Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

Gagal Maning... Gagal Maning

Assalamu’alaikum wr. wb.
Bu Emmy yang baik, saya bujangan 19 tahun, mahasiswa sebuah PTS di kota, lulusan sebuah SMUN terbaik di kota saya.  Selama ini saya  menjalani kuliah tanpa semangat. Karena fakultas yang saya inginkan kAndas semua. Cita-cita menjadi dokter, nsinyur kimia dan tentara (TNI)  tak tercapai. Pertama karena saya divonis menderita buta warna parsial sehingga tidak bisa  kuliah di Fakultas Kedokteran dan Teknik  Kimia. Kedua, saya juga menderita rabun jauh dan secara fisik tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang tentara. Bahkan saya juga tidak  diterima di PTN ketika seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).  Kecewa sekali Bu, saya sudah berusaha dan beribadah, tapi  mengapa   saya mengalami kegagalan yang bertubi-tubi,

Saya jadi merasa tak punya kelebihan apa-apa dan mengecewakan keluarga. Ini  semua membuat saya jadi mudah tersinggung dan pemarah meski oleh hal-hal yang sepele. Kegagalan-kegagalan hidup yang saya alami berpengaruh padaibadah saya, yang mulai meninggalkan shalat 5 waktu? Tolongberi saya solusi ya Bu. Atas semua yang Ibu beri saya ucapkanterima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
G, di kota M

Wa’alaikum salam wr wb. G yang baik, mungkin pengalaman masa kecil  sahabat saya bisa menjadi bahan yang bisa kita telaah bersama. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak kecil dikenal sebagai anak yang rajin dan selalu berprestasi di sekolahnya. Dia sangat takut bila nilainya tidak baik karena sebagai anak sulung merasa  harus menjadi contoh adik-adiknya. Kadang ia ‘curhat’ betapa tidak enak jadi anak sulung, sebetulnya juga tak harus begitu sih menurut saya.   Apa-apa harus serba lebih baik, sehingga untuk mencari sekolah favorit atau PTN ia harus belajar keras, tidak seperti adiknya yang sepertinya santai tapi nilainya selalu bagus bahkan ketika diterima di PTN mulus-mulus saja dan IPKnya juga bagus. Dari sini ia belajar, bahwa dalam keadaan yang tidak terbebani justru lebih memudahkan dalam menyerap pelajaran dari pada dalam keadaan stress

Kepribadian kita berkembang, sebagian besar karena orangorang dekat yang sangat berarti bagi kita sebagai model bagi kita dalam pengembangan diri kita. Sadar atau tidak, kita mencontoh dan merasakan untuk kemudian mengadopsi baik gaya, perilaku, sikap dan sifat maupun nilai-nilai yang kita yakini. G, yang sedang Anda hayati sekarang sebagai menyebalkan bahkan merasa Tuhan tidak adil pada Anda, kelak jika G dewasa, lebih berpendidikan dan punya lebih banyak pengalaman hidup akan terasa positif. Dan semua akan lebih cepat menjadi lebih bermakna bila G tidak hanya terpaku pada ketidaknyamanan saja, tapi diimbangi dengan menghitung nikmat, kemudahan dan kebahagiaan yang ada pada diri G. Percayalah, keluarga adalah harta yang tak ternilai, kasih sayang mereka tak perlu kita ragukan. Persepsi yang berbeda saja yang menyebabkan ekspresi yang sampai pada G yang menimbulkan emosi karena tak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, bila dilihat lagi, sebenarnya G sedang marah pada diri sendiri, karena G merasa tidak bisa mencapai keinginan diri.

Keterbatasan kemampuan ada dua. Yang diberi (given) dan yang bisa diperoleh dengan kesungguhan belajar dan berusaha. Apa-apa yang given tentu sudah dari sononya, tak bisa diubah. Maka kalau kota menginginkan sesuatu, cari dulu prasyarat yangharus dipenuhi. Seorang buta warna  seperti G bisa kok jadi ahli hukum atau psikolog. Tak harus jadi dokter kan? Mengapa Gtidak diterima di PTN? Namanya saja seleksi, tempat  yang tersedia lebih sedikit dari pada yang menginginkan. Kalau yang nilainyalebih dari G sudah memenuhi kuota, ya wajar kalau G tak  diterima. Yang jelas dunia G belum kiamat, karena G masih bisa kuliah diPTS. Ini yang seharusnya disyukuri, karena untuk sukses dalam dunia kerja lulusan PTS atau PTN mempunyai peluang yang sama. Kalau mau jujur, G akan melihat bahwa Allah tidak tidakpernah kurang  memberi kasih sayang pada G, apalagi berlaku tidak adil. Andalah yang kurang bisa mencermati prasyarat untukjadi tentara atau dokter.

Mulailah pahami diri supaya kita tidak salah dalam membuat rencana masa depan dan dengan memahami masalah given danyang bisa  diupayakan. Insya Allah G bisa membuat rencana dengan lebih baik. Kalau setiap kewajiban beribadah seorang yang beragamaAnda artikan  sebagai sesuatu yang harus ada balasannya dan balasan itu Anda yang menentukan, maka Anda lho yang tak adil.

Kurangilah kebiasaan  berpikir dari sisi negative atau dari sudut pAndang yang tak Anda dapat/miliki, lakukanlah sebaliknya, sayayakin G akan takut untuk marah,  menganggapnya tak adil atau malah mengingkari perintahNya. Perbanyak istighfar, tekunisekolah, usahakan untuk berprestasi, maka G akan  mendapati bahwa bertemu dengan keluarga besar bukanlah sesuatu yangditakuti, karena G punya banyak sisi positif. Semoga Allah selalu melindungi dan merahmati G. Amiin. •

Menu Terkait