Rabu, 23 Agustus 2017

Keluarga Sakinah

Khawatir Hasil Ujian Si Kecil Buruk

Assalamu’alaikum wr. wb.
Bu Emmy apa kabar? Semoga Ibu baik selalu, amin. Saya ibu rumah tangga (39 tahun), mempunyai 3 anak. Si sulung putra kelas V SD,  adiknya putra kelas I SD dan si bungsu putri masih duduk di TK. Si sulung ini susah sekali belajar. Kalau disuruh belajar, memang memegang  buku, tapi kalau ditanya tidak bisa menjawab. Puncaknya, hasil rapornya tidak sebaik sebelumnya. Saya jadi sedih dan terpukul.  Mungkin karena saya yang tidak bisa mendidiknya, ya, Bu. Waktu duduk di kelas I sampai IV, saya selalu terlibat dalam belajarnya, dan  hasilnya lumayan.

Di kelas V ini saya mulai melepasnya sendiri, karena saya sudah harus mulai mengajari adiknya yang kelas I SD. Apakah keterlibatan saya pada si sulung yang membuat ia sampai sekarang belum mandiri? Saya cemas bagaimana dia bila duduk di kelas VI nanti?  Membayangkan dia harus ujian, mencapai NEM yang baik agar mendapat SMP yang baik membuat saya tertekan.

Terbayang deh,   ayahnya akan menyalahkan saya, karena ketika saya punya anak, saya memutuskan untuk berhenti bekerja agar bisa konsentrasi penuh  mengasuh dan membesarkan anak. Bagaimana kalau hasilnya mengecewakan suami? Takut saya membayangkan suami akan menyalahkan  saya, dan bilang lebih baik kerja saja, penghasilan tambah dan membuat saya tidak terlalu stres dan terkungkung dengan tugas-tugas rumah  tangga. Saya mohon saran dari Ibu. Atas sarannya jazakumullah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Ibu A, di B.

Wa’alaikumsalam wr. wb.
Semoga Ibu dan keluarga juga baik seperti saya. Prestasi belajar anak di sekolah bisa ditentukan oleh dua hal. Pertama, potensi kecerdasan  dan aktualisasinya dan kedua keadaan psikologis yang kemudian terkait dengan prestasi di sekolah. Kecerdasan akan diketahui pengaruhnya  terhadap masalah anak bila dilakukan pemeriksaan psikologis. Sebaiknya tes IQ disertai dengan telaah kepribadiannya agar terlihat profilnya.  Setelah itu juga lakukan komunikasi mengenai maksud dari skor yang ada dan perlakuan apa yang tepat terhadap anak.

Bila taraf  kecerdasannya rata-rata, maka dengan bimbingan yang tepat akan bisa mencapai nilai 6 atau lebih, bila skala nilai 1 sampai 10. Bila ia ada  di atas rata-rata, maka rapor yang mengecewakan mengindikasikan masalah psikologis dalam dirinya. Sehingga potensi yang baik tidak  muncul dalam bentuk prestasi yang optimal. Sebaliknya, bila ia ada di rata-rata batas bawah, maka di kelas V dan VI sulit untuk mencapai  prestasi yang tinggi, enam saja harus diupayakan. Bila demikian, maka tidak adil bila mengharapkan nilai rapornya bagus. Harapan orang tualah yang harus diturunkan, sembari mencari pada aspek mana dari multiple inteligensinya yang menonjol. Ada yang menonjol pada  matematika, pada bahasa, pada musik atau gerak. Sehingga ia bagus di olahraga atau dalam seni bisa juga ia bagus dalam melukis, menari  atau menyanyi.

Hal lain yang ikut memengaruhi keberhasilan di sekolah adalah aspek non kecerdasan. Golleman dengan konsep EQnya menyatakan bahwa peran IQ dalam keberhasilan hidup hanya 30%, selebihnya adalah faktor non IQ termasuk di dalamnya antara lain EQ  dan SQ. Ini meningkatkan peluang orang tua untuk tetap bersemangat dalam mendidik anak, karena IQ hanya bisa dioptimalkan, tidak bisa  ditingkatkan, sedang faktor non IQ bisa ditingkatkan di umur berapa pun.

Harapan orang tua pada anak, dalam banyak kasus sering jadi  bumerang, karena bila tidak realistis akan terbelenggu dalam tekanan yang membuat stres, tidak “pede”. Dan ini diawali dengan hilangnya  nilai positif dari pentingnya pendidikan dan fokus pada keberhasilan anaknya di sekolah. Terlalu banyak pesan negatif dari orangtua  perlahan-lahan akan membuat si anak meyakini bahwa belajar dan sekolah adalah sumber ketidaknyamanannya. Sehingga sekolah menjadi  tempat yang tidak menyenangkan baginya. Sayangnya, orangtua terlambat menyadarinya dan anak terlanjur luka hati pada segala yang  berkaitan dengan pendidikan.

Saran saya, perubahan pola pengasuhan ibu hendaknya dilakukan secara perlahan dan disertai dengan  penjelasan yang bisa diterima nalarnya. Jangan drastis, karena kerangka berpikir anak Ibu masih penuh dengan rasa ketergantungan pada bundanya. Bila sekarang belajar dan bikin PRnya “disapih” dengan drastis, pesan yang sampai bukan sudah saatnya ia mandiri dan bisa  mengelola cara belajarnya sendiri, ia merasa, bahwa ibunya meninggalkan dalam masalah sekolahnya.

Bu, jangan lupa, emosi itu menular.  Rasa khawatir akan terasa oleh anak saat berinteraksi dengannya. Dan ini akan sampai dalam bentuk ibunya tidak yakin bahwa ia mampu. Ia  pun berpikir memang tak mampu. Maka kendalikan perasaan seperti itu, ya! Pupuk rasa percaya anak, agar rasa “PD”nya tumbuh. Percaya pada kemampuannya sesuai realitas bukan seperti harapan Ibu. Kesenjangan antara realitas dan harapan itulah yang harus diisi dengan  cinta dan kasih sayang yang tak bersyarat. Semoga Ibu dan Bapak sabar dalam menemani putra-putri tercinta. Amiin.

Menu Terkait