Minggu, 25 Juni 2017

Akhlaq

SAATNYA KITA WASPADA!
MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Tidak tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta


Mas Danarto (2008) – mengutip al-Hujwiri — menyatakan: “Ada seseorang yang bernama Abu Halim Habib bin Salim al-Ra’i, salah seorang sahabat Salman al-Farisi. Ia — dengan keshalihannya — bisa menjinakkan segerombolan ‘srigala’ yang benar-benar tengah meneteskan air liurnya ketika melihat
‘biri-birinya’ yang ia gembalakan di tepi Sungai Eufrat. Menurutnya, hal itu mampu dikerjakannya karena — dalam seluruh hidupnya — hasratnya selalu ia selaraskan dengan ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah Muhammad saw. Bahkan, dikisahkan pula, ketika ada seseorang yang memintanya untuk memberi nasihat, Abu Halim Habib bin Salim al-Ra’i berkata dengan penuh kearifan: ‘’Janganlah kau jadikan hatimu menjadi keranjang keinginan hawa nafsumu dan janganlah kau jadikan perutmu menjadi periuk barang-barang haram”. Demikian kurang lebih apa yang ditulis oleh Ali ibn Utsman al-Hujwiri tentang Abu Halim Habib bin Salim al-Ra’i dalam bukunya “ Kasyful Mahjûb”.

Kisah itu — menurutnya — adalah kejadian faktual, bukan sekadar olah-imajinasi dari penulisnya, meskipun validitasnya bisa saja diragukan, karena dikutip dengan tanpa penelitian yang cermat layaknya sebuah penelitian Hadits dengan metode takhrîj, atau dengan menggunakan metode kritik sejarah. Namun penulis justru berpikir, jangan-jangan yang disebut ‘srigala’ dan biri-biri’ oleh al- Hujwiri dalam Kasyful Mahjûb, bukan sekadar biri-biri dalam
pengertian hakiki. Tetapi, lebih jauh dari itu adalah ‘srigala’ dan biribiri’ dalam pengertian majazi (metaforik). Hingga penulis berpikir, kalau benar yang dimaksud al-Hujwiri adalah ‘srigala’ dan biri-biri’ dalam pengertian majazi (metaforik). Karena — saat ini — ‘srigala’ dan biri-biri’ dalam pengertian majazi (metaforik) itu masih banyak berkeliaran, dan harus juga mendapat perhatian. Sebab mereka (‘srigala-srigala’) banyak yang sudah sangat piawai menyamar untuk menjadi (seolah-olah) ‘biri-biri’ yang sangat lembut, dan bahkan lebih memesona daripada ‘biri-biri’ yang menjadi (calon)
mangsanya. Dan oleh karenanya, “kita — saat ini — perlu banyak belajar pada al-Ra’i, bagaimana cara menjinakkan ‘jamaah’ srigala dan menyelamatkan ‘jamaah’ biri-biri kontemporer, yang tentu saja membutuhkan ‘kearifan prima’ untuk mengidentifikasi, dan — untuk selanjutnya — menyikapinya dengan sikap proporsional. Jangan pernah tertipu oleh ‘setan’. Apalagi setan-setan kontemporer yang sudah banyak belajar dari pengalaman mereka dalam menggoda umat manusia.

Zaman telah berubah dan akan selalu berubah. Tetapi esensi masalah yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman selalu tidak akan berubah, tetap ada dan — dalam banyak hal — semakin kompleks. Dan Rasulullah saw pernah memprediksi: “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang tiada peduli akan apa yang diambilnya; apakah dari yang halal ataukah dari yang haram”. (Al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, ad-Darimi dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah).

Pada zaman kegalauan ini, banyak orang — termasuk di dalamnya umat Islam — nampaknya masih ‘gamang’ untuk membuat garis demarkasi yang jelas terhadap ‘setan-setan’ yang selalu siap menggodanya. Dengan tipu dayanya yang sangat lembut, rencana busuk para setan itu ‘kini’ nyaris tak terdeteksi oleh ‘radar-radar’ manusia. Manusia – dalam banyak hal – belum bisa menarik garis demarkasi kekuatan setan yang korup dan otoriter, dengan kekuatan dirinya yang – dengan fitrahnya – selalu berkeinginan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Bahkan, banyak di
antara mereka “ada” yang justru “terkesima” oleh penampilan artifisial para setan, yang mengawali kiprah mereka dengan – misalnya – melalukan ‘operasi plastik’. Menyamar menjadi ‘seolah-olah’ sekumpulan orang shalih yang layak dihormati.

Ada dua pendekatan sederhana untuk melacak ‘setan-setan’ kontemporer, yaitu:

Pertama, “pendekatan rezim” (yang dalam perspektif ilmu politik [‘rezim’] adalah nilai) dan pendekatan aktor. Ketika kita bicara tentang rezim, sebenarnya kita sedang membicarakan mengenai sebuah nilai. Salah satu karakteristik ‘rezim setan’, adalah tindakan korup dan otoriter. Karena itu, sikap tegas kita adalah tidak memberi ruang bagi “rezim korup dan otoriter” itu. Celakanya, kini sikap koruptif tersebut tidak hanya menjadi hak paten aktor dan kelompok
pendukung ‘setan’. Tetapi sudah menjangkit dalam sikap dan konstruksi pemikiran sebagian dari diri kita. Semestinya, hari ini kita harus menegaskan bahwa sikap dan pola ‘setan’ yang diterapkan oleh siapa pun berarti ia bagian dari konstruksi setan-setan’ itu. Apakah corak struktur, kultur, atau perilaku masyarakat itu sendiri. Sebab, menjadi sebuah fenomena paradoks ketika kita membenci ‘setan’ yang korup dan otoriter, tetapi pada saat yang sama kita melanggengkan struktur, kultur dan perilaku tersebut.

Kedua, mengidentifikasi aktor utama penyangga kekuasaan setan. Aktor utamanya sangat jelas, yaitu “Iblis”. Puncak piramida struktur kekuasaan ‘setan’ adalah ‘Iblis’. Jika kita bersepakat untuk mengatakan bahwa rezim ‘setan adalah rezim ‘korup dan otoriter’, kita harus membuat garis demarkasi yang jelas dengan para setan itu. Dan, tidak ada kata kompromi bagi rezim “predator” itu. Pengadilan terhadap ‘setan-setan’, sampai kepada ‘Iblis’ (Sang
Inspirator), menjadi salah satu taruhan. Kita harus berani mengedepankan semangat ‘zero-tolerance’ (tidak boleh ada sedikitpun toleransi terhadap setan).

Meminjam ungkapan Mas Danarto. kini saatnya kita belajar untuk menjadi orang yang ‘bisa’ menjadikan diri kita sebagai seorang yang ‘arif, seperti Abu Halim Habib bin Salim al-Ra’i, di tengah gelombang kehidupan yang terlalu banyak memberi peluang bagi ‘para setan’ (termasuk para pengikutnya) yang — dengan piawainya — menghandalkan kekuatan hawa nafsunya — dengan segenap tipu dayanya —untuk (selalu) menjadi pemenang dan — pada saat yang sama — selalu memojokkan diri kita untuk menjadi pecundang.

Jadilah pemenang, dengan membuat garis demarkasi yang jelas untuk sama sekali tidak bertasâmuh (tidak boleh ada sedikit pun toleransi terhadap setan). Now, or not at all; al-ân, au lâ ‘alâ alithlâq; sekarang, atau tidak sama sekali!l

Menu Terkait