Rabu, 23 Agustus 2017

Keluarga Sakinah

DIHANTUI RASA BERSALAH

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yth., saya seorang ibu (29 tahun) dari 2 orang putra dan putri. Saya adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kini saya sedang magang di salah satu instansi pemerintah dan berharap bisa diterima sebagai PNS. Sebelum menikah suami bekerja di luar pulau. Di sana ia sangat kerasan dan ingin menetap di tempat itu, karena gaji tempat ia bekerja sudah lumayan. Waktu itu, kami sudah beberapa lama berhubungan dan orangtua kami sudah sama-sama tahu. Bahkan suami sudah melamar saya, meski belum secara resmi dengan keluarganya. Dia mengajak saya ke pulau seberang untuk bersama-sama membangun rumah tangga di sana. Tapi saya menolak, karena orangtua keberatan. Orangtua saya ingin agar saya tinggal tidak terlalu jauh dengan keluarga besar.

Suami mengalah, dia keluar dari pekerjaannya dan menikah dengan saya. Sekarang, setelah pernikahan berjalan 5 tahun, suami masih bekerja serabutan. Ia sudah berusaha mulai dari mencoba usaha sendiri yang berakhir dengan kebangkrutan sampai melamar pekerjaan termasuk di perusahaan di mana dulu suami bekerja. Tapi belum berhasil. Sejak kelahiran anak kami yang kedua, keadaan ekonomi keluarga kami masih jauh dari harapan. Saya melihat suami mulai agak putus asa. Melihat keadaan seperti ini, saya menjadi merasa bersalah dan menyesal dengan keputusan saya dulu. Apalagi ketika suami bilang ini semua karena saya tidak mau mengikuti keinginannya. Bu, sekarang perasaan bersalah itu tidak berkurang bahkan malah bertambah. Mengapa dahulu tidak punya prinsip untuk mencapai hidup yang lebih baik. Setelah semua terjadi, mengapa rasa bersalah ini seperti lengket dalam diri saya. Tolong beri saya saran agar bisa keluar dari masalah ini. Jazakumullah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
T, somewhere

Wa’alaikumsalam wr. wb.
T yth., salah satu perasaan yang sering membuat hidup menjadi tidak nyaman adalah rasa bersalah yang berkepanjangan. Pada umumnya, rasa bersalah muncul ketika kita menyadari dan kemudian meyakini bahwa ada sikap, perilaku atau kata-kata yang menyebabkan orang lain dalam keadaan tidak nyaman atau mungkin menderita. Rasa bersalah bisa menjadi sangat mengganggu karena kita mempunyai hubungan yang intens
dengan sumber rasa bersalah kita. Perasaan ini semakin mengganggu ketika kita percaya bahwa apa yang terjadi padanya kitalah penyebabnya.

Kitalah penyebab penderitaan, ketidaknyamanan ataupun sesuatu yang berada di luar diri. Kalau dilihat dari masalah yang T alami, karena T lah suami harus menderita. Sumbernya berawal dari ketika T merasa suami telah membuat keputusan, yang ternyata kemudian salah untuk kembali ke kampung halaman dalam rangka menikahi T. Sebetulnya, dalam kadar normal perasaan bersalah justru dapat berfungsi sebagai rem atau kendali dalam diri untuk tidak semena-mena memperlakukan orang lain, menghormatii orang lain dan mendorong kita untuk mencoba memahami mengapa diri kita bisa beda dengan orang lain. Bila seseorang tidak punya rasa bersalah, maka ketika dia membuat kesalahan ia merasa
dirinya tak bertanggung jawab atas kesalahannya.

Kembali pada masalah T, dalam kasus ini, suami juga punya andil atas terlaksananya pernikahan. Karena suatu pernikahan adalah hasil keputusan bersama. Memang usulan datang dari T, tapi kalau suami tidak mengijinkan dirinya, maka pernikahan tak akan terjadi, bukan? Maka cobalah untuk mengubah keyakinan bahwa keputusan itu tidak mutlak di tangan T, sehingga bukan T satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab untuk menerima resiko dari keputusan menikah di kampung halaman. Fahamilah bahwa hidup ini adalah serangkaian keputusan yang kita ambil dari pilihan-pilihan yang tersedia. Kalau suami ibu belum mendapat pekerjaan tetap, masih banyak orang lain yang bernasib sama.

Untuk selanjutnya, jangan terpaku pada apa yang tak didapat selama hidup di kota asal, hitung juga apa yang Anda nikmati di situ. Misalnya, berada dekat dengan orangtua, T juga bisa tetap bekerja. Yang juga harus dilihat keluarga T termasuk keluarga yang bahagia, meski uang tidak sebanyak kalau suami bekerja di luar pulau. Selanjutnya, biasakan untuk bicara ‘lepas’ dengan suami. Jika suami ingin bernostalgia tentang masa lalunya ketika hidup di perantauan, jadilah pendengar yang baik. Usai bernostalgia ajak suami untuk merancang kehidupan yang akan datang dengan sumberdaya yang ada dan yang memungkinkan untuk bisa dicapai bersama. Makin sering membicarakannya, maka pelanpelan
muatan emosi yang menyertai akan berkurang dan insya Allah akhirnya hilang.

Ketika berinteraksi dengan suami munculkan pengalaman positif yang menyenangkan. Ini akan membantu suami menyadari bahwa meski ada kesenangan yang hilang ketika kembali ke kota asal, ternyata banyak sekali kesenangan lain yang ia dapat, terutama karena punya istri dan anak-anak yang manis dari T.
Semoga T dan keluarga selalu dalam lindungan-Nya. Amin.l

Menu Terkait