Minggu, 25 Juni 2017

Akhlaq

BERPUASA DENGAN HATI
MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Tidak Tetap STIKES Aisyiyah Yogyakarta

 
Bergetar hati penulis ketika menelaah firman Allah: ‘’Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.’’ (At-Taubah [9]: 105). Kenapa? Tentu saja bukan hanya karena ‘sekadar membaca’, tetapi karena memahami makna ayat tersebut melalui penjelasan Prof DR M Quraish Shihab dalam karya monumentalnya: “Tafsir al-Mishbâh”.

Setiap manusia pasti membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik itu menjadi tukang sapu, tukang parkir, pedagang, guru, penjahit, maupun pejabat sekalipun. Namun, tak banyak orang yang tahu esensi pokok dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan selain uang dan kedudukan dalam masyarakat.

Ayat di atas merupakan salah satu acuan, bahwa bekerja mempunyai peranan yang sangat penting sebagai bagian dari amal shalih. Sungguh luar biasa jika semua orang dan semua lapisan masyarakat tahu, bahwa keringat yang mereka kucurkan saat menarik becak, saat berjualan, saat naik kereta berdesakdesakan adalah sebuah jihad, perjuangan yang juga mempunyai nilai di hadapan Allah.

Bagaimanakah cara kita untuk menetapkan orientasi, bahwa kerja adalah lahan jihad bagi kita? Salah satu solusinya adalah bekerja dengan hati adalah: “menempatkan diri seadil-adilnya dalam posisi apa pun kita berperan dalam kehidupan”.

Allah menciptakan kita dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang kaya dan yang miskin, ada yang pintar dan yang bodoh. Akan tetapi, semua itu adalah untuk menguji siapa di antara kita yang paling banyak amalnya di hadapan Allah. Siapa yang benar-benar, sungguh-sungguh menepati janjinya saat di alam ruh. Apa pun pekerjaannya, bila diniatkan sungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah maka Dia akan mencatatnya sebagai sebuah amal.

Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwa suatu saat Rasulullah saw pernah ditanya tentang siapa-siapa saja yang terlebih dahulu masuk surga. Beliau menjawab dengan mengurutkan: Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra dan sahabat-sahabat lain yang termasuk assâbiqûnal awwalûn (orang-orang yang pertama kali masuk Islam).

Ternyata, rahasia di balik para assâbiqûnal awwalûn itu adalah orang-orang yang memberikan loyalitas (kesetiaan) dan kontribusi (sumbangan) yang sangat besar untuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan hati. Sehingga potensi apa pun yang mereka miliki menjadi serangkaian perjuangan untuk menjunjung tinggi dan menegakkan Islam di tengah kehidupan mereka yang tiada pernah berhenti.

Lalu, apa kaitannya dengan puasa kita?

Allah telah berjanji akan mengubah karakter orang-orang yang berpuasa menjadi “orang-orang yang bertakwa”. (Al-Baqarah [2]: 183). Dan siapa mereka? Di antara karakter orang-orang yang bertakwa (Âli ’Imrân [3]: 134-135) adalah: orang-orang yang berkesediaan untuk menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang berkesediaan untuk menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan fâhisyah (keji) dosa besar yang dampak negatifnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti: “korupsi” atau zhalamû anfusahum (menganiaya diri mereka sendiri) [melakukan dosa yang dampak negatifnya hanya menimpa diri sendiri, baik dosa yang berskala besar atau kecil, seperti: membudayakan sikap riya’], mereka segera berdzikir (mengingat Allah), lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, diiringi dengan sebuah keyakinan bahwa Allah akan mengampuni taubatnya, dan mereka pun tidak pernah lagi meneruskan perbuatan kejinya itu dengan penuh kesadaran.

Puasa kita yang kita lakukan dengan hati akan membentuk karakter diri kita menjadi orang yang bertakwa, yang antara lain terekspresi menjadi: (1) pribadi-pribadi yang berkesediaan untuk berinfak dalam keadaan apa pun (berkepribadiaan munfiq), sehingga — diri pribadi kita — terbebas dari sikap ’bakhil’ dalam bentuk apa pun; (2) pribadi-pribadi yang berkesediaan untuk berkesediaan untuk menahan amarah, sehingga terbebas dari sikap “pemarah”, terbebas dari sikap anarkis dalam situasi dan kondisi apa pun; (3) pribadi-pribadi yang berkesediaan untuk memaafkan (kesalahan) siapa pun yang bernah bersalah kepada diri kita, sehingga – minimal – kita terbebas dari sikap dendam kepada siapa pun; dan (4) ) pribadi-pribadi yang berkesediaan untuk bermuhâsabah (melakukan introspeksi), mengakui kesalahan yang pernah kita perbuat, menyesali dan tak pernah lagi mengulanginya dengan penuh kesadaran. Sehingga – dampak positifnya – kita menjadi pribadi-pribadi yang yang selalu berhatihati dalam bersikap dan bertindak, dengan harapan ’tidak-lagi’ mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di mana pun, kapan pun kepada siapa pun dalam bentuk apa pun.

Akhirnya, dengan melaksanakan puasa sepenuh hati, kekhawatiran Rasulullah saw terhadap kesia-siaan ibadah puasa bagi setiap orang yang telah merasa berpuasa. Sebagaimana sabdanya yang sangat populer: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tak pernah menggapai pahala puasanya kecuali lapar (dan termasuk di dalamnya “dahaga”), tak pernah lagi terjadi pada setiap orang yang beriman, yang benar-benar selalu menjalani ibadah puasanya dengan sepenuh hati.

Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita jalani ibadah puasa kita selama ini dengan sepenuh hati?

Semoga diri kita – segera – ’menjadi’ orang yang berkemauan dan berkemampuan untuk ’menjadi’ yang pertama dan utama dalam melaksanakan ibadah puasa yang menyertakan hati kita sepenuhnya.l

Menu Terkait