Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

Sakitnya Punya Suami Tak Tahu Malu

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yang baik, saya (37tahun) sudah sepuluh tahun menikah dengan Dn (39 tahun). Pernikahan saya tidak disetujui orangtua. Karena saya harus mengikuti suami di Sumatra utara, sementara orang tua tinggal di Jawa Tengah. Sebelum dengan Dn, saya sudah berhubungan serius dengan S, saudara jauh saya. Tapi saya tidak tahu mengapa saya memutuskan nikah dengan Dn yang baru saya kenal beberapa bulan. Orangtua punya toko dan berharap saya yang meneruskan usaha itu, karena kakak-kakak sudah tinggal di luar kota.

Setelah pernikahan, ibu sakit selama sebulan. Bapak meninggal karena serangan jantung, tiga bulan setelah saya kabur. Selama sakit mereka dirawat oleh S. Setelah istrinya meninggal ia tetap setia menunggu saya.Dn hanya 3 bulan benar-benar baik pada saya, selebihnya ia
adalah tipe laki-laki yang merasa dirinya masih bujang. Pulang malam, hari libur memancing seharian. Hampir tak ada interaksi, kecuali ia menginginkan tubuh saya. Hidup saya selama ini ditunjang oleh ibu saya. Tanpa malu, Dn ikut makan dari uang kiriman ibu. Ia hanya sesekali saja memberikan uang gajinya. Saya sudah berkali-kali bilang bahwa saya tidak ada rasa apa-apa lagi padanya. Dengan enteng ia menjawab
bahwa saya seharusnya merasa beruntung karena dia masih mau pada saya. Katanya, sebagai perempuan, saya tak punya daya tarik, beranjak tua, pendidikan tidak tinggi, tidak pandai cari uang dan mandul pula.
Menurut ibu, apa benar S sungguh-sungguh mau menerima saya kembali? Apa yang harus saya lakukan, Bu? Bertahan atau kembali ke Jawa? Tolong saya ya, Bu. Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
As, di Sumatra Utara

Wa’alaikumsalam wr. wb.
Bu As yth., tampaknya Ibu termasuk tipe perempuan yang mempunyai kecenderungan untuk pasrah saja atas apa yang terjadi pada diri ibu. Dan tidak terbiasa untuk mengangankan sesuatu untuk masa depan yang dijadikan sebagai pendorong Ibu untuk berkarya dan berbuat sesuatu untuk mewujudkannya. Kalau kita tidak pernah mencoba untuk merancang bangun dalam benak kita tentang hidup seperti apa untuk 5 tahun, 10 tahun sampai akhir hayat nantinya, kita akan tenggelam dalam rutinitas sehari-hari yang lebih sering melenakan daripada membuat kita aktif merencanakan apa ya yang kita inginkan dalam hidup ini.

Ketika seorang perempuan merasa dia bisa hidup dari hari ke hari, makan ada nasi, tidak kehujanam atau kepanasan karena ada rumah, anak-anak sekolah, suami meski sering menjengkelkan tapi tetap pulang ke rumah, maka ia sering terperangkap pada rasa nyaman yang membuatnya merasa itu semua harus disyukuri dan apalagi yang dicari dalam hidup ini? Bersyukur itu harus. Tetapi ketika keinginan untuk meningkatkan kualitas diri makin lama makin luntur, sebagai manusia kita sebenarnya mundur. Mengapa orang bisa terlena dalam kondisi statis demikian?

Pada setiap orang mempunyai semacam mekanisme pertahanan yang berfungsi memelihara keseimbangan jiwa dan pikiran, serta keyakinan bahwa kita bisa “survive” di dunia ini. Mekanisme ini berkembang sejalan dengan tambahnya usia, pendidikan, pengalaman dan interaksi sosial kita. Makin sehat perkembangan seseorang, makin seimbang hidupnya. Tetapi, kadang ada kondisi dan pengalaman tertentu yang menyebabkan hal ini tidak atau kurang berkembang. Terlalu ditekan, hidup dalam disiplin kaku bahkan disertai pukulan menyebabkan perasaan negatif menguasai diri, dan mekanisme pertahanan diri pun kemudian penuh kebohongan, karena tujuannya hanya menghindar dari sikisaan dan bukan untuk meraih hal-hal positif dalam hidup. Yang lebih ringan tetapi bila berlangsung terusmenerus bisa membahayakan adalah berkhayal.

Rupanya inilah yang Ibu alami, sehingga membuat Ibu meyakini kata-kata suami seperti tua, tak pandai cari uang, mandul pula. Maka sebaiknya kembalikan dulu hak ibu sebagai seseorang yang berguna. Proses ini awalnya terjadi dalam benak Ibu sendiri. Yakinkan bahwa Andalah yang paling bertanggungjawab atas kesejahteraan pikiran, perasaan dan hidup Anda. Kemudian Anda punya kewajiban untuk mewujudkan hidup yang lebih nyaman.

Ibu bisa mengubah penampilan agar terlihat lebih cerah dan membuat Ibu takjub pada diri, sehingga mood berubah, suasana hati lebih ceria. Yang jelas Ibu berhak mengaktualisasikan kemampuan Ibu. Bila harus diakhiri. Pulanglah ke rumah Ibunda dengan tekad untuk memulai hidup baru. Dan jangan hanya semata-mata mengharap S akan menerima kembali. Mulailah dari awal. Bila kemudian S memang berjodoh dengan Anda, jalanilah hubungan dengan lebih bijak. Jangan lakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Yakinkan bahwa Anda mampu. Yang penting semangat untuk berubah tidak leleh. Anda berhak meraih rasa nyaman, bahagia, mencintai dan dicintai. Semoga Allah meridlai kita. Amin.l

Menu Terkait