Selasa, 24 Oktober 2017

Keluarga Sakinah

SUAMI SUKA MAIN API

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yang baik, saya L (34 tahun) sudah menikah 8 tahun yang lalu dengan D, teman kuliah. Kini kami punya anak lakilaki (7 tahun). Sejak dulu suami punya banyak teman perempuan. Setahu saya mereka hanya bersahabat. Ternyata bagi mereka, suami adalah orang yang asyik diajak ngobrol, bahkan menjadi teman ‘curhat’.

Di akhir masa kuliah saya bekerja dengan gaji lumayan besar. Sedang suami sempat menganggur sebelum bekerja di sebuah perusahaan. Saya berhenti bekerja ketika kehamilan saya bermasalah. Rencana untuk bekerja kembali tertunda terus hingga kini. Tapi saya tidak menyesal, karena saya justru bisa mendampingi anak saya, yang alhamdulillah berprestasi.

Kami masih tinggal di rumah mertua yang termasuk keluarga yang berada karena kesuksesan ibu dalam menjalankan usahanya. Suami tidak akrab dengan keluarganya, kecuali ibu yang menjadi idolanya. Sedang saya sangat dekat dengan sesama anggota keluarga. Dengan anak dan istri suami agak pelit. Selama ini saya dijatah untuk kehidupan sehari-hari dan untuk keperluan sekolah. Padahal, sebetulnya uangnya cukup untuk sekadar liburan atau beli rumah. Yang cukup berat adalah menghadapi perilakunya yang senang ‘main api’. Saat saya melahirkan, ia akrab dengan teman sekantornya N. Saya tahu hubungan mereka sekedar teman curhat. Untunglah N dipindahtugaskan dan menikah.

Setahun kemudian, ia dekat lagi dengan M. Ada bukti telpon dan SMS. Alhamdulillah saya masih bisa mengontrol emosi. Saya bicarakan baik-baik soal M. Kata suami ia yang mengejarnya. Katanya, sekarang mereka sudah tidak berhubungan lagi. Yang menyakitkan, suami bilang perilaku seperti itu hal yang biasa. Baru beberapa bulan merasa tenang, suami mulai main facebook. Suatu hari saya pergoki, ia sedang ‘chatting’ dengan D, mantan pacarnya. Mereka saling bilang ‘I love U’. Saya print halaman bagian itu dan saya kasihkan ke suami. Ia hanya tertawa kecil, dan katanya itu hanya korespondensi teman biasa. Saya kecewa, marah dan sedih. Kepercayaan saya pada suami sudah sampai titik nadir. Lelah, Bu. Saya tak takut pisah dengan suami. Tapi apakah ini jalan terbaik? Mohon saran dari Ibu. Jazakumullah jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
L, di kota K

Wa’alaikumsalam wr. wb.
L yang baik, bila dicermati sebenarnya ada ketimpangan yang makin lama makin melebar antara L dengan suami. Ketika L berkembang menjadi sosok istri dan ibu yang makin matang dalam menjalani perkawinan, suami tetap saja berada dalam kondisi kepribadian seperti saat belum menikah dulu. Menikmati ketergantungan perempuan-perempuan pada dirinya, mau mengorbankan waktu untuk orang lain daripada bersama anak dan istrinya. Yang pasti, perilakunya sangat menyakitkan L, sementara ia menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Yang jelas, menurut saya ia tidak berniat menjadikan perempuan itu sebagai pengganti L. Karena ia cuma berani berhubungan lewat
dunia maya. Bukti lainnya, tak ada upaya untuk bertemu, melakukan kontak fisik lebih jauh yang biasanya merupakan tahap lanjut dari
perselingkuhan. Apakah yang dilakukan suami termasuk selingkuh? Menurut saya ya, karena ia berhubungan dengan perempuan itu sembunyi dari L. Anda tak sendiri L, banyak pria yang bungkusnya saja seperti orang dewasa, padahal isinya anak laki-laki yang tak pernah menjadi dewasa untuk menjawab tuntutan perannya sebagai suami dan ayah dari anaknya. Maka ia pun tak ada keinginan untuk beli rumah, karena lebih nyaman tinggal bersama orang tuanya.

Baginya, hal-hal di luar minatnya bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan, termasuk istri dan anaknya. Bukan berarti saya terus bilang, biarkan saja, wong tidak akan kawin. Tergantung perempuannya juga. Kalau ia agresif, bagaimana? Seperti kata L, kepercayaan L pada suami, bahan
dasar dari kokohnya pernikahan sudah menurun ke titik terendah. Saya harus jujur, bahwa problem L memang berat. Namun jika L memandang bahwa pernikahan ini masih berharga untuk dipertahankan, tentulah ini bisa jadi tidak berat. Yang pertama harus L tanamkan dalam benak tentang suami, ia adalah kepala keluarga yang sangat L harapkan bisa menjadi pelindung anak dan istri. Maka untuk menjadi keluarga yang tangguh, keluarga ini harus punya rumah terpisah dari orang tua. Pelan tapi pasti, insya Allah dapat memicu tumbuhnya rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Namun, bila L tidak merasakan manfaat dari kelanjutan pernikahan ini karena sudah lelah dengan ‘penyakit’ suami. Pastikan sebelumnya L sudah mengajaknya berdiskusi. Sampaikan perasaan L dan rencana untuk mengakhiri semua. Yang penting, jangan mengambangkan masalah. Keadaan seperti ini hanya akan membuat L jatuh bangun oleh ulah suami. Dan membuat L runtuh harga dirinya.Jangan lupa, mintalah petunjuk Allah. Tambahlah amalan dengan melakukan shalat malam. Perbanyak istighfar dan berbuat shadaqah, insya Allah jalan keluar yang terbaik akan L peroleh.
Amin.l

Menu Terkait