Kamis, 17 Agustus 2017

Aqidah Islam

Hidup Menjaga Martabat
Mohammad Damami


Kehidupan dewasa ini sebenarnya merupakan daur ulang kehidupan masa lalu. Dalam Ilmu Sejarah dikatakan, bahwa sebenarnya sejarah manusia itu berulang, walaupun di sana-sini ada perubahan baru. Daur ulang yang berperubahan baru tersebut disebut daur spiral.

Pada zaman sebelum Al-Qur’an diturunkan di Makkah kepada Rasulullah Muhammad saw, orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan berdagang antara Yaman dan Syam (Syria) yang kota Makkah sebagaikota transitonya  (Quraisy [106]: 1- 2). Kehidupan berdagang pada waktu itu berlaugsung keras yang bercirikan persaingan antarsuku dan kafilah,  suasana wilayah Semenanjung Arab yang memiliki iklim yang sering kali ekstrem (kalau sedang beriklim panas, maka udaranya sangat panas dan kalau sedang beriklim dingin, maka udaranya sangat dingin), dan watak yang terbentuk yang serba keras seperti suka berperang, merampas kemerdekaan suku lain, mengurangi ukuran dan timbangan, dan sebagainya. Dalam kondisi kehidupan seperti itu, logis kalau banyak orang mencari berbagai macam cara agar keselamatan dalam kehidupan berdagangnya terjaga dan ketakutannya menghadapi segala macam cobaan hidup yang keras di atas menjadi menipis, bahkan sampai hilang sama sekali. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah menuju sesembahan berupa berhala yang dibuat dari bebatuan atau bahkan dari gundukan pasir (Majid ‘Ali Khan, Muhammad saw, 1985: 30). Jumlah berhala yang diletakkan mengelilingi bangunan Kakbah tidak kurang dari 360buah banyaknya, demikian menurut Majid ‘Ali Khan. Mula-mula berhala itu dianggap hanya sekedar “perantara” pormohonan kepada Tuhan, lama-lama berubah menjadi benda-benda yang dipertuhankan.

Ketika benda-benda berhala di atas telah dianggap sebagai “Tuhan”, pada hakikatnya potensi nalar masyarakat Arab waktu itu telah “mati”. Bayangan-bayangan metafisis dan kegaiban yang tidak jelas arahnya dan tidak jelas pula pengertiannya berseliweran dalam ruang batin masyarakat Arab waktu itu. Lalu oleh para sejarawan disebutlah dengan istilah zaman “ jahiliah”, zaman “kebodohan”. Dalam kondisi seperti ini dapat dikatakan manusia Arab pada waktu itu telah “jatuh martabatnya” di depan benda-benda berhala. Lebih tinggi martabat benda berhala dibandingkan dengan sifat kemanusiaan manusia Arab waktu itu.

Menghadapi realitas keyakinan yang sangat memerosotkan martabat kemanusiaan manusia seperti di atas, Allah SwT tidak menghendakinya terus-menerus terjadi. Maka, Allah SwT berkenan melenyapkan kondisi yang sangat tidak sewajarnya itu dengan menurunkan ajaran wahyu berupa perintah agar memegang teguh keyakinan tauhid (keyakinan meng-Esakan Allah SwT) dan hanya beribadah kepada Allah SwT yang bersifat gaib, yaitu berupa Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi serta Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh isi alam semesta ini (Quraisy [106]: 3). Dengan ajaran tauhid tersebut diputar kembali setinggi 180° dari posisi manusia yang begitu rendah di depan batu atau benda berhala menjadi berposisi luhur di depan makhluk apapun wujudnya di atas bumi ini, bahkan di ruang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Seluruh isi planet bumi ini diserahkan Allah SwT kepada manusia, terserah untuk keperluan apa dan diperlakukan seperti apa pun pula, asal bersitat ma’ruf, positif, konstruktif, dan produktif (Al-Baqarah [2]: 29).

Dewasa ini, awal abad ke-21 Masehi ini, tampaknya “berhala-berhala baru” bermunculan di sana-sini dalam kehidupan. Kalau diamati secara lebih mendalam, berhala- berhala baru tersebut meliputi, pertama, paham-paham atau isme-isme yang murni diproduksi oleh penalaran yang tidak/kurang dijiwai cahaya ketuhanan. Contohnya, seperti materialisme (paham yang menekankan keunggulan faktor-faktor material di atas hal-hal yang bersifat spiritual yang terkandung dalam metafisika, nilai, fisiologi, epistemologi, penjelasan historis; Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1996: 593), kapitalisme (paham yang menekankan peranan kapital/modal dalam produksi barang; Lorens Bagus, ibid.: 391), dan hedonisme (paham yang menyatakan bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia; Lorens Bagus, ibid.: 232). Kedua, ilmu pengetahuan dan anak kandungnya, yaitu teknologi. Contohnya, seperti teori (yang telah terbukti atau masih hipotetis), rumus (berupa dalil, postulat, aksioma), dan kerja istern (berupa metodologi, manajemen, dan analisis proses). Ketiga, aktivitas globalisasi. Perwujudan globalisasi menjurus pada perjuangan kepentingan yang bertopeng humanisme (semacam hak-hak asasi manusia/HAM, kelestarian lingkungan hidup, etika global) dalam tampilan hegemoni ekonomi, proteksi terselubung, imperialisme baru terselubung.

Ketiga hal di atas, menurut penulis, yang menjadi berhala baru bagi masyarakat dunia saat ini. Dalam berhala-berhala baru tersebut, masalah “Tuhan” dan “agama” hanya dianggap sebagai faktor pinggiran, bukan faktor pusat dan faktor penentu. Agama Islam tegas menyatakan keyakinan tauhid adalah faktor penjaga martabat manusia dari godaan dan gangguan berhala- berhala apa saja, di mana, dan kapan saja. Bagaimana dengan kita?
Wallaahu a’lam bishshawaab

Menu Terkait