Kamis, 27 Juni 2019

Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA (Ketua 2005 - sekarang)

Bagian II

 
Seusai terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah hasil Mukatamar ke-45 yang belangsung di Malang (periode 2005-2010), Din Syamsuddin senantiasa istiqomah mengabdikan amal dakwahnya. Sosok dan pemikiran yang humanis demokratis kian tampak jelas dalam langkah-langkah gerakannya yang tak henti menerjang sekat-sekat “kekakuan dan kebekuan” gerakan dakwah Islam. Dengan sikapnya yang jernih tapi berani, Din Syamsuddin gencar menyuarakan perlunya Islam membuka diri terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan berdunia sebagai manifestasi rahmatan lil’alamin.    
 
Negara-negara maju, seperti AS, Uni Eropa, Cina, India dan Jepang, harus ikut berinvestasi dalam menciptakan perdamaian dunia. Ketiadaan perdamaian dan krisis-krisis global selama ini harus diakui adalah akibat kegagalan sistem dunia yang didukung negara-negara maju. Demikian hal ini ditegaskan Din Syamsuddin dalam kapasitasnya sebagai Presiden Kehormatan WCRP dan Presiden ACRP pada momentum World Summit on Peace (WSP) dan International Leadership Conference (ILC) dihadapan lebih dari 300 tokoh dunia dari berbagai negara yang diselenggarakan di New York (2009).
 
“Inilah saatnya bagi bangsa-bangsa cinta damai dan keadilan untuk bangkit dan bekerjasama membangun perdamaian sejati, menghentikan kezaliman dan penjajahan baru dalam berbagai bentuknya. Maka perlu ada sistem altermatif terhadap sistem dunia yang rusak selama ini untuk berorientasi memecahkan masalah umat manusia, seperti mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, melenyapkan penyakit menular, memperbaiki kerusakan lingkungan, menghentikan perang dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Dalam kaitan ini, agama penting sekali berperan dengan mendorong etika agama itu sendiri untuk perubahan, perbaikan dan kemajuan. Namun hal ini hanya mungkin terjadi jika agama menampilkan misi sucinya sebagai penebar rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil 'alamin).” Serunya dalam kesempatan yang lain.
 
Selama menakhodai Muhammadiyah, Din Syamsuddin cenderung menampilkan langgam kepemimpinan yang akomodatif-rekonsiliatif, sembari terus beriktiar meredam ketegangan antar pemeluk agama serta mencari corak gerak perjuangan yang kontributif dan saling mendamaikan. Paling tidak, buah dari ikhtiar itu sudah terlihat dalam bingkai hubungan antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama yang cenderung lebih kondusif sebagai dua ormas utama pilar bangsa. Dengan usahanya yang gigih, Din Syamsuddin dapat dikata telah mampu pula membuktikan pada dunia bahwa Persyarikatan Muhammadiyah bukan hanya ormas Islam terbesar di dunia dilihat dari spektrum amal usahanya. Namun juga, mampu meneguhkan eksistensi dan peran kekinian Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan dan pencerahan menuju masyarakat utama yang menjunjung tinggi perdamaian dan kebersamaan umat manusia semesta. 
 
 

Menu Terkait