Senin, 24 Juli 2017

Kajian Hadits

IHYAUSSUNNAH DEMI EKSISTENSI ISLAM (2)

MU’AMMMAL HAMIDY, LC

Membuat bid’ah

Kalau dalam Hadits di atas, dikatakan itu semua adalah bagian dari sunnah ahli kitab, utamanya Yahudi,   maka dalam fiqih Islam disebut  bid’ah, yaitu mengada-ada dalam  masalah ibadah, yang tidak ada contoh  dari Nabi.  Dalam agama Nashrani bid’ah ini dimulai dari sistem kepasturan, seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an:
Artinya: Dan kepasturan yang mereka ada-adakan, padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka. Yang Kami wajibkan hanyalah mencari keridlaan Allah, tetapi tidak  mereka pelihara dengan semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang  beriman di antara mereka pahala mereka, sedangkan kebanyakan mereka adalah fasiq. (Q.s. Al-Hadid 27).  

Berawal dari bid’ah kepasturan  inilah, lalu mereka membuat tata cara  ibadah dengan nyanyi-nyanyi  dsb.mirip apa yang  dikatakan dalam Al-Qur’an s. Al-Anfal 35: Artinya: Dan tidaklah persembahyangan mereka di rumah Allah itu melainkan bersiul dan bertepuk tangan. Maka, rasakanlah azab lantaran kamu kufur. 

Bid’ah kepasturan ini tidak kita jumpai dalam masyarakat Islam, tetapi yang banyak terjadi adalah bid’ah dalam ‘ibadah, semisal puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad saw dengan lirik yang berlebihan dan lagu-lagu, yang dilakukan di masjidmasjid, yang sama sekali tidak ada  contoh dari Nabi Muhammad saw. Dan yang seperti itu sangat banyak, sehingga di kalangan ulama ada yang   mencatatnya secara khusus untuk dibukukan dalam buku khusus. Semisal Syekh Muhammad Abdussalam al-Qusyairi   dalam bukunya Assunan Wal Mautada’at, asy-Syekh Ali Mahfuzh dalam bukunya al-Ibda’ fi Madharril Ibtida’. Di samping   ada yang disisipkan dalam kitab bahasan khusus dengan berbagai bid’ah yang ada, semisal, Syekh Muhammad     Nashiruddin Albani dalam bukunya Kitabul Janaiz wabida’uha, Hajjatun Nabiy wa bida’uha dll. Pembahasan bid’ah ini  begitu penting, karena bid’ah ini mengancam eksistensi Islam.

Karenanya, Rasulullah saw wanti- wanti agar kita menjauhi  bid’ah dengan segala macamnya, sebagaimana ditegaskan dalam sabdanya:
Artinya: Irbadh bin Sariyah   meriwayatkan, katanya: Kami pernah shalat Subuh bersama Rasulullah saw. Usai shalat beliau menghadap kami sambil   menasehati kami dengan suatu nasehat yang benar-benar mengena, hingga semua mata berbinar-binar dan hati gemetar.   Sampai-sampai kami mengatakan: Ya Rasulallah, nasehat ini sepertinya nasehatnya orang yang mau berpisah, karena itu  wasiatilah kami. Lalu beliau bersabda: “Baiklah kuwasiati kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah, dan selalu   mendengar dan menaati (pemimpin) sekalipun pemimpin itu seorang hambahabasyi (kecil dan hitam). Karena siapa yang   hidup di antara kalian sesudahku nanti pasti akan menyaksikan berbagai perselisihan. Untuk itu pegangilah Sunnahku dan  Sunnah khulafaurrasyidin yang terpimpin, gigitlah dia dengan gigi geraham, serta waspadalah kalian terhadap   perkara-perkara baru, karena sesungguhnya kebanyakan perkara baru itu diada-adakan (bid’ah) sedang semua bid’ah itu    sesat”. (HR Ahmad dan Empat Imam selain Nasai).

Bid’ah salah satu bentuk berlebihan, yang bertentangan dengan prisnip   Islam. Bahkan oleh Ibnu Mas’ud ra dikategorikan pemaksaan. Untuk itu maka dibawakannya oleh beliau sebuah  riwayat dari Nabi saw: 
Artinya: Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: Ingatlah, pasti hancur orang-orang  yang berlebih-lebihan. 3 x (HR Ahmad dan Abu Daud).

Ajakan Kompromi Kalau dulu Nabi  Muhammad saw pernah diajak kompromi oleh masyarakat Quraisy Jahiliyah untuk beribadah secara bergantian, sepekan mereka akan mengikuti cara-cara ibadah Nabi saw, dan sepekan  berikutnya Nabi harus mengikuti cara-cara peribadatan mereka, lalu turunlah surat al-Kafirun  sebagai jawaban Nabi saw. Maka, dalam era modern sekarang ini, secara tidak langsung, ahli  kitab itu menawarkan kompromi semacam itu kepada kaum Muslimin, seperti Natalan bersama,  valentin day dsb dan merekapun siap melakukan tradisi Islam semisal hari raya  dengan mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, selamat berhari raya Idul Fitri, dll.  Bahkan, mereka juga siap menyelenggaran khitanan massal di gereja, seperti yang terjadi di  Malang barubaru ini, menyediakan buka puasa di kuil dll. Dan yang paling gres “doa bersama”.  Bahkan diselenggarakan di gereja, ketika memperingati kematian seorang tokoh agama.

Dalam  hal ini, tidak sedikit umat Islam yang terjebak. Apa yang namanya ‘natalan bersama’ hampir   sudah membudaya, termasuk di kalangan cendekiawan. Bahkan di antara ulamaada yang menfatwakan mubah saja mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’, sama dengan mengucapkan selamat hari kelahiran Isa al-Masih.

Padahal yang tersirat dalam natalan adalah ‘selamat hari lahir tuhan Yesus’, yang dengan fatwa mubah itu sama dengan membenarkan ketuhanan Yesus.  Fatwa MUI tentang haram natalan bersama hampir tidak berpengaruh. Valentin day, juga marak  oleh remaja Muslim, padahal di situ ada missi terselubung ikhtilath (pergaulan bebas ). Sedang doa bersama, termasuk yang di gereja, mendapat sambutan juga darikalangan jamaah Islam.  Kalau hal ini tidak diantisipasi sejak dini, maka nanti pada saatnya Islam akanmenjadi kabur. Dan itulah yang digambarkan dalam firasat Nabi sawdi atas, Wal’iyadhu billah.

semua yang disebutkan  di atas H A D I T S adalah sebuah tantangan, yang harus kita hadapi demi existensi   islam secara utuh. Dan itulah yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an: “Bertaqwallah dengan   sebenar-benar takwa”, yaitu mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara benar dan utuh sesuai  tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab betapa pun amalan itu diniati untuk penyembahan kepada  Allah, tetapi kalau penuh dengan bid’ah, maka amalan itu bukan taqwallah, tetapi suatu   kesesatan seperti disebutkan di atas. Dan amalan seperti itu tidak akan diterima oleh Allah  kelak di hari kiyamat (Q.s. Ali Imran: 102). Sebagaimanaditegaskan Rasulullah saw:“Barangsiapa  mengamalkan sesuatu amalan yang jelas-jelas tidak ada perintah/ contoh dari kami, maka   amalan itu tertolak. (HR Muslim).

Sementara “mati dalam Islam” yaitu memegangi Islam itu  dengan teguh dan menjadikannya sebagai pedoman hidupnya sampai akhir hayat. Sedang apa  yang dinamakan Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Karena di sanalah tercantum seluruh aturan  hidup, baik dalam hubungannya dengan Allah (hablum minallah), maupun dalam hubungannya   sesama manusia (hablum minannas). Wallahu a’lam. habis 

Menu Terkait