Minggu, 25 Juni 2017

Aqidah Islam

Gerak Iman
Mohammad Damami


Seperti pernah penulis tulis dalam majalah ini beberapa waktu yang lalu, bahwa apa yang disebut “perubahan” tidak pernah  dapat dihindari dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia. Mau tak mau, suka atau tidak, siapa saja pasti akan   menghadapi apa yang disebut “perubahan” itu. Paling tidak ada 2 (dua) pilihan yang harus diputuskan ketika menghadapi   fenomena “perubahan”, yaitu bersikap pasif dalam menghadapinya dengan resiko akan ada kemungkinan digulung oleh “perubahan” itu sendiri, atau bersikap pro aktif dalam menghadapinya dengan keuntungan ada kemungkinan mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.

Pada hakikatnya, terjadinya seluruh perubahan di kalangan makhluk, manusia terutama,  adalah disebabkan adanya “gerak” di dalamnya. Apakah yang disebut “gerak” yang begitu menentukan dalam seluruh proses   perubahan tersebut?

Ada sekurang-kurangnya 3 (tiga) dimensi yang dipahami dan disadari oleh manusia, yaitu: ruang (space), waktu (time), dan kekuatan (energy). Jika dimensi ruang, waktu, dan kekuatan ini saling berkait dan dekerja, maka timbullah apa yang disebut “gerak” itu. Dimensi ruang dapat diukur lewat satuan-satuan ukuran (panjang, lebar, tinggi, besaran/volume, luas). Misalnya milimeter (mm), centimeter (cm), meter (m), hektare (ha), kilometer persegi (km), dan sebagainya. Sementara itu dimensi waktu diukur  lewat “pengertian waktu” (dahulu, sekarang, yang akan datang) atau lewat satuan-satuan ukuran (seperti   detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, millenium).

Sedangkan dimensi kekuatan diukur lewat satuan-satuan ukuran seperti ampere (A), watt (W), ohm (W) kecepatan cahaya (c), medan elektrik (E)t dan sebagainya. Sementara itu, dalam pengertian sederhana sehari-hari, disebutlah istilah-istilah “perubahanruang/tempat”,  “perubahan waktu”, “perubahan tenaga”, “perubahan keadaan/ kondisi”, “perubahan suasana”, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan “gerak” seperti disebutkan di atas, maka faktor dimensi kekuatan (energi) mestilah harus dikedepankan dan difungsionalisasikan secara nyata. Teknik praktis untuk memfungsionalisasikan dimensi kekuatan (energy) tersebut secara urut dan berjenjang meliputi: iradat/ kehendak, niat, rencana/planning, program, dan aksi. Pertama, iradat/kehendak. Asal iradat/kehendak ini adalah keinginan. Kehendak itu pada hakikatnya adalah hasil perasan dari berbagai keinginan yang berkembang. Jumlah iradat/kehendak ini sudah relatif lebih terbatas di bandingkan jumlah keinginan yang ncul yang tidak habis- habisnya. Kedua, niat. Niat pada hakikatnya adalah kehendak yang telah memuncak. Jumlahnya lebih sedikit lagi. Ketiga, rencana/planning. Rencana adalah penetapan berbagai niat yang mulai dinyatakan dalam tampilan, misalnya diucapkan atau dituliskan. Keempat, program. Program adalah rencana yang telah ditapis/dipilih dan disusun secara sistematis serta telah ditetapkan tahapan-tahapan pelaksanaannya berikut segala kemungkinan yang terjadi. Kelima, aksi. Aksi adalah pelaksanaan program sesuai dengan kisi-kisi yang termuat dalam program. Kelima hal inilah yang perlu diurutkan pelaksanaannya jika seseorang ingin menghasilkan “gerak” apa pun juga.

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari terdengar keluhan, bahwa dirinya telah gagal meraih sesuatu. Namun, setelah ditelusuri, ternyata orang yang bersangkutan baru melaksanakan beberapa komponen saja dari kelima komponen di atas. Misalnya, ada yang hanya sekedar memiliki iradat/ kehendak dan niat, tetapi dia gagal atau tidak bersemangat menyusul rencana/planning yang baik. Yang lain lagi ternyata  kegagalannya disebabkan tidak urutnya pelaksanaan dari kelima komponen di atas.Misalnya, ada orang punya iradat/kehendak, namun langsung dia lakukan aksi. Dia tidak mempedulikan komponen niat, rencana/ planning, apalagi program yang jelas.

Bagi orang beriman ada sebuah renungan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berbunyi demikian (Q.s. Al-Baqarah [2]: 225): laa yuaakhidzukumu-’l-laahu bi- ‘l-laghwi fii aimaani-kum wa laakin yuaakhidzukum bi maa kasabat quluubukum = Dia (Allah) tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu  sengaja. Tetapi Dia (Allah) akan menghukum kamu karena apa yang diperbuat hati-hati kamu. Yang dimaksud “apa yang  diperbuat hatihati kamu” di sini adalah niat. Karena itu, bagi orang beriman masalah niat menjadi hal yang begitu penting.  Dalam niat benih untuk “gerak” sudah mulai berjalan. Bak sebuah kerja mesin, maka roda-rodanya sudah mulai berputar antara  satu dengan yang lain. Tinggal meneruskan menjadi rencana/planning, program, dan akhirnya aksi. Karena itu pula, bagi orang  beriman memiliki “niat” itu penting sekali kalau ingin dirinya berubah. Orang beriman tidak sekadar dianjurkan agar kaya  keinginan atau hidup di bawah bayang-bayang mimpi saja, melainkan harus segera diperas menjadi iradat/kehendak dan tegas dalam bentuk niat.

Jika diteliti lebih mendalam, ternyata benar bahwa mulai dari komponen “niat” tumbuhnya energi secara  fungsional. Karena itu benarlah sabda Nabi yang mengatakan: innama-’l-a’maalu bi-’n-niyyati wa innamaa li-imri-in maa  na-waa = Bahwasanya segala amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya bagi seseorang manusia tergantung apa yang telah  diniatkannya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Niat adalah kerja konkret hati. Di sinilah, mulainya gerak untuk mengubah  apa saja bagi diri manusia untukmasa-masa selanjutnya dalam hidup dan  kehidupannya. Orang beriman diberikesempatan  untuk melakukan “gerak” yang dinahkodai oleh niat yang ada dalam hatinya. Wallahu a’lam bishshawaab.

Menu Terkait