Minggu, 17 Desember 2017

Tafsir Al-Qur'an

Al-Qur’an Dan Kenegaraan  (1)


PROF. DR. H MUHAMMAD CHIRZIN, M.AG.
GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA DAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
AL-QUR’AN DAN KENEGARAAN (1)

Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap dengan sistem yang dibutuhkan bagi kehidupan umat Islam. Islam sebagai suatu sistem kehidupan tidak saja meliputi tuntunan moral dan peribadatan, tetapi termasuk sistem politik, ekonomi, dan sosial. Seperti yang telah diterapkan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. (Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press, 1990), 147, J. Suyuthi  Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), 1.

Sistem politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara lain, ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan negara, siapa pelaksana  kekuasaan tersebut, apa dasar dan bagaimana cara untuk menentukan kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan; kepada siapa pelaksana kekuasaan itu bertanggungjawab dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya.

Negara sebagai kekuatan dunia merupakan sesuatu yang mutlak bagi Al-Qur'an, sebab hanya dengan itulah aturan-aturan dan ajaran-ajarannya dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Islam mengatur hal-hal yang tidak berubah, termasuk pokok- pokok mengatur masyarakat manusia, kepentingan dan keperluannya; kepemimpinannya. Titel kepada negara, khalifah boleh, amirul mukminin boleh, presiden boleh. (M. Natsir seperti dikutip Ahmad Syafii
Maarif dalam Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (Jakarta: LP3ES, 2006), 130-131. Dhiya‘ ad-Din ar-Rais, Islam dan Khilafah, terjemah  Thohiruddin Lubis (Bandung: Pustaka, 1985), 178-179.)

Islam sebagai agama yang serba lengkap dan memadai terungkap dalam Al-Qur'an sebagai berikut. "Tiada seekor binatang pun di bumi ataupun unggas yang terbang dengan sayapnya, tiada lain adalah masyarakat juga seperti kamu. Tidak ada suatu apa pun yang Kami abaikan dalam Kitab. Kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. "(Al-An’am [6]: 38)

"Suatu hari tatkala pada setiap Kami bangkitkan seorang saksi atas mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas umatmu. Dan Kami turunkan Kitab kepadamu sebagai penjelasan tentang segalanya, suatu petunjuk, suatu rahmat dan berita gembira kepada Muslimin." (An-Nahl [16]: 89)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam ayat-ayat Al-Qur'an secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, sebagai penjelasan yang amat sempurna bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan agama dan kitab itu mengandung petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orangorang Muslim yang benar-benar berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (M. Quraish Shihab, Tafsir  Al-Mishbah, volume 7 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 318.)

"Hari ini Kusempurnakan agamamu, dan Kucukupkan karunia-Ku untukmu dan Kupilihkan Islam menjadi agamamu"
(Al- Maidah [5]: 3) Ayat terakhir yang diturunkan secara kronologis itu menandakan sudah lengkapnya ajaran Islam dan sudah dekatnya masa tugas Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam akan berakhir dalam kehidupan ini. (Abdullah Yusuf Ali, Quran Terjemahan dan Tafsirnya, 240, footnote 696).

Ayat tersebut turun pada 9 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijrah ketika Nabi melaksanakan  Haji Wada’. (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, volume 3, 14).
Di dalam Al-Qur'an terdapat sejumlah ayat yang memuat beberapa term yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam hidup  bermasyarakat dan bernegara, antara lain mulk, khalifah, ulul amr, imam, sulthan dan syura. Kata mulk yang artinya kekuasaan atau kerajaan terdapat dalam surat Ali Imran [3]: 26. Katakanlah, “Ya Allah, Pemilik Kekuasaan! Kauberi kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Kau cabut kekuasaan
dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau memberi kemuliaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau memberi kehinaan kepada siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala yang baik. Sungguh, Engkau berkuasa atas segalanya.”
(Ali Imran [3]: 26)

Kata khalifah, yang artinya wakil atau pelaksana tugas memimpin terdapat dalam surat Al-An’am [6]: 165 dan Yunus [10]: 14. "Dialah yang menjadikan sebagai wakilwakil di bumi dan mengangkat derajatmu, yang seorang di atas yang lain, untuk menguji kamu atas karunia yang telah diberikan-Nya
kepadamu. Allah cepat menjatuhkan hukuman. Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pengasih."
(Al-An’am [6]: 165)

"Kemudian Kami jadikan kamu khalifah- khalifah di bumi sesudah mereka, supaya Kami perhatikan bagaimana kamu berbuat." (Yunus [10]: 14)

Kosakata imam yang artinya pemimpin terdapat dalam surat Al-Baqarah [2]: 124. "Dan ingatlah bila Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah tertentu, lalu ia menunaikannya. Allah berfirman, “Akan Kujadikan engkau seorang imam umat manusia”. Ia bermohon, “Dan juga imam-imam dari  keturunanku?” Allah berfirman, “Janji-Ku tak berlaku bagi orang yang dlalim.” (Al-Baqarah [2]:]]24)

Ujian terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam antara lain perintah membangun Kakbah, membersihkan Kakbah dari kemusyrikan dan mengorbankan  anaknya Ismail. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Ibrahim, antara lain Allah mengangkat Rasul-Rasul dari keturunan Nabi Ibrahim. (Abdullah Yusuf Ali, Quran Terjemahan dan Tafsirnya, terjemah Ali Audah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), 52).

Kosakata sulthan yang artinya kekuatan dan kekuasaan terdapat dalam surat Ghaffir [40]: 23. "Kami telah mengutus Musa dengan ayat-ayat Kami dan kekuasaan yang nyata." (Ghaffir [40]: 23)

Kosakata ulul ‘amri yang artinya pemegang kekuasaan terdapat di dalam surat An-Nisaa’ [4]: 59. "Hai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah, dan mereka yang memegang kekuasaan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-
Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat. "
(An-Nisaa’ [4]: 59)

Kosakata syura, yakni musyawarah terdapat dalam surat Ali Imran/3: 159 dan Asy-Syura [42]: 38. "Karena rahmat dari Allah jugalah maka engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati keras, niscaya mereka menjauhi kamu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun buat mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Maka jika engkau sudah mengambil keputusan, bertawakallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang tawakal." (Ali Imran [3]: 159)

"Dan mereka yang memenuhi seruan Tuhan dan mendirikan shalat, dan persoalan mereka dimusyawarahkan antara sesama mereka; dan mereka infakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Asy-Syura [42]: 38)

Negara adalah sekumpulan manusia yang secara tetap mendiami suatu wilayah tertentu dan memiliki institusi abstraknya sendiri serta sistem yang  dipatuhi dari para pemegang kekuasaan yang ditaatinya serta memiliki kemerdekaan politik. Unsur yang harus ada bagi wujudnya dan berdirinya sebuah negara adalah adanya bangsa yang mendiami wilayah tertentu di belahan bumi ini, adanya institusi abstrak yang diterima baik oleh bangsa tersebut dan direalisasikan oleh pemegang kekuasaan, adanya sistem yang ditaati dan mengatur jenjang-jenjang kekuasaan serta kebebasan politik yang menjadi identitas bangsa tersebut sehingga tidak mengekor kepada negara lain. (M. Yusuf Musa, Politik dan Negara dalam Islam, terjemah M. Thalib (Surabaya: Al-Ikhlas, t.th), 25).

Jauh sebelum Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam datang, di Barat maupun di Timur telah terdapat negara dalam  pengertiannya yang umum berupa kerajaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat Nabi Daud ‘alaihissalam dan anaknya, Nabi Sulaiman  ‘alaihissalam sebagai raja. Hal ini tertera dalam Al-Qur'an sebagai berikut. "Dan Kami telah menguji Sulaiman, Kami tempatkan di atas singgasananya
sesosok tubuh tanpa nyawa, kemudian ia bertobat. Dia berkata, “Tuhan, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku sebuah kerajaan yang tak  seorang pun menguasai sesudahku. Engkau Maha Pemberi tanpa batas.” Maka Kami tundukkan angin di bawah kekuasaannya, berhembus lembut
menurut perintahnya, ke mana pun ia kehendaki. Dan setan-setan semuanya termasuk ahli bangunan dan penyelam. Dan yang lain-lain terikat dalam belenggu. Inilah pemberian Kami; maka berikanlah kepada orang lain atau tahanlah, tiada suatu perhitungan. Dan sungguh, bagi Kami ia mendapat tempat kedudukan yang dekat dan tempat kembali yang baik.
"(Shad [38]: 34-40)

Menu Terkait