Jum'at, 22 September 2017

Tafsir Al-Qur'an

POLA KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM AL-QIR'AN (3)

PROF. DR. H MUHAMMAD CHIRZIN, M.AG.
GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA DAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawa-ih yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang anak datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam meminta sesuatu atas suruhan ibunya. Rasulullah menjawab, “Kami tidak punya apa-apa hari ini.” Si anak berkata, “Ibuku mengharapkan agar aku diberi pakaian  tuan.” Rasulullah membuka baju gamisnya dan menyerahkannya kepada anak itu. Sementara itu, beliau sendiri tinggal di rumah tanpa memakai baju  gamis. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai petunjuk kepada Rasulullah agar tidak terlalu “mengulurkan tangan”.(1)

Amtsal mursalah ialah amtsal yang berupa kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafal tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai masal, seperti bagian dari ayat-ayat berikut.

 Para malaikat berkata: “Hai Luth, kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh sudah dekat?”. (Hud [11]: 81)

Yang dimaksud sebagai amtsal mursalah adalah bagian akhir ayat: bukankah subuh sudah dekat? Karena kesombongan mereka di muka bumi dan karena rencana mereka yang jahat, rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan berlakunya ketentuan Allah yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapati penggantian Sunnah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan dalam Sunnah Allah itu. (Fathir [35]: 43) Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing- masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Al-Israa` [17]: 84)
Yang dimaksud sebagai amtsal mursalah adalah bagian awal ayat: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [5]: 100)

Yang dimaksud sebagai amtsal mursalah adalah bagian awal ayat: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu”. Di antara faedah-faedah amtsal adalah sebagai berikut. Pertama, menonjolkan sesuatu yang ma’qul (yang hanya dapat dijangkau akal;
abstrak) dengan bentuk konkret yang dapat diindera manusia, sehingga akal dapat menerimanya, sebab pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak, kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk inderawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai orang yang menafkahkan harta dengan riya‘, ia tidak akan mendapatkan pahala sedikit pun dari perbuatannya.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebutnyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. "(Al-Baqarah [2]: 264)

Kedua, menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu yang tampak. "Orang-orang yang makan, mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berpendapat sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu sebelum datang larangan; dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang kembali mengambil riba, maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah [2]: 275)

Ketiga, mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam contoh ayat-ayat terdahulu.

Keempat, mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang yang menafkahkan harta di jalan Allah; Ia akan memberikan kepadanya kebaikan
yang berlipat ganda. "Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah [2]: 261)

Kelima, menjauhkan, jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang larangan bergunjing, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, kecurigaan, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. "(Al-Hujurat [49]: 12)

Keenam, untuk memuji orang yang diberi matsal, seperti firman Allah Subbhanahu wa Ta’ala tentang para sahabat, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaan-Nya. Tanda- tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya,karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang Mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. "(Al-Fath [48]: 29)

Demikianlah keadaan para sahabat. Pada mulanya mereka hanya golongan minoritas, kemudian tumbuh berkembang hingga keadaannya semakin kuat dan mengagumkan hati karena kebesaran mereka.

Ketujuh, untuk menggambarkan dengan matsal itu sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya tentang keadaan orang yang dikaruniai Kitabullah tetapi tidak mengamalkannya. "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami; pengetahuan tentang isi Al-Kitab, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orangorang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (Al-A’raf [7]: 175-176).

Kedelapan, amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam pemberian nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran." (Az- Zumar [39]: 27).l

(1)Jalaluddin As-Suyuthi, Lubabun
Nuqul fi Asbabin Nuzul (Kairo: Maktabah
ash-Shafa, 2002), 169.

Menu Terkait