cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar

I. Muqaddimah

Alhamdulillah bahwa dengan limpahan ridha, karunia, hidayah, dan taufik Allah SWT maka Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dalam rentang satu abad dapat menjalankan dakwah dan tajdid untuk membawa keselamatan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Gerakan dakwah dan tajdid yang dijalankan oleh Muhammadiyah diwujudkan melalui berbagai usaha yang kemudian diterjemahkan ke dalam program dan kegiatan yang tujuan utamanya menuju tercapainya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam jangkauan yang lebih luas misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah itu tidak lain sebagai perwujudan mengemban risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
 
Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan Muhammadiyah memang merupakan cita-cita luhur yang mungkin tidak akan terwujud secara ideal, tetapi sebagai suatu perjuangan gerakan Islam hal itu harus terus diusahakan sehingga setidak-tidaknya mendekati pencapaian masyarakat yang diidam-idamkan itu. Secara bertahap, terus menerus, dan tersistem sebenarya kehidupan umat Islam khususnya Muhammadiyah dalam rentang satu abad perjalananya telah berusaha menampilkan diri sebagai masyarakat Islam yang diinginkan, sehingga jamaah Muhammadiyah secara keseluruhan sampai batas tertentu merupkan wujud nyata dari masyarakat Islam kendati masih jauh dari ideal sebagaimana idealisme masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tugas utama Muhammadiyah ialah tidak kenal berhenti dalam berusaha untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, baik dalam kehidupan masyarakat Muhammadiyah maupun umat Islam dan masyarakat luas pada umumnya, sehingga pada setiap tahapan perkembangan dicapai kondisi yang semakin lebih baik dalam menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Muhammadiyah dalam mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melakukan perjuanganmelalui usaha yang diwujudkan ke dalam program, amal usaha, dan kegiatan. Dalam menjalankan usahanya itu Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid senantiasa dilandasai, dijiwai, dan diarahkan oleh ajaran Islam yang antara lain menyuruh mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, menunaikan risalah Tuhan, dan berjihad di jalan-Nya, sebagaimana pesan Allah SWT dalam al-Quran di bawah ini:
 
 
 
       Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran: 104)
 
 
 
       (Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (QS Al-Hajj: 41)
 
       Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka (QS As-Syura: 38)
 
       Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ankabut: 69)
 
A. Latar Belakang

Muhammadiyah didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menegakkan dan menjunjungtinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam mewujudkan tujuan atau visi idealnya itu Muhammadiyah melakukan usaha-usaha yang dilaksanakan secara tersistem. Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan yang meilputi: (1) Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan; (2) Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya; (3) Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amal shalih lainnya; (4) Meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas sumberdaya manusia agar berkemampuan tinggi serta berakhlaq mulia; (5) Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta meningkatkan penelitian; (6) Memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah perbaikan hidup yang berkualitas; (7) Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; (8) Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan; (9) Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dan kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri; (10) Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; (11) Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan; (12) Mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber dana untuk mensukseskan gerakan; (13) Mengupayakan penegakan hukum, keadilan, dan kebenaran serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat; dan (14) Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah (ART Muhammadiyah pasal 3.).
 
Perwujudan usaha dalam mencapai tujuan Muhammadiyah dilaksanakan melalui program yang dirumuskan pada setiap Muktamar, sebagai suatu rancangan kegiatan yang harus dilaksanakan pada setiap tahapan baik yang bersifat jangka menengah (pada setiap periode lima tahunan) maupun dalam jangka panjang sesuai dengan visi dan misi pengembangan yang ditetapkan organisasi. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam baik dalam melaksanakan program maupun keberadaan, peran, dan kiprahnya tidak lepas dari kondisi atau konteks keberadaan gerakan Islam ini dalam berbagai lingkungan. Kondisi yang dihadapi Muhammadiyah tersebut mempengaruhi dinamika gerakan, khususnya dalam melaksanakan program untuk mencapai tujuan utamanya yakni mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
 
Secara umum pasca Muktamar Malang yakni pada kurun waktu 2005-2010 terlah terjadi perkembangan kehidupan yang relatif dinamik, baik dalam kehidupan nasional maupun global. Dalam kehidupan bangsa terjadi dinamika kehidupan nasional yang ditandai munculnya masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang memerlukan prioritas yang harus dipecahkan. Sedangkan dalam konteks kehidupan global pada kurun lima tahun tersebut ditandai oleh fenomena internasional yang dinamik seperti disahkannya ASEAN Charter oleh sepuluh negara; serta pergeseran yang cepat titik gravitasi geo-politik, geo-ekonomi, dan geo-sosial-budaya dari Eropa dan Amerika Utara ke Asia dengan pusat utamanya China. Demikian pula dinamika dan permasalahan yang dihadapi umat Islam baik pada ranah nasional maupun internasional. Adapun faktor kondisional yang dihadapi Muhammadiyah sekaligus menjadi latarbelakang dirumuskannya program Muhammadiyah secara rinci dapat dijelaskan dan digambarkan sebagai berikut.
 
1.  Kehidupan Nasional

Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi sebuah bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat. Hal itu didukung oleh sejumlah fakta positif yang dimiliki bangsa ini. Pertama, posisi geopolitik yang sangat strategis. Kedua, kekayaan alam dan keanekaragaman hayati. Ketiga, jumlah penduduk yang besar. Keempat, kemajemukan sosial budaya. Namun modal dasar dan potensi yang besar itu tidak dikelola dengan optimal dan sering disia-siakan sehingga bangsa ini kehilangan banyak momentum untuk maju dengan cepat, sekaligus menimbulkan masalah yang kompleks.
 
Dengan menghargai sejumlah kisah sukses di sejumlah bidang kehidupan seperti keberhasilan dalam demokrasi, pemulihan krisis ekonomi, dan resolusi konflik di sejumlah daerah; diiakui bahwa Indonesia hingga saat ini masih menghadapi berbagai masalah nasional yang kompleks. Di antaranya masalah politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang memerlukan prioritas dan perhatian untuk dipecahkan yang dapat mempengaruhi perjalanan bangsa ke depan. Kini, setelah reformasi tahun 1998 perjalanan bangsa dan negara Indonesia menunjukkan dinamika antara keberhasilan dan masalah yang harus dihadapi, yang seringkali tidak mudah untuk dikelola karena berbagai kendala dan kelemahan termasuk dalam hal kepemimpinan dan cara mengurus negara.
 
Reformasi tahun 1998 merupakan pilihan yang niscaya dan telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia sebagai jalan keluar dari kondisi dan era otoritarian rezim Orde Baru pada masa sebelumnya. Era baru ini diharapkan dapat membawa perubahan ke arah perbaikan sistem politik dan ekonomi negara yang sedang dilanda krisis multidimensi, yang dalam sejumlah hal telah menunjukkan prestasi atau perkembangan yang positif terutama dalam demokratisasi. Dengan reformasi Indonesia menjadi negara demokrasi ketgiga setelah Amerika Serikat dan India yang diakui prestasinya di dunia internasional, di samping perkembangan lainnya seperti mulai tumbuhnya pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak warga negara yang di masa sebelumnya mengalami pengekangan yang luar biasa.
 
Namun perkembangan bangsa di era reformasi yang telah berjalan satu dasawarsa ini masih ditandai oleh sejumlah masalah yang serius. Perkembangan politik nasional relatif menggembirakan terutama di bidang stabilitas-keamanan dan demokrasi. Hal ini ditandai oleh peningkatan partisipasi politik, kebebasan pers dan berekspresi, serta penegakan hukum dan hak asasi manusia. Kenyataan ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara demokratis terbesar setelah India dan Amerika Serikat. Meskipun demikian, capaian-capaian di atas masih disertai sejumlah masalah yang memerlukan penyelesaian secara sungguh-sungguh. Di antara masalah politik yang krusial ialah kerancuan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, kelembagaan negara yang tidak efektif, sistem kepartaian yang tidak mendukung, dan pragmatisme politik yang meluas.
 
 Penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) masih belum menyentuh aspek-aspek yang mendasar dan masih terkesan diskriminatif, yang ditunjukkan dengan sejumlah kasus yang besar yang belum diusut tuntas. Pemberantasan korupsi juga terkesan masih tebang pilih, yang ditandai dengan tidak ditanganinya kasus-kasus korupsi-korupsi kelas kakap, masih ringannya hukuman terhadap koruptor-koruptor besar, berkembangnya mafia kasus dan mafia hukum, perlakuan yang istimewa di penjara terhadap narapidana korupsi, dan masih lemahnya peranan institusi-institusi penegakan humum dalam pemberantasan korupsi. Kecenderungan nepotisme baru juga bermunculan dengan keterlibatan anggota keluarga dalam kancah politik tanpa didasarkan pada profesionalitas dan karir politik yang memadai, yang melahirkan politik dinasti.
 
Dalam kehidupan demokrasi memang mengalami kemajuan yang pesat, tetapi terjadi kecenderungan demokrasi prosedural tidak diimbangi dengan demokrasi subtantif, sehingga kualitas dan perilaku berdemokrasi cenderung serba pragmatis dan mengalami penggerusan nilai-nilai termasuk nilai moral. Bangsa Indonesia dalam berdemokrasi cenderung menganut paham demokrasi liberal, yang dalam jangka panjang menimbulkan persoalan termasuk dalam hubungan dengan moral dan agama. Pancasila seolah kehilangan dasar orientasi nilai dalam membingkai demokrasi. Demikian pula kecenderungan demokrasi liberal tampak menguat dalam mengembangkan praktik otonomi daaerah dan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Sememntara sistem politik multipartai di Indonesia semakin menunjukkan kerancuan dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, disertai dengan prilaku elite politik dan partai politik yang semakin pragmatis, yakni orientasi politik yang berpusat pada mengejar kekuasaan semata-mata dan sampai batas tertentu menghalalkan segala cara.
 
Kekisruhan dalam Pemilihan Umum 2009 antara lain menunjukkan kecenderungan politik yang pragmatis seperti itu. Sementara harapan-harapan rakyat terutama kalangan bawah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang lebih berkecukupan dan untuk meraih kehidupan yang lebih adil dan makmur masih jauh dari kenyataan. Pemerintahan tidak dikelola dengan sistem tatakelola yang semestinya sehingga tidak mewujudkan keadilan, kemakmuran, dan pemenuhan hajat hidup bagi sebesar-besarnya kepentingan rakyat sebagaimana amanat UUD 1945 dan cita-cita kemerdekaan.
Dalam pembangunan ekonomi banyak kemajuan yang telah diraih bangsa ini. Pertumbuhan ekonomi dan rata-rata pendapatan perkapita terus meningkat. Stabilitas makro ekonomi pun semakin terpelihara. Perhatian pemerintah terhadap persoalan ekonomi masyarakat semakin nyata dengan banyak dan beragamnya skema program ekonomi yang ditujukan untuk masyarakat terutama golongan menengah-bawah.
 
Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa berbagai kemajuan ekonomi yang tercermin dari pertumbuhan dan stabilitas indikator makroekonomi sesungguhnya masih jauh dari memadai dan bias terhadap fakta-fakta ekonomi yang ada. Fondasi dan ketahanan ekonomi Indonesia masih lemah dan rentan. Hal ini disebabkan orientasi pembangunan ekonomi yang lebih menekankan aspek pertumbuhan, bertumpu pada investasi asing, utang luar negeri, dan konglomerasi. Kondisi demikian mengakibatkan hasil pembangunan hanya dikuasai dan dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat, kesenjangan melebar, dan sendi-sendi kehidupan sosial-ekonomi nasional tumbuh tanpa akar yang kuatBeberapa persoalan ekonomi nasional yang mendasar dan bersifat struktural adalah paradigma ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi yang dualistik, kebijakan fiskal yang belum mandiri, sistem keuangan dan perbankan yang tidak memihak rakyat, serta kebijakan perdagangan dan industri yang liberal.
 
Paradigma dan kebijakan ekonomi yang cenderung liberal atau neoliberal menjadikan perekonomian mikro, kecil, dan menengah tidak berkembang sehat dan memperoleh prioritas utama, bahkan terkalahkan. Bangsa ini masih dihadapkan pada kesenjangan ekonomi masyarakat yang semakin lama justru semakin melebar. Masyarakat yang kaya semakin kaya dan masyarakat yang miskin semakin miskin. Kondisi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak sosial. Praktik korupsi yang mengakar sangat kuat juga menjadi masalah tersendiri bagi upaya pemulihan krisis ekonomi yang tidak berangsur pulih, sehingga menambah berat beban dan masalah ekonomi terutama bagi rakyat kecil.
 
Dalam bidang sosial-budaya Indonesia telah mencapai beberapa keberhasilan. Di bidang pendidikan terdapat peningkatan anggaran pendidikan, peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar, dan peningkatan prestasi anak-anak Indonesia di tingkat regional dan internasional. Di bidang penegakan hukum terdapat keseriusan usaha pemberantasan korupsi yang membawa implikasi pada moralitas publik, disertai lahirnya produk perundang-undangan yang berpihak pada hak asasi manusia, perlindungan perempuan dan anak, serta penegakan moral. Di bidang kehidupan beragama semakin meluas iklim dan kesadaran untuk hidup rukun dalam kemajemukan. Dalam hubungan sosial masih cukup kuat budaya gotong royong dan semangat kebersamaan sebagaimana ditunjukkan ketika menghadapi bencana alam.
 
Namun demikian masih terdapat permasalahan sosial-budaya yang perlu mendapatkan pemecahan yang serius, di antaranya memudarnya rasa dan ikatan kebangsaan, disorientasi nilai keagamaan, memudarnya kohesi sosial, dan melemahnya mentalitas yang positif. Di bidang pendidikan, negeri ini sulit menghindar dari kecenderungan komersialisasi pendidikan karena keterbatasan pemerintah dalam membiayai dan memberikan pelayanan pendidikan yang memadai bagi anak-anak usia sekolah, kendati anggaran pendidikan telah dinaikkan. Biaya pendidikan yang semakin sulit dijangkau oleh rakyat miskin mengakibatkan kesenjangan sosial yang semakin menganga dan menimbulkan masalah-masalah baru dalam kehidupan sosial.
Masalah lain yang juga tampak mencolok ialah kecenderungan kian melemahnya karakter bangsa dan meluasnya penyakit-penyakit sosial dalam masyarakat seperti kekerasan termasuk kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, kriminalitas, perjudian, pornografi dan pornoaksi, dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya yang merusak nilai-nilai agama dan moral bangsa. Lemahnya karakter bangsa juga dapat ditunjukkan dalam praktik kehidupan politik dan perilaku para politisi maupun pejabat negara/pemerintahan, yang terlibat dalam korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan memanfaatkan peluang untuk ajimungpung. Wajah politik dan kehidupan nasional menunjukkan kecenderungan pada pragmatisme dan oportunisme, sehingga banyak masalah tidak terselesaikan, amanat rakyat terabaikan, dan agenda-agenda strategis bangsa tidak memperoleh perhatian yang serius. Persoalan penggerusan watak dan kepribadian bangsa ini menjadi agenda besar yang harus dicarikan penyelasaian dan cara mengatasinya karena menyangkut pertaruhan masa depan bangsa.
 
Dalam kurun waktu spuluh hingga duapuluh tahun ke depan Indonesia diproyeksikan masih akan mengalami berbagai perubahan yang penuh dinamika dan permasalahan yang kompleks. Secara politik, Indonesia akan berkembang semakin demokratis, meski belum tentu akan mengalami stabilitas politik yang permanen. Secara ekonomi, Indonesia akan kembali mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil dan menjadi salah satu “macan asia”, tetapi belum menjamin adanya pemerataan dan keadilan untuk kemakmuran rakyat. Sementara itu, Indonesia juga akan semakin menghadapi berbagai masalah sosial yang tidak mudah untuk diselesaikan di bidang pertahanan dan keamanan, mengatasi kerusakan lingkungan, dan menjaga martabat serta kedaulatan bangsa dan negara. Sementara budaya populer akan semakin menjadi kecenderungan yang luas dalam masyarakat seiring dengan perkembangan media elektronik yang sangat pesat, yang memungkinkan terjadinya kebudayaan Indonesia berada di persimpanan jalan dalam dinamika globalisasi yang semakin menggurita.
 
Bangsa Indonesia juga memerlukan strategi kebudayaan baik dalam menghadapi globalisasi maupun menghadapi dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk yang sering menghadapi banyak konflik sosial. Selain itu keragaman bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian, cenderung menguat dengan semakin efektifnya proses demokrasi dan otonomi daerah, yang dapat membawa konsekuensi luas dalam sistem kebudayaan masyarakat Indonesia. Hal tersebut akan menjadi tantangan besar bagi organisasi Muhammadiyah yang telah berkembang semakin besar dan kompleks, dengan jangkauan wilayah yang sangat luas untuk menghadirkan gerakan Islam yang berwawasan kebangsaan dan kebudayaan yang mampu memberikan jawaban-jawaban alternatif yang mencerahkan, membebaskan, dan memberdayakan bagi kepentingan kejayaan masa depan bangsa.
Lima tahun ke depan bangsa Indonesia memerlukan revitalisasi visi dan karakter bangsa sebagai titik tolak melakukan konsolidasi reformasi. Dengan menyadari nilai positif yang dihasilkan reformasi dan kesadaran adanya masalah dan tantangan yang cukup berat, maka kini diperlukan penajaman-penajaman terhadap visi reformasi maupun pembangunan nasional di tubuh bangsa ini. Reformasi perlu dirancang-bangun dan diintegrasikan ke dalam pembangunan nasional yang bersifat menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga reformasi berada dalam arah dan jalur yang benar.
 
Pembangunan nasional dalam berbagai bidang kehidupan perlu dikembangkan dalam bingkai paradigma pembangunan berkelanjutan yang bermakna (sustainable development with meaning). Paradigma ini bertumpu pada prinsip pengembangan sumber daya manusia sebagai subjek pembangunan, pemanfaatan sumberdaya alam secara produktif dengan menjaga kelestarian, kebijakan ekonomi dan politik yang berpihak kepada kepentingan rakyat, serta menjunjung tinggi moralitas dan menjaga martabat bangsa. Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan yang bermakna merupakan upaya perbaikan dalam kehidupan manusia dengan menjaga keseimbangan antara material dan spiritual, individu dan masyarakat.
 
Dalam lima tahun ke depan diperlukan revitalisasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya sebagai matarantai dari revitalisasi visi dan karakter bangsa, yakni sebagai berikut: (1) Dalam kehidupan politik diperlukan penguatan nilai dan budaya demokrasi ke arah pemantapan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan presidensial, efektivitas fungsi kelembagaan negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif), rasionalisasi sistem kepartaian, dan penegakan etika politik; (2) Dalam kehidupan ekonomi diperlukan penguatan ekonomi nasional yang dicirikan dengan terciptanya struktur ekonomi yang adil, mandiri, berdaya saing, dan memihak kepada rakyat demi tercapainya kemakmuran bangsa; dan (3) Dalam kehidupan sosial budaya diperlukan penguatan rasa kebangsaan, keber-agama-an yang transformatif, integrasi sosial, dan penanaman nilai-nilai kepribadian yang kuat dan berkarakter.

Bab I(2) Next >>

iklan

Berita Terpopular

Yogyakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sikap  menolak gerakan dan faham lslami ... selengkapnya
Jakarta – Kalau ada apa-apa keterlibatan kita dilingkaran manapun, sosial maupun politik ya ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Wahai Dahlan, Sesungguhnya di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya..
[KH. Ahmad Dahlan]
iklan