisasi politik, dan secara umum masih terbilang sebagai bangsa dan negara yang sedang berkembang atau tertinggal dari bangsa dan negara maju. Dalam sejumlah umat Islam di sejumlah negara masih menghadapi kegamangan seperti dalam menghadapi isu-isu hak asasi manusia, demokrasi, pengakuan terhadap hak-hak perempuan, perkembangan pemikiran kontemporer, dan masalah-masalah struktural yang bersifat aktual di era post-modern.
 
Fenomena meningkatnya populasi umat Islam dan kegairahan untuk mengenal Islam di negara-negara Barat merupakan sebuah indikasi positif bagi perkembangan dunia Islam. Perkembangan positif Islam di Eropa dan Amerika Serikat maupun di negara maju lainnya seperti di Jepang dan Cina, menunjukan fenomena baru tentang eksistensi umat Islam di setiap kawasan negara maju dengan daya adaptasi, akulturasi, dan integrasi yang memberikan harapan bagi masa depan Islam di dunia. Hanya saja perkembangan tersebut tidak akan banyak berarti tanpa diiringi kebangkitan umat Islam di negara-negara Islam sendiri untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara Barat dan membangun konstruksi baru dalam kaitan Islam dan Barat.
 
Era kebangkitan Islam hanya akan benar-benar terwujud jika umat Islam mau melakukan introspeksi diri terhadap sebab-sebab ketertinggalan dan keterbelakangannya dan tidak larut dalam kebencian terhadap hegemoni dunia Barat dan kecenderungan untuk menyalahkan pengaruh nilai-nilai Barat sebagai ancaman bagi umat Islam. Dialog antara Islam dan Barat maupun dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi merupakan jalan baru untuk meminimalisasi saling permusuhan dan konflik sekaligus dalam upaya membangun tatanan dunia baru yang lebih damai, adil, demokratis, bermartabat, dan beradab. Kondisi yang positif itu bahkan dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Islam dan umat Islam sedunia untuk membangun tatanan dunia muslim yang lebih maju, makmur, adil, bermartabat, dan berdaulat sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Dengan demikian umat Islam baik pada setiap negara maupun dunia mampu menjadi kekuatan baru dan dalam jangka panjang mampu menampilkan peradaban utama sebagaimana pengalaman sejarah di era kejayaan Islam di masa lampau.
 
Keberadaan umat Islam di Indonesia menunjukkan dua kondisi antara kemajuan dan masalah atau tantangan. Perkembangan mutakhir menunjukkan partisipasi umat Islam dalam dinamika kehidupan kebangsaan cenderung positif, yang ditandai dengan masuknya elite dan kader umat ke dalam berbagai struktur pemerintahan, sekaligus terjadinya penguatan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi Islam dalam peran-peran politik kebangsaan. Penguatan partisipasi ini dimulai sejak era reformasi dengan merebaknya politik santri yang ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh santri dalam pentas politik nasional serta berperannya kembali sejumlah partai politik Islam. Dalam bidang ekonomi ditandai dengan tumbuhnya sistem ekonomi syariah yang memberikan harapan lebih adil dan sampai kini menunjukkan kecenderungan yang positif dengan semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Pertumbuhan bank-bank syariah serta lembaga keuangan lain seperti asuransi atau pegadaian syariah masih akan mewarnai denyut nadi perekonomian Indonesia ke depan. Harapan ke depan baik dalam dunia politik maupun ekonomi syariah ialah semakin terujinya politik dan ekonomi Islam sebagai kekuatan baru yang lebih bersih, adil, maju, dan benar-benar teruji menjadi suatu alternatif yang lebih unggul atau utama dari yang lainnya, sehingga bukan sekadar formalitas dan pengakuan normatif belaka.
 
Namun umat Islam Indonesia juga tidak lepas dari masalah dan tantangan yang berat. Pertumbuhan secara kuantitas tidak sepadan dengan kualitas. Umat Islam masih menghadapi masalah kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan dan kesahatan, tertinggal dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan rendahnya kualitas hidup. Peran organisasi dan partai politik Islam belum maksimal dalam meningkatkan kualitas kehidupan umat Islam di sejumlah bidang, sehingga masih dituntut untuk meningkatkan peranannya secara lebih optimal. Kekuatan-kekuatan umat Islam dituntut untuk menyusun agenda dan langkah-langkah strategis di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial-budaya secara tersistem sehingga dapat melakukan transformasi kehidupan umat menuju pada keunggulan di semua bidang kehidupan.
 
Dalam pembinaan spiritualitas dan akhlaq umat Islam memerlukan transformasi yang bersifat fungsional, sehingga melahirkan kesalihan yang dinamis. Fenomena kekeringan spiritualitas yang dialami masyarakat modern telah melahirkan respons berbagai bentuk majlis taklim, kelompok pengajian, majelis zikir, serta kelompok-kelompok kajian keagamaan lain. Fenomena merupakan hal yang positif, tetapi harus disikapi secara kritis oleh umat Islam agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya terjebak pada kecenderungan eskapisme (pelarian spiritual) yang melahirkan kesalihan pasif atas masalah-masalah sosial yang berat tanpa mampu memberikan solusi yang memadai bagi persoalan-persoalan nyata yang dihadapi umat. Pengembangan spiritualitas dalam Islam haruslah melahirkan kesalehan individual dan kesalehan sosial, peduli dan mampu memberikan pemecahan-pemecahan atas persoalan nyata umat dan masyarakat, serta melahirkan muslim sebagai pelaku perubahan sebagaimana pesan Islam sebagai agama bagi rahmatan lil-‘alamin.
 
Khusus di bidang pendidikan umat Islam semakin memerlukan lembaga pendidikan Islam yang inovatif dan berkualitas unggul seiring dengan pertumbuhan kelompok kelas menengah muslim yang semakin luas. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi secara sepadan, maka fenomena larinya generasi muda muslim ke lembaga pendidikan non-muslim yang dinilai lebih berkualitas masih akan terus terjadi, sehingga dalam jangka panjang akan merugikan umat Islam sendiri.   Pendidikan Islam yang lebih inovatif, unggul, dan sejalan dengan kepentingan umat dan perkembangan zaman yang semakin kompetititf. Transformasi pendidikan tersebut perlu sejalan dan disertai dengan usaha-usaha membangun kekuatan dan kemandirian di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya secara terpadu sehingga menjadi suatu keniscayaan bagi kepentingan kejayaan masa depan Islam. 

Perkembangan dunia Islam ke depan sebenarnya memberikan harapan, termasuk perkembangan Islam di negeri-negeri Barat, tetapi memerlukan usaha-usaha terobosan, kerjasama, pembaruan, dan proyeksi yang lebih penting lagi pemikiran dan mentalitas yang lebih unggul. Sindrom rendah diri (inferiority complex) yang selama ini melanda umat Islam sampai batas tertentu masih mewarnai perjalanan umat Islam di berbagai belahan dunia dengan ditandai kegamangan dan sikap reaktif dalam merespon berbagai persoalan yang menimpa umat Islam, termasuk dalam menghadapi Barat. Umat Islam perlu mengubah orientasi perjuangan dari sikap serba menentang (jihad li’l-mu’aradhah) ke sikap berani menghadapi tantangan (jihad li’l-muwajahah), sehingga tampil menjadi warga dunia yang bermental unggul atau memiliki tradisi besar (great tradition) sebagaimana era kejayaan Islam di masa keemasan.

<< Previous Bab I(2)     Bab I(3) Next >>


iklan

Berita Terpopular

Terkait Adanya pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran besok Sel ... selengkapnya
Kuala Lumpur- Muhammadiyah bukanlah kelompok Islam minimalis, tetapi Muhammadiyah ialah kelompok ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Bahwa Nabi saw. melihat warna bekas wangian pengantin di t ... selengkapnya
iklan
img
img
img
img
img
img
img

Halaman Advertorial

right left
  • img
  • img
  • img
  • img