Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

Berharap Menjadi Istri Yang Sah

 

Pertanyaan

A ssalamu'alaikum wr. wb.

Bu Emmy yth., saya perempuan (41 tahun), istri yang nikah secara agama (siri). Semula saya bekerja di sebuah toko pakaian eksklusif pria, dan Pak Nar (bukan nama sebenarnya) adalah pelanggan tetap. la tertarik pada saya, dan tak lama kemudian saya bersedia diajak nikah sembunyl-sembunyi, tanpa sepengetahuan istri dan anak-anaknya.

Hidup itu pilihan ya, Bu. Sementara ini saya tenang memperoleh cukup materi, tidak dilarang keluar rumah. Tetapi ia lebih suka saya di rumah agar tidak ketahuan istrinya yang punya pergaulan luas.

Cukup lama saya bertahan dengan Pak Nar. Usia perempuan yang layak untuk menikah secara normal sudah saya lampaui. Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan umur kepala 4? Punya anak juga hanya akan menambah masalah.

Selama ini saya merasa  nyaman ketika melakukan shalat. Dalam shalat saya tak-putus berdoa agar saya bisa dinikahi secara normal (lewat penghulu dan diketahui tetangga dan orangtua). Saya tidak tahu apakah Tuhan akan mengabulkan doa saya.

Bu, sering sekali dada ini merasa sesak ketika dengan enaknya, ia cerita tentang istri dan anak-anaknya, apa rencana untuk mereka, sementara untuk saya tak pemah ada cerita seperti itu. Rumah pun kontrak yang diperpanjang terus-menerus. Kalau saya minta rumah,  jawabnya belum saatnya. Jadi saya jalani saja hidup ini, sambil meyakinkan diri, bahwa sekarang toh lebih enak dibanding dulu, jaga  toko berdiri sepanjang hari melayani pembeli. Keluarga saya yang tinggal tidak satu kota dengan saya, mengira saya hidup mapan karena tinggal di rumah yang cukup bagus dan sibuk bekerja hingga tak sempat pulang ke rumah. 

Akhir-akhir ini kami sering bertengkar, dia ingin saya di rumah. Padahal saya sedang nyaman mengikuti kegiatan agama di kampung. Dari situlah saya mengenal agama. Tak terbayang bila saya  harus tinggal di rumah sepanjang hari. Tapi, kalau tidak menurut  saya juga takut dia meninggalkan saya. Apalagi sampai menikahi  perempuan lain, setelah sekian lama saya jadi bayang-bayang  saja. Ada juga timbul rasa gamang dalam diri saya, Bu. Ini pertanda baik atau saya harus menjauhinya? Saya tak punya keterampilan  apa-apa untuk hidup, bagaimana saya bisa lepas darinya? Tolong beri saran pada saya, jangan cemooh saya ya, Bu. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr wb. S,diX

Jawaban

Wa'alaikumsalam wr. wb.  Sebetulnya, ada pertanyaan besar dari saya, penikahan macam  apa yang telah S jalani. Perkawinan akan syah bila ada wali (orang  tua) dan saksi, Kalau syarat-syarat itu tidak terpenuhi, berarti kehidupan  perkawinan Anda tak beda dengan "kumpul kebo" bukan?  Harus dibedakan antara pelaku dan perilaku.

Jadi, saya tak bisa mengatakan, S perempuan yang tidak bermartabat. Perilaku S  yang hidup bersama, memang termasuk perilaku yang tidak berartabat. Namun saya tidak dalam posisi yang kemudian mencemooh Anda. S sudah katakan bahwa hidup ini pilihan.

 Sebetulnya  yang kita pilih adalah cara menjalaninya, karena hidup kita di dunia  ini bukan sesuatu yang kita pilih. Allah yang menentukan dan kita  yang menjalani. Dan pilihan S semoga disadari dan menerima konsekuensinya.

Yang harus diingat, untuk setiap perbuatan yang melanggar  agama adalah "dosa". Dan bila perilaku itu bertentangan dengan  nilai-nilai bermasyarakat itu berarti perilaku negatif. Dari cerita S,  saya memahami pendapat S, bahwa menikah memberi status yang  jadi sumber rasa nyaman dan mendukung legalitas status.

 Sebagai  nyonya Nar, tidak salah bila kemudian S ingin diketahui khalayak,  dan bukan seperti sekarang, semua tercukupi tetapi S tetap menjadi  bagian gelap dari dia.  Seberapa paham S pada agama? Saya yakin S tahu bahwa  untuk kesalahan yang kita perbuat tidak akan langsung dihukum.  Bahkan Allah telah memberi kebebasan penuh mau mengikuti aturanNya atau tidak. Mau mengambil jalan sesuai perintah-Nya, Allah akan sayang kita, Mau melanggarnya, Allahpun tetap sayang pada  kita, karena Dia Maha Sempurna dalam ke Tuhanannya.

Maka  kalau saya, dengan keMahaperkasaanNya, saya takut bila mau  berbuat macam-macam. Apalagi mengingat sedemikian banyak nikmat yang telah diberikan-Nya. Orang yang hanya menuruti kemauan untuk kesenangan diri mestinya mau berpikir dalam kerangka  ini, agar kelak tak menerima azab yang pedih. Karena pada suatu  saat yang Dia tentukan kelak, akan terjadi sesuatu pada kita, dan  baru kita minta ampun karena kesakitan. Tapi semua sudah terlambat.  Silahkan pilih S, untuk terus atau mengakhiri ini. Tapi tolong,  jangan lupa, setelah 40 tahun, perempuan akan mudah sekali gemuk,  mulai sakit ini dan itu dan makin butuh punya lingkungan yang  respek pada dirinya. Hal ini akan sulit didapat bila tetap berstatus "istri gelap". Mengapa tidak menyambut tangan Tuhan yang menurunkan rasa gamang pada Anda dan kerinduan untuk rajin menjalankan shalat.

Yakinlah bila kita meminta dengan tulus dan percaya  penuh pada kasih sayang Tuhan pada hambaNya, pasti akan ada  jalan yang dibukakanNya agar maksud kita tercapai.  Mulailah rajin menabung, agar bila kelak benar-benar harus  berpisah, untuk beberapa saat S punya uang untuk menyambung hidup sampai menemukan cara mencari uang secara mandiri.  Hentikanlah keinginan untuk mencari laki-laki lain, kalau hanya  untuk menjadi "wanita bayangan"lagi, ya!Kembalilah pada Tuhan. Semoga Allah memberi kekuatan agar S bisa memelihara niat baik yang ada dan diberi kemudahan dalam menjalani hal baik itu, sehingga S semakin nyaman dalam menjalani perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Amin +

Sumber : Suara Muhammadiyah

Menu Terkait