Kamis, 29 Juni 2017

Keluarga Sakinah

Mencuri Dan Berbohong

 

Assalamu'alaikum wr. wb.Ibu Emmy yang terhormat, saya ibu dari dua anak laki-laki. Yang pertama 11 tahun kelas 5 SD, dan kedua 6 tahun kelas 1 SD. Saya merasa sedih dengan anak saya yang pertama. Dulu waktu kelas 2 dia pernah mengambil uang, tidak hanya sekali. Waktu itu setelah saya marahi, alhamdulillah kemudian la berhenti melakukannya.

 Akhir-akhir ini kok diulang lagi. Kali ini yang diambil uang tabungan adiknya. Sudah saya tanyai baik-baik, dia tidak mau mengaku dengan disertal berbagai macam alasan dan cerita yang saya yakin la berbohong alias mengarang cerita. Sampai sekarang, meski sudah saya desak untuk berkata yang sebenarnya sudah saya bilang kalau tidak mengaku akan saya hukum, tidak saya kasih uang jajan, tetap saja tidak mengaku. Rasanya sedih melihat anak saya seperti itu. Saya takut perbuatannya menjadi kebiasaannya (na'udzubillahi min dzalik).

Bagaimana cara mengatasinya? Dan bagaimana pula mempercayai anak? Atas jawaban Bu Emmy saya ucapkan jazakumullah. Wassalamu'alaikum wr. wb. Ibu Rena, di Blora

 Wa'alaikumsalam wr. wb.

Ibu Rena, berbohong bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk anak-anak, terutama sejak anak-anak mengenal konsep kalimat. Namun berbohong mempunyal motivasi berbeda bila dilihat dari usia anak. Untuk anak usia pra sekolah, berbohong lebih banyak disebabkan kesulitan mereka membedakan mana fantasi dan mana yang bukan fantasi. Sedang anak usia sekolah berbohong dilakukan lebih banyak untuk menghindari tanggungjawab dan konsekuensi. Seperti yang terjadi pada anak ibu. Yang penting untuk dipahami oleh orang tua bahwa berbohongnya anak tidak sama dengan orang dewasa.

 Biasanya anak berbohong karena berbagai alasan, antara lain:

1.       Takut disalahkan. Anak berbohong dapat disebabkan karena la mempunyai pengalaman buruk tentang menghadapi kesalahan. Jika anak pemah dipojokkan dan merasa "terhukum" ketika bersalah, anak akan memilih opsi berbohong untuk menghindari hukuman, tanggungjawab atau takut disalahkan. 2. Terlihat lebih hebat. Kadang anak ingin terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya. Ini terjadi pada anak yang sering dibandingkan dengan anak lain. Rasa kurang percaya diri membuat anak bereaksi ingin menciptakan dirinya lebih dari yang dimiliki sekarang.i Merasa tidak punya pilihan. Biasanya ini terjadi pada anak .yang diasuh dengan pola otoriter. Pada pola asuh ini kontrolnya telalu kuat yang membuat anak selalu berpikir kesalahan adalah sesuatu yang tidak terampuni, sehingga anak selalu dibayangi ketakutan akan resiko kesalahan.

2.       Tidak ingin kecewa. Jika orangtua menanamkan harapan yang tinggi. bisa menyebabkan anak berbohong ketika bereaksi terhadap suatu masalah, karena tak ingin orangtuanya kecewa.

3.       Tidak dihargai. Prinsip orangtua yang hanya memedulikan hasil tanpa mempertimbangkan proses, bisa menyebabkan anak berbohong ketika la merasa tidak mendapat penghargaan yang cukup. Anak tetaplah anak. Maka sebagai orangtua kitalah yang harus bisa memahami mereka. Demikian juga dalam menghadapi masalah anak berbohong. Untuk mengatasinya tidak cukup dengan hanya melarang. Periu pemahaman dan kasih sayang agar upaya orang tua tidak memicu anak semakin gemar berbohong. Agar berbohong tidak berlarut-larut yang bisa membuat anak dijauhi teman-temannya.

 

Untuk mengatasinya Ibu bisa melakukan:

1.        Stop marah. Karena marah serta hukuman yang ditimpakan pada anak belum tentu dipahami dengan maksud yang benar. Ubahlah cara menghadapi kekurangan anak dengan lebih bijak.

2.       Menjadi lebih positif. Menghentikan kebohongan bisa dilakukan orangtua dengan membantu anak melihat dirinya lebih positif.  Berhentilah membanding-bandingkan dengan anak lain. Yang boleh membandingkan dengan perilaku dirinya yang dulu. Juga tanamkan bahwa ia adalah pribadi yang unik dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilki.

3.       Biasakan mencari solusi. Ajak anak untuk membiasakan diri mencari pemecahan masalah melalui diskusi. Tanamkan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang wajar. Orang tua juga jangan selalu menindak lanjuti dengan hukuman tetapi terbuka untuk mencari solusi.

4.       Lingkungan yang lebih luas. Orangtua bisa membantu anak memiliki teman yang lebih banyak misal dengan mengikutkan anak ke klub atau kelompok belajar agar terhindar dari tekanan teman sebaya yang jadi penyebab bohong.

5.       Konsekuensi bukan hukuman. Orang tua bisa memberikan konsekuensi pada anak. Namun tak selalu berupa hukuman. Bisa dengan membalikkan situasi, bila anak tidak berbohong, beri pujian meski ia telah mengakui kesalahan. Semoga ibu diberi kesabaran dan lebih bisa mengontrol diri, sehingga tidak mudah marah ketika mendapati anak membuat kesalahan. Dan banyak istighfar untuk diri dan anak ibu. Insya Allah perbuatan buruk anak tidak berlanjut. Amiin.'


Sumber: Suara Muhammadiyah

Menu Terkait