Kamis, 29 Juni 2017

Keluarga Sakinah

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Assalamu’alaikum wr. wb.
Bu Emmy yang baik, saya seorang istri (33 tahun) dari seorang suami (35 tahun). Kami menikah 2 tahun yang lalu dan belum dikaruniai anak.  Dilihat dari luar, kami kelihatan baik-baik saja, tidak ada masalah. Bahkan, mungkin kami dilihat sebagai keluarga yang bahagia karena  kami termasuk berlebih dalam soal materi. Namun, saya merasa hambar dengan kehidupan perkawinan saya.

Kami adalah teman  lama, dulu kami dari SMU yang sama. Setelah lulus kami beda fakultas dan kemudian lama tak bertemu. Sampai pada suatu saat kami  dipertemukan kembali. Saya sudah bekerja di sebuah bank BUMN dan suami PNS dan sudah menduda selama 3 tahun. Sejak SMU saya  sudah tertarik padanya, maka ketika bertemu lagi senang rasanya. Setelah pendekatan selama 3 bulan, kami sepakat untuk menikah.

Dalam  kehidupan sehari-hari, sepulang kantor suami lebih senang nonton televisi atau sibuk di komputer. Padahal saya ingin bercengkrama atau  sekadar ngobrol. Tapi itu jarang kami lakukan, Bu. Belum lagi kalau hari libur, ia kadang mengisi waktu dengan pergi memancing. Satu  kegiatan yang saya tak suka.

Saya selalu berusaha menjadikan hidup lebih bervariasi dengan mencoba mengajaknya jalan-jalan berdua, tapi  ia tidak mau. Saya selalu perhatian padanya, memujinya dan memanjakannya. Sebagai wanita saya juga ingin diperhatikan dan  dimanja. Tapi, itu tak saya dapatkan. Saya juga introspeksi diri, apakah saya kurang cantik dan menyenangkan? Kok suami bersikap cuek pada  saya. Padahal dengan orang lain ia bisa bersikap hangat bahkan memuji wanita lain cantik.

Apakah dia tidak mencintai saya ya, Bu?  Pernah saya bicara dari hati ke hati, jawabnya, “Saya sudah pusing dengan masalah kantor. Jangan nambah masalah.” Akhirnya, tiap  masalah tak ada penyelesaian. Bagaimana saya harus menyikapi keadaan ini? Mohon saran dari Ibu. Atas jawabannya jazakumullah. Wassalamu’alaikum wr. wb.
Wt, somewhere

Wa’alaikumsalam wr wb.
Wt yang baik, ada beberapa sebab mengapa suami bersikap demikian ramah pada orang lain, tetapi biasa saja dengan istrinya. Ada yang  bilang, bahwa suami merasa nyaman dengan istrinya dan tak perlu pura-pura ramah seperti ketika ia harus bertegur sapa dengan orang lain,  tetangga atau teman kantor. Ia merasa istri bisa menerimanya apa adanya, meski ia banyak diam karena lelah seharian banyak ngomong.  Setelah kesalahpahaman sama-sama diketahui, apalagi kemudian suami juga mau belajar untuk mengerti perasaan istri, suami jadi lebih  peduli pada istrinya.

Tetapi ada pula suami yang tidak mau menyediakan kenyamanan untuk istrinya sebagai prioritas hidupnya, dan justru beranggapan bahwa istri adalah sumber ketidaknyamanan. Ini biasanya menimbulkan perasaan seperti yang Wt alami. Selanjutnya diikuti  dengan kualitas hubungan intim yang buruk, karena ia sibuk dengan dirinya sendiri. Kedetakan emosional pun tak tercipta karena suami  secara sadar mengambil jarak psikologis dengan istrinya. Tidak terbuka, tidak mau bicara dari hati ke hati. Justru yang muncul sikap  menghardik, kata-kata tajam dan minim perhatian pada istrinya.

Laki-laki seperti ini biasanya tidak mau membawa istri ke lingkungan  sosialnya dan menolak melakukan aktivitas bersama. Mengapa demikian? Biasanya jawaban yang sering muncul, tidak cukup cinta. Jadi ia  menikahi istrinya bukan untuk meraih kebahagiaan dalam kebersamaan, tetapi karena sebab-sebab di luar dirinya. Misalnya, untuk memenuhi  harapan ibunya, guru ngajinya karena dipandang sudah cukup umur dan mapan secara finansial atau ia memandang bahwa  istrinya adalah sumber kemapanan bagi dirinya secara finansial.

Cobalah kaji, kategori yang mana suami Anda. Hubungan intim yang baik,  bisa dijadikan celah untuk bicara serius tantang dambaan Anda dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kalau dalam hal ini terasa kering juga,  mungkin ada unsur keterpaksaan dalam ikatan dengan Anda, yang terasa sebagai beban bagi suami, tapi tidak untuk Anda. Waktu 2 tahun  memang sangat dini untuk sampai pada stabilitas keharmonisan. Tetapi karena masih terhitung pengantin baru, mestinya ada api cinta yang  menggelora. Cobalah buka hati Anda dan lihat lebih jauh, apakah ia punya cara yang berbeda dengan Anda dalam menyatakan rasa  cintanya pada Anda? Kebanyakan perempuan punya gambaran yang penuh romantis ungkapan cinta suami, sebagai hasil kebanyakan baca  buku roman atau nonton sinetron percintaan. Saya setuju dengan Wt bahwa mestinya ada tanda-tanda yang ia munculkan untuk memberi  pesan bahwa ia menyayangi Anda, apapun caranya.

Bila secara obyektif, tak pernah bisa Anda temukan, maaf bila saya katakana bahwa  perkawinan tak akan bisa bertahan bila hanya istri yang mencintai suami. Kalau Wt bilang pernah mencoba, jangan hanya sekali. Tanya lagi  padanya, bagaimana konsep dia tentang perkawinan yang harmonis. Tekankan bahwa Anda berhak mendapat jawaban.

Yang penting,  pertahankan rasa percaya diri bahwa meski tidak cantik tapi Wt punya hal yang positif dalam diri Anda. Tekankan pula bahwa tidak ada orang  lain yang bisa merendahkan saya, kecuali saya yang mengijinkannya. Bicaralah dengan tegas bahwa Anda berhak mendapatkan  penghargaan dari suami. Bila masih buntu, pikirkan, mungkin dia bukan sosok suami yang pantas untuk dipertahankan.

Bukan saya  menganjurkan bercerai lho. Tapi hidup Anda berjalan terus. Jangan biarkan ikatan pernikahan menenggelamkan Anda dalam kesedihan.  Mintalah petunjuk pada Allah lewat amalan sunah seperti shalat malam. Semoga Allah memberi solusi terbaik. Amiin.

Menu Terkait