Sabtu, 21 Oktober 2017

Akhlaq

Berhaji, Untuk Apa?

 

Muhsin Hariyanto

Dosen Tetap FAI UMY dan Dosen Tidak Tetap STIKES AISYIYAH Yogyakarta

 

 Banyak orang berhaji, tetapi banyak  juga orang korupsi. Inilah ungkapan  sinis orang terhadap realitas social  di negeri kita tercinta. Padahal, hamper  setiap calon jamaah haji yang berpamitan  kepada komunitasnya selalu ditamui oleh banyak orang dan sekailgus banyak  tetangga dan sanak saudara mereka yang  sejak menjelang keberangkatan para calon  jamaah haji itu mendoakan dalam beragam  doa yang antara lain bahkan berbentuk  seperti paduan suara: "Semoga menjadi  haji yang mabrur . Haji yang mabrur yang  diharapkan hadir ke tengah masyarakat  kita adalah haji yang magbul, yang  pahalanya diterima Allah SwT.

Mereka, para jamaah haji itu, ditengarai, atau minimal sangat diharapkan benar-benar sadar dan memahami makna  firman Aliah SwT berfirman: "Supaya  mereka menyaksikan berbagai manfaat  bagi mereka dan supaya mereka  menyebut nama Allah pada hari yang telah  ditentukan (hari raya haji dan hari tasyriq,  tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) atas  rezki yang telah diberikan oleh Allah  kepada mereka berupa binatang ternak  (binatang-binatang yang termasuk jenis  unta, lembu, kambing dan biri-biri). Maka  makanlah sebagian darinya dan (sebagian  lagi) berikanlah untuk dimakan oleh orang-  orang yang songsara dan fakir."(Os. Al- Hajj{22]:28)

Ayat di atas -bila benar-benar  direnungkanmengisyaratkan bahwa setiap jamaah haji harus berupaya untuk  menggapai kemabruran haji mereka,  dengan salah satu indikator pentingnya:  adanya kesadaran untuk menggapai  keshalihan multidimensi: "keshallhan  vertikal dan horisontal, baik yang  bersifat individual dan kolektif"  Menjadi yang terbaik ketika berinteraksi  dengan Allah, dan sekaligus ketika  berinteraksi dengan sesama makhluk  Allah. Mereka yang disebut haji yang  mabrur ialah mereka yug berkemauan  dan berkemampuan untuk membangun  keseimbangan secara proporsional antara  menjadi shalih secara vertikal dan  horisontal, baik yang bersifat individual dan  kolektif, tanpa adanya sikap dikotomis.

 Merekalah yang pada akhirnya mau dan  mampu untuk mempersembahkan yang  terbaik untuk Allah dan sesama makhluk  Allah secara simultan. Kita perlu selalu ingat terhadap sabda  Rasulukah saw, ketika beliau menegaskan: barangsiapa yang berniat haji  karena Allah, kemudian la tidak berkata  kotor dan berbuat jahat, maka dirinya akan  mendapatkan sebuah keberadaan faktual  seolah-olah dirinya teiah komball menjadi  bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.  (HR Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah)

 Dalam kaitannya dengan sejumlah  pertanyaan tentang tanda-tanda kemabrúran haji seseorang, para ulama melakukan simplifikasi penjelasan dengan merujuk pada tuntunan Rasulullah saw  bahwa indikator haji yang mabrur ada tiga:  Pertama, haji yang mabrur adalah seseorang yang secara terus menerus  berkesadaran untuk memberi makan kepada setiap orang yang membutuhkan. Artinya seseorang yang memperoleh kemabruran hajiharusmampu membuktikan dirinya dalam wujud dan perilaku keseharian yang humanis, hidup sederhana, penuh kebersamaan, amat peduli terhadap keadaan dan nasib orang lain, terutama kaum dhaafa'(lemah) dan mustadh'afin (terlemahkan).

 Kedua, haji yang mabrur adatah seseorang yang secara terus menerus berkesadaran untuk bertutur kata lemah-lembut dan sopan. Berkemampuan untuk menjaga lisannya, karena ia sadar bahwa akibat yang akan ditimbulkannya. Dalam banyak hal, baik-buruk, positif-negatif, untung-rugi seseorang banyak ditentukan oleh ucapan lisannya. Seorang haji yang mabrur tentu saja dari lisannya, akan keluarkalimah thayyibah, kata-kata yang baik, bijak, santun dan bermanfaat, taushiyah atau nasihat yang berguna dan penuh pesona.

Ketiga, haji yang mabrur adalah seseorang yang secara terus-menerus berkesadaran untuk menebar salam (perdamaian). Haji yang mabrur akan senantiasa berkesadaran untuk merajut silaturrahimdan mempereratukhuwwah, memperkokoh jalinan persaudaraan, utamanya jalinan persaudaraan antar-Muslim, dan kemudian diderivasi menjadi jalinan persaudaraan antarumat manusia, dengan spirit Ukhuwwah Islamiyyah, semangat persaudaraan yang menawarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dengan kata lain, dalam diri mereka para haji yang mabrur terkandung misi dan tanggungjawab menebar salam dan rahmat. Berjumpa dan berpisah dengan salam. Semangat yang tumbuh dalam dirinya adalah berbuat baik dengan ruh perdamaian, sebagaimana adagium yang mereka pahami: "peace for all".

Akhirnya, setiap Muslim harus memahami dengan benar bahwa ibadah haji seharusnya menjadi wahana pengayaan pengalaman spiritual (ruhani) yang dapat memberikan inspirasi atau jalan terang kepada nilai-nilai kemanusiaan. Setiap Muslim yang telah beribadah haji sepulang dari Tanah Sucidiharapkan menjadi orang yang senantiasa berkemauan dan berkemampuan untuk membimbing umat Islam dalam merenungi dan meresapi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan sosialnya.

Selamat berhaji ke Tanah Suci dengan niat karena Allah, dan pulang (kembali) ke Tanah Air menjadi haji (yang) mabrur"

 

Menu Terkait