Rabu, 16 Agustus 2017

Akhlaq

Qarun dan Pemberhalaan ‘Duit’
MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa
STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta


Qarun adalah sebuah nama yang sangat fenomenal. Ia hidup di masa Fir’aun dan Musa dengan ‘duit’ (baca: harta-benda) berlimpah. Tetapi, ia lupa bersyukur dan bahkan bersikap kufur. Dengan sikap rakus dan sombongnya dia tepuk-dadanya dan – dengan lantang – berteriak: “Inilah aku”. Dia lupa bahwa semua yang dia miliki adalah titipan Allah yang harus dikembalikan dengan sikap syukurnya. Dia kesampingkan ibadahnya, dan – pada akhirnya – dia pun harus meyesali semuanya. Dia tenggelam bersama hartanya karena azab Allah.

Bang Imad (panggilan akrab Prof. DR. Imaduddin Abdurrahim, M.Sc.), pernah menulis beberapa paragraf dalam buku best seller-nya “Kuliah Tauhid”. Dia nyatakan bahwa “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah ‘duit’, karena ternyata memang ‘duit’ ini termasuk “ilâh” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit. Bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit. Lihatlah di sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga’’-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat sesuatu dengan dan demi ‘duit; padahal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat ‘duit’. Memang – kata Bang Imad — “tuhan” yang berbentuk ‘duit’ ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

Semua orang – utamanya orang-orang ber’ duit’ di negeri kita — sebenarnya paham, bahwa pada mulanya manusia menciptakan ‘duit’ hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka ’ duit’ bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam
berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi ’ duit’ sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, ’ duit’ juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

Dalam Al-Qur’an, kita kenal seorang yang bernama “Qarun”. Seseorang yang menganggap dirinya dan dianggap oleh para pengikutnya “serba-hebat” karena ’duit”-nya. Bahkan, Dia pun sempat dan membuat para pengikutnya (juga) ’terlena’ untuk mempertuhankan ’duit’. Mereka terpuruk dalam jebakan
“thaghut” yang berbentuk ’duit’. Karena tumpukan ‘duit’-nya yang sangat banyak, sehingga diilustrasikan dalam Al-Qur’an — sampai-sampai kunci untuk membuka gudang ‘duit’-nya harus dipikul oleh sejumlah orang yang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa (Q.s. Al-Qashash [28]: 78).

Qarun – yang diceritakan dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur’an – adalah sepupu Nabi Musa as. Ia dikenal sebagai seorang hartawan di Mesir. Dalam Al-Qur’an, nama Qarun disebut sebanyak empat kali. Satu kali dalam surat Al-Ghâfir (Al-Mu’min) dan Al-’Ankabût, dua kali dalam Q.s. Al-Qashash. Allah SwT memberikan anugerah kepadanya berupa limpahan ‘duit’. Tetapi, tak mampu bersyukur kepada Allahdengan ‘‘duit’-nya.

Pola pikir Qarun yang materialitistik, menyeretnya semakin jauh dari rasa syukur. Syariat Allah (baca: Agama) dianggapnya tidak memiliki korelasi dengan kecemerlangan kehidupan. Dengan sikap sekulernya, syariat Allah dan kesuksesan di dunia dianggap sebagai dua entitas yang berbeda dan tidak saling berhubungan sama sekali. ‘Tuhan’ – dalam diri Qarun — sama sekali tak mendapat ruang dan tempat dalam praktik kehidupan ekonominya.
Bahkan, karena penampilannya yang ‘glamour’, ternyata telah menarik perhatian para pengikutnya. Begitu luar biasa kayanya Si Qarun ini, orang-orang pun mengidolakannya dan bahkan bercita-cita untuk menjadi seperti dirinya (Q.s. Al-Qashash [28]: 79). Mereka berusaha meniru langkah Qarun dalam memperkaya dirinya. Karena, mereka anggap sikap-sekuler Qarun sebagai penyebab keberhasilannya.

Tetapi, akibat kesombongan dan sikap tamaknya, Qarun mendapatkan azab dari Allah SwT. Dirinya beserta hartanya dibenamkan ke dalam perut bumi dan tidak ada seorang pun yang sanggup menolongnya (Q.s. Al-Qashash [28]: 81). Musnahlah Qarun beserta segala keangkuhannya. Kemudian,
orang-orang yang sebelumnya merindukan menjadi seperti Qarun, akhirnya menyadari kesalahannya. Mereka pun selamat karena menyadari bahwa ‘menentang aturan Allah’ hanya akan membinasakan siapa saja, sekuat dan sehebat apa pun dia.

Kisah Qarun ini mengajarkan kita tentang bahaya tamak dan sombong, sekaligus mengajarkan kepada kita tentang signifikansi (arti penting) sikap syukur. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghindari karakter Qarun dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan “membudayakan sedekah”, sebagai wujud dari sikap syukur kita kepada Allah.

Jangan ulangi kegagalan “Qarun”, yang karena kesombongan dengan ‘duit’ dan – juga — keserakahannya terhadap ‘duit’, akhirnya menjadi manusia (yang) tak berdaya. Jangan sekalikali mempertuhankan ‘duit’, kalau kita tak ingin mengalami kegagalan seperti “Qarun”.l

Menu Terkait