Sabtu, 21 Oktober 2017

Akhlaq

Menuju Islam (Yang) Berkemajuan 

Muhsin Hariyanto

Dosen Tetap FAI UMY dan Dosen Tidak Tetap STIKES AISYIYAH Yogyakarta

 

Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006) pernah  menyatakan bahwa kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah  zaman reformasi belum kunjung berubah. Perasaan terus terkepung  (siege mentality) oleh pelbagai isu, masih saja terus menghantui.  Padahal, Islam tetap terus berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia. Banyak orang yang  merindukan kembalinya 'puritanisme' dengan asumsi kembali  kepada Sunnah Nabi saw, dan di sisi lain ada yang  dengan  sangat percaya diri- menggagas perlunya merujuk konsep liberalisme'. Hingga memunculkan dua kelompok (ekstrem) Muslim: "Puritan dan Liberal". Dua kutub ekstrem yang kadang-kadang saling menafikan, yang justru menenggelamkan umat Islam  ke dalam keterpurukan yang lebih parah. Menjauh dari spirit Islam  yang dikenalkan oleh Nabi saw sebagai"rahmatan lil'alamin".Padahal, masyarakat Islam di Indonesia ini'mayoritas' dalam  kuantitas, tetapi mentalnya 'minoritas', karena kualitasnya. Ada  sikap "ketidakpercayaan diri".

Akibatnya, Islam menjadi terkotak-kotak dan menjauh dari  porosnya. Padahal tawaran nilai-nilai Islam dalam Al-Qur'an (dan  juga As-Sunnah) sangat ramah terhadap kemajuan zaman. Kita (baca: umat Islam) bisa belajar pada umat lain. Misalnya pada gerakan The Green Peace, LSM yang bekerja untuk penghijauan/pelestarian alam. Mereka menggapai'api Islam'tanpa harus secara formal memeluk Islam. Meskipun mereka non-Muslim, tetapi gerakan dan tindakan mereka selaras dengan nilai-nilailslam.

Contoh lain, di Jepang praktik'anti riba'sudah diimplemantasikan, sementara kita (umat Islam) masih berteriak-teriak. Untuk menerjemahkan "api Islam", sebenarnya kita bias belajar banyak dari pemikiran dan aksi KHA Dahlan dalam memahami dan memperjuangkan ajaran Islam sejak merintis berdirinya Muhammadiyah. Kiai Dahlan begitu mendalam dan luas pandangannya, tidak sempit dan serba menyederhanakan Visi Kiai Dahlan sungguh jauh ke depan. Misalnya, ketika menggagas arti pentingnya "sekolah", beliau berani mengadopsi gagasan 'Barat' yang waktu itu dianggap sebagai sikap "tasyabbuh", identik dengan 'Belanda'(baca: orang kafir). Dan oleh karenanya bisa dikafir-kafirkan.

Pada saat itu, gagasan-gagasan KHA Dahlan tentang Islam sangatlah maju, dia menawarkan "Islam yang berkemajuan" bukan Islam yang 'jumud'(mandek). Beliaujuga - dengan gagah berani- mengkritik pemikiran yang tidak didasarkan pada penelusuran nalar secara mendalam hingga menumbuhkan sejumlah aksi yang -menurut A Syafii Ma'arif- 'kurang cerdas' Nostalgiawan Wahyudhi, mahasiswa Postgraduate Studies, Kulliyah of Political Science International Islamic University  Malaysiadalam Republika (Jumat, 14 September 2007)  mengungkapkan bahwa KH Mas Mansur (1937) – sebagaimana  KHA Dahlan - (dalam sebuah bukunya) juga telah menggagas 'Islam yang Berkemajuan'ini. Secara visioner KH Mas Mansur memiliki ide yang sama, bahwa Islam akan maju dan berpengaruh jika Islam hadir sebagai peradaban. Namun secara konseptual, KH Mas Mansur memiliki ide yang lebih matang. Dia katakana  bahwa untuk mencapai Islam yang berkemajuan, umat Islam harus maju dalam semua bidang.

Di antara gagasan 'Islam yang Berkemajuan' KH Mas Mansur yang sangat penting untuk dikaji lebih lanjut – menurut Nostalgiawan Wahyudhi- antara lain:  Pertama, Islam tidak boleh hanya terkonsentrasi pada sisi ekonomi (amal usaha). Namun dengan berani beliau menempatkan aspek ekonomi di bagian paling belakang pencapaian Islam berkemajuan. Lebih mengakar lagi, beliau menempatkan porsi keagamaan pada posisi terpenting sebagai fondasi awal untuk membangun peradaban. Hal ini bisa diartikan bahwa yang diharapkan beliau bukanlah umat Islam yang menguasaiekonomi kapitalis dunia, tetapi umat Islam yang menguasai ekonomi Islam yang memengaruhi dunia.

 Kedua, pendidikan yang berke-Islaman diperlukan untuk membentuk sumberdaya manusia kompetitif dan religius. Dua karakter kepribadian ini sangat penting untuk membangun peradaban Islam. Karena itu sangat penting membangun sebuah institusi pendidikan Islam yang berkualitas internasional untuk mencapai dua karakter sumber daya manusia tersebut. Di samping itu pendidikan yang berke-Islaman juga berperan untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang maslahat bagi umat.

Ketiga, ekonomi yang berkeislaman sangat diperlukan untuk membangun karakter bisnis yang adil dan menguntungkan bagi semua pihak. Bukan hanya menguasai pasar intemasional, tetapi dengan teknologi dan jiwa yang adil, umat Islam memberikan warna tersendiri bagi perekonomian dunia. Perekonomian yang berjiwa dan berkarakter sehingga menciptakan sistem yang konstruktif. Ide besar KH Mas Mansur sebenarnya telah memberikan kesempatan yang lebih bagi masyarakat Indonesia, utamanya umat Islam, untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam dengan lebih baik.

 Penulis tidak tahu, apakah gagasan "Islam yang Berkemajuan", yang pernah dipraktikkan oleh KHA Dahlan dan juga KH Mas Mansur ini sudah benar-benar dipahami oleh warga Muhammadiyah, utamanya para pemimpinnya?

 lbda'biNafsik!•

 

Menu Terkait