Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

Double Tapi Single (Parent)

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yth., saya ibu dari seorang anak laki-laki (4 tahun). Anak ini, saya dapat dari pernikahan kedua saya. Ketika saya  menikah dengan  suami sekarang saya adalah janda kembang (tanpa anak). Mungkin karena itu, mertua saya tidak pernah menyetujui pernikahan kami. Saya  dianggap tidak pantas mendapat puteranya yang pintar, waktu itu sedang menyelesaikan S2, dan berasal dari keluarga yang terhormat.

Karena itulah kami yang berasal dari kota yang berbeda tinggal tidak serumah. Saya tinggal di kota P sementara suami tinggal di kota M. Ia  mengunjungi kami setiap akhir pekan. Sampai sekarang suami masih menganggur. Pernah bekerja tapi hanya kontrak selama 10 bulan. Jadi  selama ini saya hidup dengan uang hasil saya bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan swasta.

Tapi sejak anak saya umur 3 bulan  saya berhenti bekerja dan fokus untuk merawat sebaik mungkin anak saya. Di samping itu juga agar suami lebih terdorong lagi untuk mencari  pekerjaan. Untuk menyambung hidup kami, sudah banyak barang yang saya jual. Saya mencoba berdagang, tapi belum mampu menutup biaya hidup.

Bu, sebentar lagi anak saya sekolah. Tentu ibu tahu beaya akan semakin besar. Kini saya agak kewalahan. Apalagi  perkembangan anak saya sangat cepat. Tapi di antara temannya ia terlihat minder. Mainan dan sepedanya serba ketinggalan dibanding  temannya, meski begitu ia cerdas lho, Bu. Saya bingung harus bagaimana. Mohon saran dari Ibu. Tolong segera dimuat ya, Bu. Ini  menyangkut hidup dan masa depan anak saya. Saat ini, ia sering menangis, katanya diledek temannya karena seperti tidak punya bapak.  Sudah hampir setengah tahun dia tidak ditengok bapaknya, karena keadaan. Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Ibu S,  di kota P

Wa’alaikumsalam wr wb.

Ibu S yth., saya justru ingin menjawab dulu tentang putra Ibu. Menurut saya ini penting untuk Ibu ketahui. Orangtua (ayah atau ibu) biasanya  ibu sering kali menjadikan anaknya sebagai refleksi bagi permasalahan yang ada dalam diri orang tua, dan untuk menemukanpembenarannya standard atau ukuran yang dipakai adalah apa yang berlaku pada orang dewasa. Pemikiran atau keyakinan  yang belum tentu benar secara obyektif tapi butuh melakukan pembenaran.

Seperti yang terjadi pada Ibu. Anak usia 3-4 tahun tak punya rasa  minder, nampaknya Ibulah yang sedang dilanda perasaan ini dan kemudian di alam bawah sadar Ibu meyakini bahwa gejalagejala rasa  minder juga dialami oleh si kecil. Selanjutnya Ibu mengatakan perasaan tadi dengan mengatakan pada diri sendiri. “Anak sekecil itu  saja bisa merasa minder, apalagi aku ibunya.”

Dengan keyakinan ini mulailah Ibu memperlakukan anak dengan pemikiran bahwa ia  melindungi anaknya dari rasa minder yang ada. “Sudahlah Nak, kita ini orang miskin, tak usah main dengan A yang memang kaya.” Dan  semacamnya. Karena ini sering ibu dengungkan pada si kecil, maka anak akan percaya bahwa ia berbeda dengan orang yang sering ibu  sebut.

Ketika usianya semakin bertambah dan perkembangan proses berpikirnya sudah sampai pada taraf memahami tentang percaya diri  dan tidak percaya diri, pengetahuan yang banyak ia miliki adalahbahwa ia tidak PD, maka jadilah ia benar-benar tak PD.

Mau tidak mau  nda   arus mengakui bahwa Andalah yang mula-mula memperkenalkan ketidakpercayaan diri. Ketika ide ini sudah tertanam, maka sulit bagi  dia untuk mempercayai sebaliknya. Karena ia selalu berusaha mengumpulkan fakta, informasi danpengalaman dalam interaksinya untuk   emperkuat bibit-bibit rasa mindernya. Memang ada yang bisa menjadikan pengalaman sebagai wawasan baru yang diyakini untuk tidak  dipertahankan, tapi justru harus dikikis. Tapi ini langka terjadi.

Ketika si kecil diganggu temannya dengan mempertanyakan ayahnya. Ibu bisa  bilang bahwa ia punya ayah dan minta suami untuk menceritakan pada si kecil bahwa ayah sedang mencari uang di luar kota. Pada saat  suami datang, perbanyak interaksi dengan anaknya, sehingga anak punya ingatan dan pengalaman positif tentang ayahnya. Setelah  membaca ini saya harap Ibu mau memulai untuk menyibukkan diri dengan menanamkan hal-hal positif dalam diri anak di antara banyak  keterbatasan yang ada.

Maka selanjutnya, coba bicarakan dengan suami bahwa kini anaknya membutuhkan kehadirannya untuk  mempersiapkan masa depan anak dalam membangun kepribadiannya agar ia tumbuh menjadi sosok yang tangguh menghadapi tantangan hidup. Di  samping itu suami juga perlu tahu tanggung jawabnya. Tapi usahakan kesadaran tumbuh dari dirinya. Hindari cara yang bisa  membuat ia merasa tersudut. Buatlah agar rasa sayangnya pada Ibu dan anaknya membuat ia lebih terpacu untuk mencari peluang kerja dengan lebih gigih lagi.

Mulailah ibu untuk berpikir bagaimana caranya bisa hidup berkumpul dengan suami dan anak. Dan pikirkan pula  usaha lain yang lebih cocok untuk Ibu. Asah ketrampilan lain yang ibu miliki. Semoga Ibu diberi kemudahan pada mudahnya urusan Ibu dan  keluarga. Dengan usaha dan do’a insya Allah akan tercapai yang Ibu inginkan.   

Menu Terkait