Minggu, 17 Desember 2017

Aqidah Islam

Doa Sebagai Pertahanan Pertama dan Utama Orang Beriman
Mohammad Damami
 
 
Dewasa ini, bahkan kapan saja dan di mana saja, sering dijumpai manusia yang mengalami depresi kejiwaan. Sebab-sebab luar yang menekannya bermacam-macam, searah dengan problem-problem hidup yang dihadapi oleh setiap person orang. Sebenarnya, kejiwaan manusia itu cenderung sehat dan kuat. Apalagi agama, terutama agama Islam, telah memberikan bekal-bekal mental untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan kejiwaan manusia itu.

Kalau dilacak ke belakang, zamanyang pernah dijalani umat manusia meliputi zaman pertanian, zaman perdagangan, dan yang terakhir zaman komunikasi. Demikian secara umum pendapat Alvin Toffler. Zaman pertanian dibarengi dengan zaman nelayan dan peternakan. Zaman pertanian ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba guyub, rukun, berkumpul, dan bekerjasama. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri yang berujung pada kecenderungan sifat menindas relatif sangat tipis. Justru, kecenderungan saling memperhatikan kepentingan bersama dan saling melindungi adalah yang sangat tebal. Diduga pula, pada zaman seperti ini kesehatan kejiwaan manusianya relatif baik. Kebutuhan tiru-meniru untuk memperbaiki kehidupan masih setimbang dengan kebutuhan hidup sederhana menurut zaman itu.

Zaman perdagangan dimulai dari model barter (tukar barang), berlanjut pada perniagaan (jual-beli beralat tukar uang), dan berujung pada kegiatan industri (produksi barang dan jasa). Zaman perdagangan ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba pamrih, kerja-upah, untung-rugi, kaya-miskin, kuat-lemah, menang-kalah, dan penuh dengan persaingan. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri (individualisme) yang berujung pada kecenderungan sifat menindas menjadi makin menebal. Orang berkecenderungan untuk bersikap cuek (apriori) kepada nasib orang lain dan kalau perlu berusaha menghalangi orang lain agar tidak menjadi besar serta menjadi rival. Karena itu, diduga, zaman seperti ini akan mudah menyebabkan manusianya menjadi sakit kejiwaannya, yang satu pihak menjadi manusia penindas dengan segala macam atribut dan sifat buruknya, di pihak yang lain menyebabkan munculnya manusia yang merasa tertindas dengan segala akibat dan sifat negatifnya pula. Kecenderungan untuk tiru-meniru bukan lagi sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup secara wajar, melainkan justru berusaha saling mengintai untuk menjatuhkan lawan atau saingannya dan memenangkan persaingan untuk dirinya sendiri. Muncullah symbol-simbol kemewahan hidup dan budaya mercusuar sebagai tanda kesuksesan dalam persaingan.

Zaman komunikasi yang ditopang oleh zaman teknologi merupakan “zaman instrumen” yang dapat dimanfaatkan oleh zaman pertanian dan zaman perdagangan. Tetapi dalam praktiknya ternyata zaman perdagangan yang lebih memanfaatkannya. Oleh karena itu wajar kalau persaingan makin mengeras dan makin masif di satu sisi, di sisi lain daya tindas yang dibarengi meluasnya simbol-simbol kemewahan dan budaya mercusuar juga tampak nyata serta masif pula. Dalam zaman perdagangan yang ditopang zaman komunikasi seperti saat ini, tampak dengan jelas makin tidak sehatnya kejiwaan rnanusianya. Bagi pihak yang kaya-kuatuntung  besar-menang, hampir-hampir makin tak terkendali ketidaksehatan jiwanya. Seperti, mengunci, mengintervensi, memblokade, memboikot, membatasi, dan sebagainya terhadap pihak yang dianggap musuh atau rivalnya. Sebaliknya, pihak yang miskin-lemah-rugi-kalah, makin terluka dan frustrasi. Bagaimana seharusnya bagi orang beriman dalam suasana seperti itu?

Al-Qur’an menyatakan, orang beriman itu “berteman dekat” dengan Allah SwT. Karena memang, Allah SwT itu sangat dekat dengan manusia (Al-Baqarah [2]: 186; Qaf [50]: 16; Al-Waqi’ah [56]: 85). Orang beriman sangat yakin bahwa Allah SwT senantiasa “siap memberi kalau ada permohonan” (aplikasi sifat Rahman-Nya) dan senantiasa “telah memberi walaupun tidak ada permohonan” (aplikasi sifat Rahim-Nya). Orang beriman makin bertambah-tambah rasa yakinnya untuk benar-benar berteman dekat dengan Allah SwT, sebab Allah SwT menyatakan sendiri bahwa Dia siap memberi kalau ada permohonan atau doa, tentu saja doa yang bersungguh-sungguh yang dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya secara sungguh-sungguh dan memperdalam keimanannya terhadap-Nya secara bersungguh-sungguh pula (Al-Baqarah [2]: 186).

Hingar bingar kehidupan zaman komunikasi saat ini gampang sekali menyebabkan seseorang merasa “tersingkir” (tereliminasi), “kehilangan teman”, “kesepian”, “terasing”, “dingin”, “tidak berdaya”, “tidak bermasa depan”, “bingung”, “frustrasi”, “buntu”, dan “pesimis”. Dengan berteman dekat dengan Allah SwT, seseorang dapat berdialog lewat membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya bertaburan dengan nasihat, petunjuk, pengarahan, dan kabar gembira, yang dengan demikian itu orang beriman akan merasa “diorangkan”, “punya teman”, “di tengah keramaian”, “seperti di rumah sendiri”, “hangat”, “penuh kemampuan”, “bermasa depan cerah”, “mantap”, “tenang”, “mampu memecahkan masalah”, dan “optimis”. Begitulah, kira-kira gambarannya. Apakah penghayatan keimanan kita telah kita pertahankan lewat doa yang manfaatnya seperti itu?
Wallaahu a’lam bishshawaab.

Menu Terkait