Minggu, 25 Juni 2017

Tanya Jawab Al-Islam

Do’a Sesudah Shalat Dhuha

 

Pertanyaan:

   Assalamu'alaikum wr. wb.

Redaksi SM/ Pengasuh rubrik Tanya Jawab Agama yang terhormat, bagaimanakah kedudukan doa setelah shalat Dluha, adakah dapat digunakan,atau lebih baik digunakan, karena ada pendapat Haditsnya dhaif jiddan (Nashiruddin Albani). Ini berkenaan dengan profesi kami sebagai pendidik.

   Atas jawaban yang diberikan kami sampaikan terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Singgih Hardjanto, NBM.1046367,

Tuguran Potrobangsan Magelang

(disidangkan pada hari Jum'at, 20 Syakban 1432 H / 22 Juli 2011 M)

 

Jawaban:

   Wassalamua 'alaikum wr. wb.

   Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Semoga saudara dan murid-murid yang saudara didik senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat dari Allah SwT. Kami mendoakan pula agar lembaga pendidikan yang saudara kelola senantiasa memiliki semangat untuk menanamkan nilai dan ajaran-ajaran agama bagi putra-putri yang dididiknya dan senantiasa memiliki komitmen untuk ber-fastabiqui khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan), yakni dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab, masa depan negeri dan umat ini sangat bergantung dengan kualitas pendidikannya, tak terkecuali pendidikan agama.

   Mengenai doa sesudah shalat Dluha, kami telah menelusuri kitab-kitab fiqih dan kitab-kitab Hadits, dan sepanjang penelusuran kami memang tidak ditemukan adanya Hadits yang menerangkan atau mengajarkan lafal-lafal atau doa-doa tertentu setelah selesai menunaikan shalat Dluha. Demikian juga kami telah meneliti kitab Hadits Nashiruddin Albani yang  berisikan Hadits-Hadits dhaif versi beliau, yaitu kitab Silsilah al-Da'ifah dan kitab- kitabnya yang lain. Tidak ditemukan Hadits yang saudara maksudkan. Namun demikian, jika yang dimaksudkan adalah pendapat Albani tentang Hadits shalat Dluha lainnya, memang terdapat sejumlah riwayat yang ia anggap dlaif jiddan (lemah sekali)  atau bahkan maudu' (palsu). Misalnya  Hadits yang menjelaskan bahwa "di surga ada satu pintu yang bernama pintu "ad- Dluha" yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang menjaga shalat Dluhanya" (Silsilah al-Da'ifah, jilid I, hal 569).

 Adapun doa dengan lafal "/nna d/uha dluha-uka, wal-baha-u baha-uka, wal-ja- malujamaluka, wal-quwwatuquwwatuka,  wal-qudratu qudratuka, wal-'ushmatu 'ushmatuka", bukanlah doa yang berasal dari Nabi Muhammad saw, melainkan doa yang dimunculkan pertama kali oleh ahli hokum (fugaha) ,seperti oleh asy-Syarwani dalam Syarh Minhaj dan ad-Dimyati dalam l'anatut-Thalibin. Keduanya pun sesungguhnya tidak menyebut doa ini berasal dari Hadits Nabi Muhammad saw.
 

 Dengan demikian, seorang yang sele sai melaksanakan shalat Dluha, ia dapat melafalkan doa apa saja yang baik tanpa harus terikat dengan lafal yang dianggap berasal dari Rasulullah saw untuk shalat Dluha. Firman Allah dalam Al-Qur'an:

Artinya: "Jika kamu telah menunaikan shalat, maka berdzikirlah (ingatlah) Allah" (Qs An-Nisa [4]: 103)

 

        Artinya: Hai orang-orang yang ber iman. berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."(Qs. Al-Ahzab {33]:  41-42)

        Doa yang bisa digunakan dan diajarkan kepada peserta didik salah satunya misalnya adalah doa yang diajarkan oleh Hadits berikut ini:
 

      Artinya "Sesungguhnya Rasulullah berlindung (kepada Allah) dari lima hal setelah selesai shalat."Ya Allah, sesungguh nya aku berlindung kepada Engkau dari sifat kikir; akuberlindung kepada Engkau dari sifat pengecut, akuberlindung kepada E ngkau dari dikembalikan kepada umurnya yang paling hina (pikun), aku berlindung kepada Engkau dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada E ngkau dari azabkubur".(HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmaddan an-Nasai, lafal dari an-Nasai).

      Wallahu a'lam bish-shawab.*M-R f )°

Menu Terkait