Kamis, 29 Juni 2017

Keluarga Sakinah

Khawatir Si Kecil Kena Dampak Pornografi

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yth., saya ibu dari dua orang putera yang baru menginjak remaja ( 14 tahun dan 12 tahun). Akhir-akhir ini, sangat  saya rasakan di  sekitar kita sangat marak tayangan-tayangan berbau pornografi baik lewat televisi, HP maupun internet. Anakanak yang sejak dini sudah dekat  dengan barang-barang elektronik tersebut bisa mudah mengaksesnya. Kita harus mengakui bahwa di satu sisi, media tersebut banyak  memberi manfaat. Tapi di sisi lain, membuat saya khawatir jika anak-anak saya belum bisa bijak menggunakannya. Anak-anak saya memang  saya perbolehkan menggunakan HP, saya pilihkan yang tanpa kamera. Dengan harapan dapat meminimalkan pengaruh buruk. Namun bagaimana dengan temannya? Saya amati banyak teman-teman anak saya menggunakan HP dengan banyak fasilitas. Sangat mungkin anak  saya diajak untuk melihat gambar atau video porno lewat HP temannya. Ini juga membuat saya khawatir karena tidak mungkin saya  menanyai atau memelototi anak-anak saya terus menerus, jangan-jangan justru membuat anak saya merasa tidak dipercaya. Apa yang harus  saya lakukan agar kami bisa menjalin hubungan yang efektif sehingga saya bisa melakukan fungsi kontrol dengan efektif pula? Apa saja  dampaknya bagi perkembangan perilaku anak jika sering melihat tayangan yang berbau porno?Jazakumullah atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Ibu Yeni, Lampung.

Wa’alaikumsalam wr. wb. Ibu Yeni yth.,

semakin tinggi teknologi yang kita gunakan maka dampak yang ditimbulkan akan semakin kompleks. Saya bisa memahami kekhawatiran Ibu, dan saya yakin rasa khawatir itu juga dialami oleh  Ibu-ibu yang lain. Kemajuan teknologi saat ini memang sulit dipisahkan dari kehidupan kita. Televisi, HP bahkan internet kini sangat mudah  dinikmati anak-anak. Akibatnya, segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif mudah diakses oleh mereka. Dulu, anak-anak  sekolah hanya membawa bukubuku pelajaran dan alat tulis, kini HP sudah menjadi bawaan wajib. Tidak jelas apakah mereka memang  betul-betul membutuhkannya atau tidak. Yang pasti HP sudah menjadi sarana gaul yang ‘mutlak’ mereka miliki. Kini HP tidak lagi hanya  sebagai alat komunikasi tetapi juga dapat digunakan hal-hal lain seperti menyimpan atau mengakses gambar-gambar porno. Mereka juga  dapat mengaksesnya lewat internet, apalagi sekarang ini warnet menjamur sampai di pelosok desa. Televisi juga tidak kalah serunya. Banyak  ucapan dan adegan porno kita temui di berbagai acara. Hal-hal ini tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan perilaku anak.

Banyak  penelitian yang menunjukkan bahwa seringnya anakanak mengonsumsi pornografi dapat menimbulkan kecanduan. Selain itu dapat memicu  pembentukan sikap terhadap seks dan cara bergaul. Dampak buruknya memang tidak langsung dirasakan. Penelitian juga menunjukkan,  seorang anak umur 17 tahun memerkosa tetangganya, bisa jadi karena paparan pornografi yang telah dilihatnya sejak umur 7 tahun.  Mengapa demikian? Karena otak anak bisa menyimpan memori, menyusun dan akhirnya muncul dalam bentuk perilaku. Anak yang  mengenal pornografi sejak dini akan cenderung anti sosial, tidak sensitif, memicu kelainan seksual dan menimbulkan kecanduan.

Ibu Yeni,  nampaknya kita tidak bisa menghindari pengaruh kemajuan teknologi dalam kehidupan kita. Namun, tentu ada yang bisa kita upayakan  sebagai tindakan preventif. Pertama, tanamkan agama sejak dini. Sebenarnya, anak kita pada awalnya tidak punya keinginan untuk melihat  atau melakukan hal-hal buruk termasuk gambar porno. Mereka sudah diberi rasa malu oleh Allah. Rasa ini bisa hilang bila tidak dipelihara.  Tugas kitalah sebagai orang tua membimbing anak kita memahamkan agama pada mereka. Bila mereka paham agama, maka rasa malu  untuk berpikiran, bersikap dan berperilaku yang tidak diridhai Allah akan tertanam pula. Kedua, upayakan semaksimal mungkin mencegah pengaruh negatif teknologi. Seperti yang sudah Ibu lakukan, yaitu memberi HP dengan fasilitas terbatas. Bila tidak memungkinkan untuk tidak  memiliki TV, luangkan waktu untuk melakukan diskusi dengan anak untuk membahas tayangan TV yang perlu dibahas. Bimbing anak  agar mempunyai ketrampilan untuk memilih tayangan yang baik dan yang buruk. Ketiga, yang jauh lebih penting adalah orang tua harus  bisa menjadi teladan bagi anaknya. Bila anak dilarang nonton program TV tertentu, maka hendaknya orang tua juga tidak menontonnya.

Semoga keluarga kita terhindar dari bencana pengaruh buruk kemajuan teknologi dan selalu dilindungi Allah SwT. Amiin.

Menu Terkait