Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

LELAH MENCARI PEKERJAAN SESUAI CITA-CITA

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yth, saya (27 tahun) kini menjadi seorang pengangguran lagi. Saya sudah mengalami banyak cobaan dan rintangan sepanjang kuliah dan mencari pekerjaan. Saya harus berjuang keras untuk menyelesaikan kuliah saya di sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi, dan lulus tiga tahun lalu. Sudah beberapa kali saya mendapatkan pekerjaan, namun tak ada yang sampai lebih dari tiga bulan saya jalani. Saya merasa tidak mampu, yang saya heran pada diri saya adalah saya merasa tidak cocok.

Sejak lama, saya ingin bekerja sebagai akuntan sesuai dengan jurusan kuliah saya dan saya merasa punya kemampuan yang cukup di bidang ini. Tapi kok begitu susah saya raih. Padahal, minat saya sangat besar di bidang ini. Sebetulnya saya sudah berusaha melupakan cita-cita saya, tapi rasanya sulit. Sementara itu, saya sudah harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Malu rasanya, minta orangtua terus, adik-adik juga membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Kadang saya berpikir mengapa hidup saya dirundung kesusahan. Kalau ada tawaran pekerjaan, saya hanya bisa bertahan sebulan saja. Rasanya banyak persoalan yang saya hadapi. Kapan ya, Bu, saya bisa mendapat pekerjaan yang mapan dan sesuai dengan cita-cita saya? Apakah Tuhan masih menguji saya? Ingin sekali saya merasakan indahnya keberhasilan seperti waktu saya sekolah dulu. Apa yang harus saya lakukan agar lepas dari gangguan bayangan cita-cita saya? Dan bagaimana supaya cita-cita saya tercapai sebagai akuntan yang professional.? Jazakumullah atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Rudi, di kota X

Wa’alaikumsalam wr wb.
Rudi yang baik, banyak anak setamat SMU tak punya informasi yang cukup tentang jenis apa profesi yang kelak bisa digeluti setelah lulus dari perguruan tinggi. Bahkan tidak sedikit lulusan SMU yang masuk ke fakultas tertentu hanya karena sahabat-sahabatnya masuk di situ. Sudah masuk kuliah dengan bayangan yang kabur tentang masa depan pekerjaannya. Mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan pun ternyata juga tidak mudah. Banyak saya temui para pekerja pemula seusia Rudi, menggeluti pekerjaan yang bukan merupakan impian dan cita-cita mereka. Apakah mereka bisa bertahan? Tidak semua bisa bertahan. Namun, ada kelompok yang bisa bertahan. Kelompok ini mau menggeluti pekerjaannya dan mampu menjawab tantangan pekerjaan yang ada dengan mengoptimalkan potensi dirinya, lalu mendapat pengakuan dan umpan balik positif dari lingkungannya karena telah bekerja dengan baik. Pelan tapi pasti, ia pun mulai cinta dan terlibat dalam pekerjaannya.

Kelompok kedua adalah mereka yang terpaku dengan keinginan dan cita-citanya, sehingga pekerjaan yang sudah di tangan tidak dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan patut dipertahankan. Dengan kondisi seperti ini, maka pekerjaan akan terasa berat, perasaan tidak betah, tidak menantang dan lain-lain mengemuka dan mengalahkan apa yang sudah diperoleh. Sebetulnya tidak ada yang salah, karena setiap orang punya hak untuk merasa ‘in’ atau tidak terhadap tanggung jawab pekerjaannya. Hal ini akan menjadi buruk ketika ia mulai menyalah-nyalahkan
lingkungan dan hal-hal di luar dirinya. Seperti, tak sesuai pendidikan, gajinya kecil yang semua itu bermuara pada perasaan-perasaan negatif yang membuat ia tak tahan lagi bekerja.

Kalau Rudi bilang, setiap bekerja tidak cocok, sudah berapa kali sih mencoba? Tiga, empat atau sepuluh kali pun itu menunjukkan bahwa Rudi bukanlah pembelajar yang baik dari pengalaman sebelumnya. Karena kalau Anda mampu mengambil hikmah dari pekerjaan yang pernah digeluti dan semudah itu diterima, mestinya Rudi adalah sosok pandai yang kurang punya fleksibilitas dan penyesuaian diri, serta kurang sabar dalam menjalani masa awal pekerjaan Anda.

Rudi, kegagalan itu bisa terjadi pada siapa saja. Namun kegagalan bukanlah sebuah kartu mati yang membuat tidak sukses di tempat lain. Bersikaplah realistis, hadapilah dengan telaten apa yang ada dihadapan mata dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur pada Allah atas apa yang telah Allah limpahkan pada kita. Bersikaplah fleksibel untuk menyesuaikan antara cita-cita dengan kenyataan yang ada. Itulah kunci keberhasilan yang dapat membawa Rudi ke keberhasilan hidup nantinya.

Berhentilah berkeluh-kesah, nanti Anda tak punya waktu untuk melakukan hal-hal yang konstruktif bagi masa depan yang gemilang. Kalau dulu di sekolah Rudi pandai, maka IQ tinggi adalah aset berharga untuk Rudi, meski bukan satu-satunya. Di dunia kerja dan di dunia tempat kita hidup IQ saja tidak cukup untuk mendukung keberhasilan hidup. Kita harus fleksibel tapi tetap fokus, ceria dan sungguh-sungguh dalam bekerja.
Lamar lagi, ya. Bila diterima, jangan banyak mempertimbangkan dengan seberapa dekat dengan cita-cita. Lakukanlah pekerjaan dengan sepenuh hati, insya Allah akan memberi pengalaman yang menyenangkan. Mudah-mudahan pekerjaan yang baru dapat memunculkan banyak kegairahan kerja pada diri Rudi. Amiin.l

Menu Terkait