Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

Curhat Tentang Wanita Dan Selaput Dara

 

Assalamu'alaikum wr wb.

Ibu Emmy yth, saya ibu (28 tahun) dari seorang putra (2 tahun),beberapa hari ini saya merasa galau, bukan oleh masalah saya sendiri. Ini masalah sahabat saya sebut saja N, yang baru beberapa bulan menikah. la merasa tidak bahagia sejak malam pertama. Setelah melakukan hubungan intim, suaminya diam penuh curiga. N memberanikan diri untuk bertanya dan justru la balik bertanya, apakah selama ini N pernah berhubungan "jauh" dengan laki-laki lain sebelum dengan suaminya. N tersentak, tapi tetap menahan diri sambil menunggu kata-kata selanjutnya dari suaminya. la curiga, kenapa N tidak kesakitan dan tidak keluar darah waktu malam pertama. N hanya menjawab "tidak".

Sejak itu hubungan mereka menjadi hambar bahkan kadang diwarnai percekcokan, karena menurut N suaminya sering memojokkannya. N sakit hati karena merasa suami tidak percaya padanya. la berharap ada kata minta maaf dari suaminya atas pertanyaan itu, tapi tak pernah ada. Yang membuat saya heran kenapa masih ada pria yang berpikiran sepicik itu ya, Bu? Saya juga kepikiran, bagaimana dengan perempuan yang kehilangan kesucian di luar kehendaknya. Misal korban pelecehan di masa kecil atau korban perkosaan, tentu cap tidak suci menjadikan dirinya seperti narapidana seumur hidup.

Beban itu harus ditambah ketika la akan menikah untuk menjelaskan keadaannya, agar tidak salah paham di waktu mendatang. Rasanya tidak adil ya, Bu? Maaf ya, Bu, saya "curhat" tentang ini sebetulnya juga ingin menghimbau pada semua, terutama laki-laki agar mau membuka wawasan babwa ukuran baik-buruknya moral perempuan tidak hanya terletak pada penjagaan keperawanan sampai malam pertama saja.

 Namun begitu, saya tetap menghormati wanita yang bisa menjaga kesuciannya sampai malam pertama  mempersembahkannya pada suaminya, karena perilaku inilah yang sesuai dengan norma agama, norma kesusilaan, kesehatan dan tentu bermartabat. Maka, untuk laki-laki dan perempuan, "jagalah kemaluan dan jauhkan diri dari perbuatan zina". Itulah yang diperintahkan Allah pada kita. Mohon tanggapan ibu. Trimakasih atas tanggapannya dan kesempatan untuk "curhat". Wassalamu'alaikum wr. wb.

 Bu Dewi di kota S.

Wa'alaikumsalam wr. wb.

Bu Dewi yth, saya juga terima kasih, saya yakin "curhat" ibu bermanfaat tidak hanya untuk kaum perempuan, tapi juga laki-laki.Kita memang harus mau berbagi kepada sesama untuk memberdayakan Diri terutama perempuan agar semakin cerdas, mandiri dan berwawasan dan yang lebih penting, bermartabat.

Menurut saya, ibu pantas lho jadi perempuan di garis depan untuk menyampaikan seperti yang ibu 'curhat'kan juga ide-ide ibu yang lain. Bila dilihat lebih cermat, ada 3 kategori permasalahan yang terkait dengan keperawanan. Yang pertama, ia pernah salah langkah, berhubungan seks di luar nikah, sehingga saat menikah sudah tidak perawan lagi.

 Yang kedua, selaput daranya memang elastis, sehingga penetrasi pertama suaminya tidak menyebabkan selaput daranya berdarah, lagi pula darah itu tidak mengucur 10, biasanya hanya berupa noda merah yang bercampur dengan cairan suaminya.

Yang ketiga, yang sering membuat perempuan baik-baik tidak berani menikah, yaitu yang kehilangan keperawanannya bukan atas kemauannya. Korban pelecehan kerabat dekat atau perkosaan. Biasanya, yang paling 'lihai' justru golongan pertama, karena mereka sadar betul akan kekurangannya. Maka ketika malam pertama ia bersandiwara dengan ekspresi kesakitan dengan gaya yang meyakinkan agar suaminya tak mempermasalahkannya. Kadang yang berduit, melakukan operasi plastik untuk mengutuhkan kembali selaput daranya. Kalau begitu, di mana moralitas diletakkan? Golongan kedua. biasanya bisa mendapat suami yang yakin tidak fair kalau menilai kemanusiaan istri hanya dari utuh tidaknya selaput daranya.

Maka, dia akan menilai istri sebagai manusia seutuhnya. Ibadahnya, komitmennya, tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu dari anaknya kelak. Suami ini punya pandangan sehat bahwa hidup terus bergulir terus ke depan, bukan mundur ke belakang. Golongan ketiga, saat mereka datang berkonsultasi kepada saya adalah yang membuat dada saya sesak karena membayangkan hidup mereka di dunia ini memang sarat ketidakadilan. Mereka yang jadi korban kakak ibunya, ayah tirinya hampir semua tidak berani cerita pada siapa pun. Kalau ada yang mencoba bercerita biasanya disangkal ditutup-tutupi oleh ibunya atau orang dewasa di sekitarnya, karena takut hubungan dengan orang itu atau keluarga besar menjadi buruk.

Jadilah ia menghadapi masalahnya sendiri, tidak ada yang melindungi perasaan dan kepentingannya. Kepada mereka biasanya saya yakinkan bahwa harga diri dan citra diri tidak ditentukan oleh ada tidaknya selaput dara. Kalau ia mampu menjalani hidup dengan bermartabat dan berprestasi. ja juga berhak hidup bahagia. Benar kata Ibu, nyatanya laki-laki cenderung melekatkan tanda-tanda kesetiaan dan ketaatan moral calon istri/istri pada selaput dara. Kalau memang demikian, hendaknya perempuan selalu ingat  hal ini, agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas. Ini sangat positif karena sesuai dengan ajaran agama dan tata pergaulan laki- laki dan perempuan. Saya yakin, masih banyak !aki-laki yang mampu menilai pe- rempuan secara utuh. Ayo. majulah perempuan Indonesia

Sumber: Suara Muhammadiyah


Menu Terkait