Rabu, 16 Agustus 2017

Akhlaq

DZIKIR DAN KESHALIHAN SOSIAL
MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak
Tetap STIKES ’Aisyiyah Yogyakarta


Mas Thole, panggilan akrab pemilik nama lengkap “Budi Siswanto”, menerjemahkan gagasan “Segoro Amarta” (Semangat Gotong Royong Agawe Majune
Ngayogyakarta)-nya dengan pembuktian bahwa budaya ’kebersamaan’ bisa diwujudkan menjadi ’etos kerja’-nya dan juga (etos kerja) seluruh komponen masyarakat yang mau mengerti arti pentingnya semangat ukhuwwah, yang akhirnya berbuah (menjadi) kemaslahatan kolektif. Pembuktian kongkretnya adalah kerjasama antarkompenen masyarakat yang dimulai sendiri oleh Mas Thole (Sang Pemungut Sampah) – dengan semangat ibda’ bi nafsik – bersama seluruh anggota masyarakat di kampungnya. Sampah-sampah berserakan – yang oleh sebagian orang dianggap tak berguna – pun terangkut, diterima oleh para pengolah (sampah), dan berakhir pada produk unggulan ’daur-ulang’ (sampah), menjadi sejumlah komoditas yang layak jual dan juga
layak pakai.

Semuanya berawal dari kepedulian (dari dan oleh) masyarakat menjadi kemashlahatan (untuk) masyarakat. Semua berawal dari onggokan sampah, yang dikarenakan oleh ‘etos kerja’ seorang anak manusia seperti Mas Thole, yang dibangun bersama-sama dengan kepedulian seluruh anggota masyarakat,
sampah-sampah pun – kata salah seorang tetangga penulis yang kebetulan menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah – akhirnya bisa menjadi ’the most useful good’ (barang yang sangat berguna) untuk sebagian besar anggota masyarakat.

Bersentuhan dengan obrolan bersama Mas Thole, penulis ingat dengan catatan harian penulis. Ustadz M. Arifin Ilham, sebagaimana catatan harian penulis, pernah menyatakan bahwa dzikir merupakan makanan ruhani yang paling bergizi serta membangkitkan selera ibadah dan akhlak mulia. Dzikir juga menjadi benteng dari gangguan setan. Dengan berdzikir, peluang kita untuk mendapatkan husnul khatimah juga semakin terbuka. Dzikir menjadi ibadah yang bisa dilakukan kapan pun, di manapun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Selama kita berdzikir, selama itu pula “kita” bersama Allah SwT.

Sejauh pengamatan penulis, ’Mas Thole’ belum pernah mengikuti acara ’tahlilan’ dan juga ’dzikir’ berjamaah. Dalam hal ber’tahlilan’ dan ’dzikir berjamaah’, Dia tak sepaham dengan kawan-kawannya. Tapi, untuk urusan kepeduliannya terhadap kawan sejawat dan orang-orang yang mengitarinya, Dia bisa disebut sangat ‘shalih’. Kenapa? Karena hampir setiap saat “Dia” selalu siap membantu siapa pun yang memerlukan uluran tangannya, tanpa basa-basi. Dia mendapat predikat – dari orangorang di sekitarnya – sebagai “orang shalih”. Tepatnya, orang yang memiliki keshalihan sosial. Dia, katanya, belum pernah sekalipun mengikuti acara (formal) “majelis dzikir (berjamaah)”. Tapi, dzikirnya dalam bentuk aksi (tindakan nyata) selalu
dikerjakannya, bahkan – katanya – ‘nggak pernah’ berpikir “berapa pahalanya” yang bisa diperoleh dari sepak-terjangnya itu. Semuanya mengalir begitu saja, karena dia ingat bahwa ’pahala’ itu adalah urusan Allah. Meminjam istilah para pakar ulama, ’Kita’ – katanya– hanya diperintah untuk melaksanakan syariat-Nya secara dengan ikhlas karena-Nya.

Sebagai bagian dari warga Muhammadiyah ’biasa’ di kawasan pedesaan, dibandingkan dengan para tokoh Muhammadiyah, Dia – mungkin saja – belum sempat memahami dengan cermat isi buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah yang telah diterbitkan oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. Tetapi perilakunya – dalam banyak hal – sudah mencerminkan isi buku itu, utamanya pada sub bagian “Kehidupan Bermasyarakat”. Dia – sangat mungkin – sudah memiliki kesadaran untuk berislam dalam ranah ini. Sebagaimama isi Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah itu, yang menyatakan – antara lain - bahwa “Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama”.

Keshalihan sosial “Mas Thole” muncul sebagai imbangan dari keshalihan individualnya yang oleh orang lain banyak dikritik, karena ”dia” jarang terlibat dalam acara ’tahlilan’, apalagi dzikir berjamaah yang sekarang sedang ’marak’ itu. Didasarkan pada asumsi bahwa setiap perilalu seorang Muslim, di samping harus memberi makna kepada dirinya, juga harus berdampak nyata dalam kehidupan sosialnya, Dia berhasil menerjemahkan konsep
“amal shalih”, yang antara lain tertuang dalam Q.s. Al-Maa’uun, dengan berbuat baik kepada siapa pun. Dia memiliki simpulan penting dalam menerjemahkan ‘amal-shalih’. Menurut pendapatnya, selama seorang Muslim mengaku beriman, tetapi belum bisa membuktikan imannya dalam bentuk amal shalih, maka tidaklah sempurna imannya. Iman sebagai bentuk kepasrahan dan penyerahan diri kepada Allah bersifat personal harus melahirkan berbagai konsekuensi tingkah laku, antara lain dalam ranah kehidupan sosial. Iman yang berdimensi vertikal (hablun min Allâh), di samping harus menghasilkan sejumlah karya-nyata individual, dalam dimensi horizontal (hablun min annâs), juga seharusnya menghasilkan karya-karya sosialkemanusiaan dalam seluruh aspek kehidupan nyata.

Penulis pun — seperti halnya Mas Thole — tidak menyangkal bahwa kegiatan dzikir seperti itu bukanlah sesuatu yang selalu ‘mubadzir’. Tetapi – dalam pencermatan penulis – terkadang terkesan berlebihan. Sekarang ini, sudah saatnya kita eksperimentasikan keimanan kita dalam bentuk aksi-sosial, “keshalihan sosial yang lebih bermakna”, dari, oleh dan untuk kita bersama.l

Menu Terkait