Kamis, 29 Juni 2017

Keluarga Sakinah

BENARKAH IA JODOHKU

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Emmy yth, saya gadis (25 tahun) sebentar lagi akan menikah dengan orang yang sangat mencintai saya. Sementara, perasaan saya mengatakan ini merupakan pelarian saja. Karena saya tidak mungkin bisa memiliki dan menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Meski hati ini kurang mantap, dan karena tidak ada alasan lagi yang bisa saya sampaikan pada orangtua untuk menghindari pernikahan, dengan berat hati saya mempersiapkan diri untuk perkawinan ini. Namun, saya masih saja memimpikan dia yang saya cintai juga mencintai saya.

Alangkah kagetnya, di saat saya akan menikah, baru saya mengetahui bahwa ia juga mencintai saya. Dia adalah atasan saya, tempat saya bekerja sebagai PNS, sebut saja A. Usia 48 tahun, lulusan S2, ganteng dan kaya, tapi sudah punya istri dan 2 anak remaja. Sementara calon suami saya B, juga PNS beda instansi, golongan IIC, usia 27 tahun. Dari keluarga yang sangat sederhana.

Yang saat ini membuat saya bingung, A menawarkan untuk menikahi saya setelah saya cerai dari B, karena ia hanya mau saya menjadi miliknya. Semua kebutuhan saya akan ia penuhi seperti rumah, mobil, dan uang. Asalkan saya tidak menuntut untuk terus-menerus berada bersamanya, sebab ia juga tidak akan menceraikan istrinya. Duh, alangkah bingungnya saya memikirkan masa depan. Sudah tepatkah saya menikah dengan orang yang mencintai saya tapi saya tidak mencintainya? Bagaimana dengan kehidupan saya nanti dengan suami yang sama-sama berpenghasilan pas-pasan. Sementara, saya menjadi tulang punggung bagi 3 adik saya yang masih sekolah semua? Apa bisa saya bahagia? Tolong beri saran saya ya, Bu. Karena saya masih membayangkan, betapa bahagianya bila saya menikah dengan A. Tidak usah bekerja keras semua kebutuhan terpenuhi. Tapi saya juga takut dengan cap buruk dari lingkungan atas status perkawinan saya. Atas saran ibu saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Bingung, somewhere

Wa’alaikumsalam wr. wb.
Bingung yang baik. Hidup itu pilihan, termasuk hidup bahagia. Kalau kita memilih untuk hidup bahagia, maka seluruh hati, pikiran dan diri akan kita kerahkan untuk meraih kebahagiaan. Dengan cara mensyukuri apa yang kita miliki sembari mengevaluasi diri bahwa kebahagiaan kita tidak berimbas negatif pada orang lain. Hanya orang egois dan tak pernah menggunakan hati nurani yang sanggup merasa bahagia di atas penderitaan orang lain. Orang itu jauh dari bijaksana. Dan bukankah ini bisa jadi ada pada diri Anda ketika Anda memilih A?

Maka bagaimana kita menjalani hidup juga adalah pilihan. Agar tidak membuat pilihan yang salah, perlu sekali kita memiliki tujuan hidup dan menetapkan norma serta nilai kehidupan yang kita jadikan rambu-rambu, agar tidak melenceng dan tidak pula melakukan hal-hal yang hanya memberikan kesenangan sesaat, tetapi seterusnya justru membuat terpuruk dalam penderitaan. Setiap orang normal pasti senang hidup dengan bergelimang harta. Namun, kebutuhan manusia selalu meningkat. Maka ketika kebutuhan dasar telah terpenuhi seperti makan, minum, sekolah adik-adik, muncullah kebutuhan lain yang mendominasi untuk dipenuhi seperti rasa aman dan diterima oleh lingkungan. Beda dengan kebutuhan dasar, yang saat kita punya uang bisa kita beli, maka penerimaan dan respek lingkungan adalah sesuatu yang terberi dari luar diri. Berapa pun uang Anda bila lingkungan sudah mencap Anda tidak terhormat, maka Anda tidak bisa membelinya. Itu semua hasil dari perbuatan.

Sering kita terkecoh oleh hawa nafsu kita, sehingga kita sulit untuk melihat mana yang lebih baik untuk kita. Sebetulnya, menurut saya masalah Anda tidak rumit, bila Anda mau menempatkan masalah dalam prioritas yang tinggi untuk hidup secara bermartabat, tidak mau mengganggu rumah tangga orang, melukai perasaan sesama perempuan dan memperbanyak rasa takut dan malu pada Allah bila melanggar aturan-Nya.

Masalah rizki, Allah sudah mengatur. Menikah dengan pegawai negeri rendahan, bukan berarti seumur-umur perkawinan Anda miskin. Bila suami dan istri bisa saling mendukung dengan kasih sayang. Bersama-sama menciptakan kehangatan dan kenyamanan dalam rumah tangga, sangat bisa Anda dan suami naik pangkat dan punya uang banyak. Ini berarti miskin bukan harga mati.

Sebaliknya siapa yang bisa menjamin, bila Anda menikah dengan A tasan Anda bisa bahagia. Yang pasti, A adalah sosok suami yang tidak setia dan pemangsa yang tega mengimingimingi perempuan yang baru akan melangkah untuk menikah dengan menjadikan Anda sebagai maaf “istri simpanan”. Banyaklah istighfar dan berbuat baik, lakukan shalat istikharah. Semoga Allah menunjukkan pilihan yang tepat pada Anda. Amiin.l

Menu Terkait